Menegur dengan Hati, Membimbing ke Jalan Ilahi

1
287
menegur dengan Hati Tulus

Menegur dengan Hati – Sobat Cahaya Islam, dalam kehidupan ini, kita semua pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Namun, bukan berarti kesalahan itu dibiarkan begitu saja. Islam mengajarkan kita untuk saling menasihati dalam kebaikan dan mencegah keburukan.

Menasehati dalam Kebenaran dan Kesabaran

Sebagai umat muslim, kita harus saling menasehati. Tentunya dalam konteks kebenaran dan juga kesabaran. Tiap orang mungkin punya cara tersendiri untuk menasehati orang lain. Tapi, yang terpenting adalah menegurnya dengan hati, yakni dengan tulus Ikhlas, sebagaimana firman Allah:

وَتَوَاصَوْا بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِٱلصَّبْرِ

“Dan mereka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (1)

Menegur orang yang salah adalah bentuk kasih sayang, bukan ajang pelampiasan amarah. Nabi ﷺ tidak pernah mencela orang yang berbuat salah dengan kata-kata kasar. Beliau selalu mengedepankan kelembutan dan empati.

Teladan Rasulullah dalam Menegur Orang Lain

Semasa hidup Rasulullah, tak jarang beliau menegur Masyarakat Arab yang saat itu berperilaku tidak sesuai dengan syariat Islam. Cara beliau memberikan teguran pun sangat beradab, tanpa melukai perasaan orang yang beliau tegur.

Suatu ketika, seorang Arab badui kencing di masjid. Para sahabat marah dan hendak memukulnya. Namun Nabi ﷺ melarang mereka dan berkata:

دَعُوهُ، وَصُبُّوا عَلَى بَوْلِهِ دَلْوًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

“Biarkan dia, dan siramlah kencingnya dengan satu ember air. Kalian diutus untuk memudahkan, bukan untuk mempersulit.” (2)

Peristiwa ini memberi pelajaran besar bahwa kesabaran dan kelembutan dapat membuka pintu hidayah, hingga akhirnya orang tersebut masuk Islam. Bayangkan jika Nabi ﷺ bertindak kasar, mungkin si Badui tidak akan pernah mengenal Islam.

Menegur dengan Hati Adalah Mengajak, Bukan Menghakimi

Menegur dengan hati berarti kita hadir bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengajak. Sebab orang yang sedang melakukan kesalahan umumnya sedang jauh dari cahaya petunjuk. Maka hadirnya nasihat yang lembut akan menjadi lentera di tengah kegelapan.

Allah pun memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk menasihati Fir’aun dengan lembut:

فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (3)

Jika kepada Fir’aun saja harus lemah lembut, apalagi terhadap saudara kita sendiri yang masih punya iman. Maka jangan pernah merendahkan orang yang sedang salah, karena bisa jadi hari ini ia salah, tapi esok hari ia menjadi lebih baik dari kita.

Menegur dengan hati juga menuntut kita memahami kondisi orang yang dinasihati. Jangan langsung menghakimi tanpa tahu latar belakangnya. Dengarkan terlebih dahulu, lalu sampaikan kebenaran dengan cinta.

Sebab nasihat yang menyentuh hati bukan hanya soal isi, tapi juga cara menyampaikannya. Mari kita tegur saudara kita yang berbuat salah, dengan cara yang baik tanpa menyakiti perasaannya.


Referensi:

(1) QS. Al-‘Ashr: 3

(2) HR. Bukhari no. 6128

(3) QS. Ṭāhā: 44

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY