Pentingnya Menjaga Rahasia Sesama – Dalam keseharian, kita pasti sering saling bercerita dengan sahabat atau rekan tentang orang lain. Sebenarnya, cerita yang kita dapatkan dari orang lain menjadi Amanah bagi kita sehingga kita harus menjaganya. Islam sendiri memerintahkan umatnya untuk bisa menjaga rahasia orang lain.
Pentingnya Menjaga Rahasia Sesama Seperti Menjaga Amanah
Menjaga rahasia sangat penting, seperti halnya menjaga Amanah. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah bersabda:
إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
“Jika seseorang menceritakan suatu peristiwa lalu ia berpaling, maka cerita tersebut menjadi Amanah.” (1)
Jadi, entah benar atau salah, cerita yang sampai ke kita adalah Amanah. Artinya, kita harus merahasiakannya, yaitu tidak boleh menceritakan ke orang lain yang tidak berhak mengetahuinya.
Terlebih kalau cerita itu tidak benar, maka akan menjadi fitnah. Jika fitnah tersebar luas, tentu dampaknya akan sangat besar dan merugikan orang lain. Oleh karena itu, hendaknya kita menjaga rahasia rapat-rapat karena itu adalah Amanah bagi kita.
Perintah Menjaga Rahasia dan Aib Orang Lain


Bagaimana jika cerita yang kita dengar menyangkut aib seseorang atau hal negatif? Meskipun informasi tersebut benar, tapi kita tidak boleh menyebar aib orang lain karena akan membuatnya malu. Itulah kenapa Rasulullah berpesan:
مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa menutup aib saudaranya, Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.” (2)
Jika aib itu berupa maksiat, kita wajib menasehatinya agar berhenti dari maksiat dan bertaubat, tidak perlu mengumbarnya. Apalagi kalau orang tersebut sudah bertaubat, maka harus menjaga harkat dan martabatnya. Pasalnya, mengumbar aib seseorang sama saja dengan mempermalukannya.
Mengumbar Rahasia Orang Lain Adalah Pengkhianatan
Mengumbar rahasia atau aib orang lain, terlebih sesama muslim, termasuk bentuk pengkhianatan terbesar. Meskipun berita tersebut benar adanya, hal ini tetap merupakan pengkhianatan karena sudah menceritakan sesuatu yang tidak seharusnya diceritakan. Begitu pun kalau benar adanya. Rasulullah bersabda:
كَبُرَتْ خِيَانَةً أَنْ تُحَدِّثَ أَخَاكَ حَدِيثًا هُوَ لَكَ بِهِ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ لَهُ بِهِ كَاذِبٌ
“Khianat terbesar ialah saat kamu membicarakan saudaramu sesuatu yang bagimu itu menganggap dirimu jujur, tapi baginya dirimu pembohong.” (3)
Maka, untuk menghindari potensi dosa dari kesalahan-kesalahan dari lidah kita, maka diam adalah pilihan yang lebih baik. Satu lagi, orang yang tidak dapat menjaga rahasia termasuk orang munafik, sebagaimana sabda Nabi:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik ada 3: berbohong jika berbicara, ingkar jika berjanji, khianat jika dipercaya.” (4)
Mudah-mudahan kita termasuk golongan umat muslim yang dapat menjaga rahasia orang lain, agar tidak terjerumus ke dalam dosa fitnah, ghibah, maupun khianat, Aamiin..
Referensi:
(1) Sunan Abi Dawud 4868
(2) Sunan Ibn Majah 2546
(3) Sunan Abi Dawud 4971
(4) Sahih al-Bukhari 6095






























