Bolehkah Mengkritik Pemerintah, Sedangkan Kita Wajib Menaati Pemimpin?

0
682
Bolehkah Mengkritik Pemerintah

Bolehkah Mengkritik Pemerintah –  Dalam sebuah pemerintahan, pemimpin punya peranan sangat penting. Dengan posisi mulia, ia punya tanggung jawab besar membawa kemaslahatan rakyat. Itulah kenapa setiap warga Negara wajib taat pada pemimpin. Islam juga menjunjung tinggi kedudukan pemimpin. Tapi, di Negara demokrasi seperti Indonesia, masyarakat punya kebebasan untuk menyampaikan pendapat, termasuk mengkritisi pemerintah. Lalu, apakah ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mewajibkan taat pada pemimpin?

Kewajiban Menaati Pemimpin

Dalam Al-Qur’an, Allah dengan tegas berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (1)

Abu Ja’far at-Thabari dalam kitab Jami’ul Bayan menjelaskan bahwa maksud ulil amri dalam ayat di atas adalah pemimpin. Beliau mengutip penjelasan dari Abu Hurairah tentang ayat itu. Tapi, kewajiban taat pada pemimpin berlaku jika tidak bertentangan dengan syariat Islam, sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Tuhfatul Muhtaj.

Kebolehan Mengkritik Pemerintah

Meski menaati pemimpin adalah wajib, Islam tetap menyediakan ruang bagi rakyat untuk mengkritiki pemimpin. Dalam Islam, mengkritik sama dengan memberi nasehat. Bahkan, ini bisa menjadi amar ma’ruf nahi munkar. Dalam hal ini, Allah berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.”  (2)

Sebagai Negara demokrasi, Indonesia sangat terbuka dalam hal kritik terhadap pemerintahan Karena hal ini dapat menjaga kestabilan pemerintah, mencegah pelanggaran konstitusi, dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Maka, kita sebagai warga Negara Indonesia harus memanfaatkan hak menyampaikan pendapat dengan baik dan bijak.

Adab Memberikan Kritik Terhadap Pemimpin/Pemerintahan

Meski sah-sah saja mengkritisi pemerintah, namun Islam telah mengajarkan adab dalam hal ini. Salah satunya adalah firman Allah:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (3)

Ayat di atas mengajarkan kita tentang cara berdialong yang baik, yakni dengan tutur kata yang halus, tidak berkata kasar, dan tidak bertindak kekerasan. Itulah kenapa kebebasan berekspresi harus penuh etika. Selain itu, Allah juga berfirman dalam ayat lain:

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (4)

Ayat di atas mengandung sebuah pelajaran besar. Pasalnya, Allah memerintahkan Nabi Musa (dan Harun) untuk berdialog dengan Fir’ain yang jahat dan angkuh dengan menggunakan cara yang lembut dan halus, bukan kekerasan ataupun kata-kata kasar.

Kesimpulannya, kita boleh menyampaikan kritik kepada pemerintahan selama menggunakan cara yang baik. Maka, sangat disayangkan jika di era saat ini masih saja ada oknum yang mengkritik pemerintah dengan kekerasan atau malah menjelek-jelekkannya. Wallahu a’lam.


Referensi:

(1) Q.S. An-Nisa: 59

(2) Q.S. Ali Imran: 104

(3) Q.S. An-Nahl: 125

(4) Q.S. Thaha 44

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY