Perbedaan Tahun Baru Islam dan Masehi Ada Pada 3 Hal Ini 

0
116
Perbedaan tahun baru Islam dan Masehi

Perbedaan tahun baru Islam dan Masehi – Momentum pergantian tahun erat kaitannya dengan penggunaan kalender Masehi dalam sistem penanggalan. Faktanya masyarakat Indonesia juga terbiasa menggunakan sistem penanggalan Hijriah, namun tak banyak tahu perbedaan tahun baru islam dan Masehi. Meski sama-sama berlaku di Indonesia, namun terdapat perbedaan mendasar.

Perbedaan Tahun Baru Islam dan Masehi

Di Indonesia, masyarakat mengenal dan memperingati lebih dari satu pergantian tahun. Dua di antaranya yang paling dikenal adalah Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi. 

Meski sama-sama menandai pergantian tahun, terdapat perbedaan tahun baru Islam dan Masehi, antara lain:

1. Perbedaan Sistem Penanggalan

Perbedaan utama antara Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Masehi terletak pada sistem kalender yang menjadi acuan. Tahun Baru Islam berdasarkan pada kalender Hijriah, yaitu sistem penanggalan lunar yang mengacu pada peredaran bulan. Satu tahun Hijriah terdiri dari 12 bulan dengan jumlah hari sekitar 354 atau 355 hari.

Sementara itu, Tahun Baru Masehi menggunakan kalender Masehi atau Gregorian yang berbasis peredaran matahari. Kalender ini memiliki jumlah hari 365 hari dalam setahun, atau 366 hari pada tahun kabisat. 

Lantaran terdapat perbedaan sistem tersebut, tanggal Tahun Baru Islam selalu bergeser lebih awal sekitar 10 hingga 11 hari setiap tahun dari kalender Masehi.

2. Makna dan Waktu Peringatan Tahun Baru Islam dan Masehi

Tahun Baru Islam Sobat peringati setiap tanggal 1 Muharam, yang menjadi bulan pertama dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, pergantian tahun ini memiliki makna spiritual dan historis yang kuat. Tahun Baru Islam tidak sekedar menjadi penanda waktu, tetapi juga momentum untuk merenungkan hijrah, baik secara fisik maupun spiritual sebagaimana ayat:

“Ya Allah Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, [jadikanlah] dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik [rangkaian ibadah] haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Baqarah [2]: 129).

Peringatan Tahun Baru Islam di Indonesia merupakan hari libur. Momen ini sering umat Islam isi dengan kegiatan keagamaan seperti pengajian, doa bersama, serta refleksi diri. Perayaan Tahun Baru Islam umumnya berlangsung dengan suasana yang lebih khidmat dan sederhana daripada perayaan Tahun Baru Masehi.

Perbedaan tahun baru Islam dan Masehi

Perbedaan tahun baru Islam dan Masehi, peringatan t Baru Masehi jatuh pada 1 Januari. Perayaan ini lazim orang gelar sejak malam 31 Desember dengan berbagai kegiatan seperti pesta kembang api, konser, dan perayaan publik. Di Indonesia, 1 Januari juga merupakan hari libur nasional.

Berbeda dengan Tahun Baru Islam yang bernuansa religius, Tahun Baru Masehi lebih bersifat universal dan kultural. Perayaannya cenderung meriah dan menjadi simbol pergantian tahun secara global.

3. Sejarah Penetapan Tahun Baru Islam

Perbedaan tahun baru Islam dan Masehi terletak pada sejarah penetapannya. Sejarah Tahun Baru Islam berawal pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Penetapan kalender Hijriah terjadi setelah muncul kebutuhan akan sistem penanggalan yang jelas untuk keperluan administrasi pemerintahan Islam. 

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal penanggalan lantaran merupakan momen penting dalam perkembangan dakwah Islam sebagaimana hadits:

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram [suci]. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam. [Satu bulan lagi adalah] Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil [akhir] dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)”

Penetapan 1 Januari sebagai awal tahun tidak terlepas dari sejarah Romawi kuno. Awalnya, kalender Romawi hanya terdiri dari sepuluh bulan. Perubahan besar dilakukan ketika Julius Caesar menyempurnakan sistem kalender tersebut dengan bantuan para ahli astronomi.

Secara garis besar, perbedaan Tahun Baru Islam dan Masehi terletak pada sistem penanggalan, latar sejarah, serta cara perayaannya. Meski berbeda, keduanya sama-sama menjadi momen penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY