Menyikapi Isu Ijazah Jokowi – Sobat Cahaya Islam, belakangan ini masyarakat kembali dihebohkan oleh isu mengenai keaslian ijazah Presiden Joko Widodo. Meskipun pihak universitas dan kepolisian telah memberikan klarifikasi, masih saja muncul tudingan dan spekulasi yang memancing polemik di tengah masyarakat. Dalam Islam, bagaimana seharusnya kita menyikapi isu seperti ini?
Menyikapi Isu Ijazah Jokowi dengan Tabayyun


Islam menekankan pentingnya memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya. Allah ﷻ berfirman:
إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti” (1)
Dalam konteks ini, sebagai umat Islam kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan atau menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Tuduhan yang tidak berdasar bisa menjadi fitnah dan berdampak besar bagi individu maupun bangsa.
Jauhi Ghibah dan Fitnah
Sobat Cahaya Islam, Islam sangat melarang perbuatan ghibah (menggunjing) dan fitnah. Nabi ﷺ bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟” قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: “ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” (2)
Jika itu tidak benar, maka termasuk buhtan (fitnah), yang lebih besar dosanya. Maka berhati-hatilah dalam berbicara, apalagi menyangkut nama baik seseorang.
Menjaga Lisan dan Etika Beropini
Islam tidak melarang umatnya untuk berpikir kritis atau menyampaikan pendapat. Namun, harus tetap dalam batas adab dan etika Islami. Berbeda pendapat adalah hal wajar, namun melontarkan tuduhan tanpa bukti atau menyebarkan kebencian adalah perbuatan yang dikecam dalam syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (3)
Doa dan Keteladanan dalam Mengawal Keadilan
Sebagai masyarakat Muslim, kita tidak hanya diam terhadap ketidakadilan. Namun perjuangan menegakkan kebenaran harus ditempuh melalui cara yang sah, adil, dan penuh akhlak. Jika ada pihak yang memiliki bukti, Islam membuka ruang amar ma’ruf nahi munkar, tapi tidak dengan cara yang melanggar prinsip syar’i dan hukum negara.
Sobat Cahaya Islam, isu ijazah Jokowi dan sejenisnya adalah ujian bagi umat dalam menjaga lisan, akhlak, dan adab bermasyarakat. Sebelum berbicara, bertanyalah: apakah ini sudah tabayyun? Apakah ini membangun atau merusak? Sebab, setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban.
وَمَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang siap mencatat.” (4)
Semoga kita menjadi hamba yang senantiasa menjaga lisan, jujur dalam menilai, dan adil dalam menyampaikan.
Referensi:
(1) QS. Al-Ḥujurāt: 6
(2) HR. Muslim no. 2589
(3) HR. Bukhari no. 6018
(4) QS. Qāf: 18

































