Ngalap Berkah ke Kyai, Benarkah Bid’ah dan Syirik?

0
688
Ngalap Berkah ke Kyai

Ngalap Berkah ke Kyai – Banyak umat muslim yang suka ngalap berkah (tabarruk) ke kyai atau guru-guru agama mereka. Sayangnya, ada kelompok tertentu yang menganggap hal itu sebagai perbuatan bid’ah bahkan syirik. Lantas, bagaimana sebenarnya hukumnya? Dan apakah ada dalilnya?

Tabaruk di Zaman Nabi dan Sahabat

Banyak praktik tabarruk yang sahabat lakukan dan Rasulullah menyetujuinya. Bahkan, umat-umat sebelum Rasulullah pun melakukannya. Sebut saja Nabi Yusuf yang menitipkan gamisnya ke saudara-saudaranya dan menyuruh mengusapkan ke wajah ayahnya yang tak lain adalah Nabi Ya’kub yang sudah kehilangan penglihatannya. Atas izin Allah, gamis itu dapat menyembuhkan penglihatan Nabi Yusuf.

Di zaman Rasulullah, ada sahabat yang melakukan tabarruk dengan rambut, liur, keringat, ataupun barang-barang yang pernah Nabi sentuh seperti minuman. Intinya, praktik tabarruk bukanlah hal baru sehingga bukan termasuk bid’ah. Begitu pun hukumnya, tentu saja boleh karena Rasulullah tidak pernah melarangnya.

Ngalap Berkah ke Kyai, Apakah Sama dengan Tabarruk ke Rasulullah?

Ada sebuah hadits yang menjelaskan kebolehan bertabarruk kepada orang yang lebih berilmu:

البَرَكَة مِنَ الأَكَابِرِ

“Keberkahan datang dari orang-orang yang lebih tua (lebih berilmu).” (1)

Makna ‘lebih tua’ pada hadits tersebut bukan-lah dalam arti umur, namun lebih ahli atau lebih mumpuni dari segi ilmu. Dalam hal ini, para kyai yang mengajarkan ilmu agama Islam ke santri-santrinya tentu saja termasuk orang ‘alim dan sholih yang mengikuti sunnah Nabi. Maka, bukan sesuatu yang musyrik, bid’ah, atau haram jika kita bertabarruk ke para kyai.

Meski begitu, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa kita tidak bisa menyamakan tabarruk para sahabat ke Rasulullah dengan tabarruk santri ke kyai. Tentu saja, tujuannya untuk lebih berhati-hati dan menghindari perbuatan yang melampaui batas (ghuluw). Namun jika kita bisa menepis kekhawatiran tersebut, maka bertabarruk ke kyai orang-orang alim dan sholih seperti kyai adalah hal yang boleh.

Kenapa Boleh Bertabarruk ke Kyai?

Tentu saja, alasannya karena para kyai adalah ulama’ dan para ulama merupakan orang-orang yang mewarisi Nabi. Bukan berupa harta benda, tapi mereka mewarisi ilmu-ilmu yang telah Rasulullah ajarkan. Rasulullah sendiri pernah bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tapi mereka mewariskna ilmu. Barangsiapa mengambil warisan itu, ia telah mengambil bagian yang banyak.” (2)

Tidak berlebihan jika kita menyebut bahwa sebaik-baik warisan adalah ilmu. Maka, kita harus menghormati ilmu dan orang yang berilmu, termasuk para kyai. Tabarruk ke kyai sama saja menghormati dan memuliakan orang sholih.

Jadi, selain mendapatkan pahala, kita juga bisa berharap mendapatkan keberkahan dari para kyai atau orang-orang sholih di sekitar kita. Wallahu a’lam.


Referensi:

(1) Al-Kamil fi Dhuafair Rijal (3/374)

(2) Sunan Abi Dawud 3641

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY