Krisis Guru Mengaji di Penjaringan Mulai Teratasi Berkat Bantuan JPZIS NU

0
135
Krisis guru mengaji

Krisis guru mengaji – Di tengah keterbatasan lembaga pendidikan nonformal hadapi, secercah harapan hadir bagi anak-anak di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Krisis guru mengaji yang selama ini membayangi Yayasan Anak Nagari Indonesia kini mulai terurai berkat dukungan Jaringan Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama atau JPZIS NU.

Kolaborasi untuk Atasi Permasalahan Krisis Guru Mengaji

Melalui Program Dai Penggerak Nusantara, bantuan tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak pembinaan keagamaan bagi anak-anak dan remaja. Program ini memperkuat pelaksanaan Pesantren Ramadhan yang digelar selama 16 hari, mulai 1 hingga 16 Ramadhan. 

Kegiatan tersebut menyasar peserta usia 4 hingga 20 tahun, dengan puncak acara berupa buka puasa bersama dan santunan pada 7 Maret 2026. Selama ini, yayasan yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan tersebut alami krisis guru mengaji berlatar belakang pesantren. 

Kehadiran dai penggerak pun menjadi solusi konkret atas persoalan yang telah lama dihadapi.Dukungan JPZIS NU berawal dari diskusi sederhana yang kemudian berkembang menjadi program khusus Ramadhan. Tanpa bantuan pendanaan, yayasan menghadapi dua kendala utama. 

Permasalahan keterbatasan tenaga pengajar kompeten serta minimnya biaya operasional untuk menunjang kegiatan PAUD dan PKBM. Seluruh layanan pendidikan di yayasan ini dapat masyarakat nikmati secara gratis, sehingga keberlangsungan program sangat bergantung pada dukungan eksternal.

Pengajian sengaja dilaksanakan pada sore hari agar anak-anak sekitar bisa ikut serta. Tidak terbatas pada siswa yang terdaftar di PAUD dan PKBM. Konsep ini sifatnya  terbuka dan inklusif agar nilai-nilai keislaman dapat menjangkau lebih banyak kalangan. 

Pihak yayasan menilai lingkungan sekitar masih membutuhkan penguatan pendidikan agama, terutama bagi anak usia dini hingga remaja. Sebab, pada usia tersebut rentan terhadap berbagai pengaruh negatif.

Melalui prinsip perubahan dimulai dari anak-anak, pengurus yayasan meyakini bahwa pemahaman agama yang sederhana namun konsisten akan membawa dampak jangka panjang. Anak-anak yang lebih kritis kelak mampu menjadi agen kebaikan, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Menumbuhkan Semangat dan Karakter Anak

Selain menjawab masalah krisis guru mengaji, program ini juga bertujuan membangun karakter dan semangat belajar peserta. Seusai pengajian, anak-anak menerima takjil sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi agar tetap antusias mengikuti kegiatan. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menjaga kehadiran dan semangat mereka selama Ramadhan.

Dai Penggerak Nusantara yang terlibat mengaku mendapatkan pengalaman berharga saat mendampingi anak-anak belajar membaca Iqra dan memperbaiki dasar-dasar bacaan Al-Qur’an. Meski sebagian peserta, termasuk yang berusia di atas 12 tahun masih perlu pengulangan materi dasar, semangat belajar mereka dinilai sangat tinggi.

Krisis guru mengaji

Salah satu peserta mengungkapkan kegembiraannya karena kini semakin lancar membaca Al-Qur’an dan memahami rukun iman serta rukun Islam. Ia bahkan berharap dapat terus mengikuti kegiatan serupa dan mulai menghafal juz Al-Qur’an. Ke depan, yayasan berharap dukungan dari JPZIS NU tidak berhenti setelah Ramadhan.

Kebutuhan pembinaan agama di wilayah tersebut masih besar agar tidak terjadi krisis guru mengaji. Perlu adanya kolaborasi berkelanjutan diyakini mampu menciptakan perubahan nyata bagi generasi muda Penjaringan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY