Dakwah tauhid Rasulullah merupakan inti mulai dari rasul pertama hingga yang terakhir. Pada dasarnya, berdakwah sesuai apa yang Rasulullah tidak menekankan kepada perbaikan ekonomi atau kekuasaan para penguasa yang zalim. Pokok dari dakwah yakni menekankan pada perbaikan akidah umat dan membersihkan dari dosa syirik.
Makna Dakwah Tauhid Rasulullah
Tauhid merupakan pondasi utama dalam agama Islam. Semua ajaran bermuara pada kemurnian ibadah hanya kepada Allah, sehingga mendakwahkan tauhid merupakan kewajiban besar yang tidak boleh Sobat remehkan. Sangat disayangkan, masih banyak pendakwah yang mengabaikan dakwah tauhid.
Mereka lebih sibuk dengan persoalan lain. Bahkan, orang yang fokus menyerukan tauhid sering dianggap ketinggalan zaman. Ada pula yang menuduh dakwah tauhid sebagai pemecah belah umat. Padahal, inti dakwah para Rasul adalah mengajak umat kembali kepada tauhid.
Penjelasan dakwah tauhid Rasulullah terdapat dalam surah berikut ini:
“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” 1
Dari ayat ini jelas bahwa pengikut sejati Rasul adalah mereka yang mendakwahkan tauhid. Rasulullah SAW juga menjadikan tauhid sebagai seruan pertama dan utama. Dakwah beliau selalu bermuara dari penegakan tauhid dan pengingkaran terhadap syirik. Tauhid yang para nabi serukan termasuk tauhid uluhiyah.
Artinya, ibadah hanya bertujuan kepada Allah semata. Semua bentuk penyembahan selain kepada Allah akan ditolak. Inti dari dakwah tauhid Rasulullah terdiri dari beberapa poin penting, yakni:
1. Tauhid sebagai Poros Perbaikan
Para rasul menyerukan dakwah perbaikan umat dengan memerangi syirik. Syirik adalah bentuk kezaliman terbesar di bumi. Melalui tauhid, perbaikan hakiki umat manusia dapat terwujud. Namun, perjalanan dakwah ini tidak mudah.


Para nabi menghadapi perlawanan keras dari kaumnya. Meski begitu, mereka tetap teguh dalam mengajak kepada tauhid sebagaimana hadits:
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” 2
2. Kuantitas Pengikut Bukan Tolok Ukur
Rasulullah SAW berdakwah selama tiga belas tahun di Mekkah. Dalam masa panjang itu, beliau hanya menyeru kepada tauhid. Tantangan yang beliau hadapi sangat berat. Kaum Quraisy menyiksa pengikut beliau dengan kejam.
Jumlah pengikut Rasulullah pada masa awal sangat sedikit. Namun, hal itu tidak membuat beliau berhenti berdakwah. Keberhasilan dakwah tidak diukur dari banyaknya pengikut. Keberhasilan sejati adalah menyampaikan risalah sesuai syariat. Allah tidak akan menanyakan berapa banyak pengikut yang didapat.
Rasulullah melihat para nabi sebelumnya. Ada nabi dengan sedikit pengikut. Ada pula nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali. Namun, mereka tetap berhasil dalam dakwah. Keberhasilan mereka terletak pada ketaatan menyampaikan risalah, bukan hasil pengikutnya.
3. Kesabaran Para Rasul
Sejarah para rasul menunjukkan betapa besar ujian dakwah tauhid Rasulullah. Mereka menghadapi penentangan, penolakan, dan pengingkaran dari kaumnya. Meski demikian, mereka tidak berhenti berdakwah dengan kesabaran yang luar biasa.
Mereka tetap menyeru kepada tauhid meski mendapat tentangan keras. Bila dibandingkan, ujian Sobat jauh lebih ringan. Pelajaran pentingnya adalah agar Sobat tetap sabar dalam mendakwahkan tauhid. Ujian dan rintangan tidak boleh membuat menyerah. Tauhid adalah inti ajaran Islam dan dasar perbaikan umat. Para nabi dan rasul memulai dakwahnya dengan seruan tauhid.
Jumlah pengikut bukan ukuran keberhasilan dakwah. Keberhasilan dakwah tauhid Rasulullah sesungguhnya adalah menyampaikan dakwah sesuai syariat dengan penuh kesabaran. Oleh karena itu, dakwah tauhid tetap menjadi kewajiban utama setiap dai.
































