Bahaya rasa malu hilang dan meluasnya fitnah – Sobat Cahaya Islam, di tengah gempuran informasi dan perubahan zaman yang begitu cepat, kita sering menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan. Fenomena tersebut yaitu rasa malu hilang dan meluasnya fitnah.
Apa yang dulunya kita anggap tabu kini menjadi lumrah, bahkan seringkali mereka sebarluaskan tanpa filter di berbagai platform. Batas-batas moral semakin kabur, dan dampaknya terlihat jelas dalam kehidupan sosial kita.
Sebagai seorang Muslim, kita mendapat ajaran untuk senantiasa menjaga rasa malu sebagai mahkota kemuliaan. Rasulullah SAW bahkan menempatkan rasa malu sebagai bagian dari iman. Namun, ketika nilai ini terkikis, pintu-pintu fitnah pun terbuka lebar, merusak tatanan masyarakat dan mengikis nilai-nilai luhur Islam.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai bahaya rasa malu hilang dan meluasnya fitnah, serta bagaimana Islam menekankan pentingnya menjaga al-haya’ (rasa malu) sebagai benteng moral dan keimanan.
Bahaya Rasa Malu Hilang dan Meluasnya Fitnah di Akhir Zaman
Dalam Islam rasa malu bukanlah kelemahan, khususnya bagi perempuan bisa jadi sebuah perisai, bahkan kekuatan bagi seorang Muslim. Ia adalah salah satu cabang keimanan yang akan membimbing seseorang pada kebaikan dan menjauhkannya dari kemaksiatan. Rasulullah SAW bersabda:
“Iman itu ada tujuh puluh cabang atau enam puluh sekian cabang. Sebaik-baik cabang iman adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan serendah-rendahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.” 1
Hadis ini secara gamblang menunjukkan betapa tingginya kedudukan rasa malu dalam Islam. Berikut adalah poin-poin mengenai dampak hilangnya rasa malu dan kaitannya dengan fitnah:
1. Rasa Malu sebagai Benteng Akhlak
Rasa malu adalah rem yang mencegah seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Ketika seseorang memiliki rasa malu, secara otomatis akan berpikir ulang sebelum melakukan perbuatan yang jadi Allah atau melanggar norma sosial. Hilangnya rasa malu membuka gerbang pada perilaku tanpa batas.
2. Penyebab Meluasnya Perbuatan Keji
Ketika seseorang tidak lagi memiliki rasa malu, ia tidak akan peduli dengan pandangan Allah atau manusia. Hal ini akan mendorongnya untuk melakukan dosa secara terang-terangan, bahkan membanggakannya. Contohnya adalah penyebaran konten-konten tidak senonoh, pengungkapan aib pribadi atau orang lain, hingga pergaulan bebas yang semakin marak.
3. Fitnah sebagai Konsekuensi Hilangnya Malu
Fitnah adalah segala bentuk kekacauan, ujian, cobaan, atau bahkan penyebaran kabar bohong yang bertujuan menjatuhkan. Orang tidak lagi merasa malu untuk menyebarkan berita yang belum tentu benar atau bahkan bertujuan merusak reputasi orang lain. Ini dapat menciptakan kekacauan dan perpecahan di tengah masyarakat. Allah SWT berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِي الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۗ
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” 2


Ayat ini menjadi peringatan keras bagi mereka yang senang menyebarkan kabar atau perbuatan keji, yang seringkali merupakan bentuk fitnah.
4. Malu yang Menjadi Larangan dalam Islam
Meski malu itu penting tapi bukan berarti semua malu itu baik. Ada malu yang dilarang dalam Islam, yaitu malu yang menghalangi seseorang untuk melakukan kebaikan, berkata benar, atau menuntut hak.
Contohnya adalah malu bertanya tentang ilmu agama, malu menasihati dalam kebenaran, atau malu mencari rezeki halal. Malu jenis ini adalah kelemahan yang menghambat kemajuan.
Sobat Cahaya Islam, menjaga rasa malu hilang dan meluasnya fitnah merupakan tanggung jawab kita bersama. Sebagai Muslim, kita harus senantiasa memupuk dan melestarikan rasa malu dalam diri, serta menjauh dari segala bentuk fitnah dan kemaksiatan.































