Perintah Menutupi Aib – Setiap orang pasti punya aib, baik itu berupa kekurangan seperti cacat fisik, maupun kesalahan di masa lalu. Dalam Islam, kita tidak boleh mengumbar aib. Bahkan, Rasulullah memerintahkan untuk menutupinya, baik aib diri sendiri maupun orang lain. Lalu, apakah hal itu juga berarti merupakan kebolehan berbohong? Padahal di sisi lain, Islam sangat melarang umatnya untuk berbohong.
Perintah Menutupi Aib dan Keutamaannya
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk menutupi aib orang lain. Dengan begitu, Allah akan menutupi aibnya, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat.
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا, سَتَرَهُ اَللَّهُ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barangsiapa menutupi aib seseorang, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia & akhirat.” (1)
Sayangnya, banyak orang yang justru mengumbar aib orang lain. Salah satunya adalah dengan ghibah. Bahkan, tak jarang seseorang mengumbar aibnya sendiri melalui media sosial di mana siapapun bisa mengaksesnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita menjauhi ghibah dan lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Macam-macam Aib
Secara bahasa, aib artinya keliru, salah, noda, cela, atau malu. Atau, kita juga bisa mengartikannya sebagai kekurangan atau cacat. Orang yang memiliki aib, maka sebutannya adalah ma’ib.
Menurut jenisnya, ada 2 macam aib. Yang pertama adalah aib khalqiyah yang sifatnya kodrati. Misalnya adalah cacat fisik atau penyakit tertentu yang membuat seseorang malu jika ada orang lain yang mengetahuinya.
Kemudian, yang kedua adalah aib khuluqiyah, yakni berkaitan dengan perilaku seseorang. Tentu saja, perilaku yang dimaksud adalah maksiat atau perbuatan dosa, baik itu terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Pada dasarnya, semua perbuatan buruk akan menimbulkan rasa malu ketika orang lain mengetahuinya. Artinya, perbuatan dosa atau maksiat termasuk aib.
Apakah Menutupi Aib Sama dengan Berbohong?
Menutupi aib artinya menutupi kekurangan orang lain atau menutupi keburukan orang lain di masa lalu. Jadi, jika seseorang pernah berbuat maksiat kemudian bertaubat, maka kita sebagai umat Islam harus menutupi aibnya. Artinya, kita tidak boleh mengungkit-ungkit aib orang lain di mana orang tersebut sudah bertaubat, dengan tidak mengulanginya lagi.
Meski Islam melarang keras kebohongan, nyatanya ada juga kebohongan yang diperbolehkan seperti tidak memberitahukan aib orang lain. Imam Muhammad As-Safariny menjelaskan, kebolehan berbohong untuk tidak mengumbar aib dianalogikan dengan menyembunyikan harta seseorang dari kedzoliman.
Namun, beda cerita jika hal itu berkaitan dengan hukum yang memang membutuhkan kesaksian dalam kasus kejahatan seperti pencurian, pembunuhan, perzinaan, dan lain sebagainya. Maka dalam hal ini, kita harus mengungkapkan kebenaran meski dengan menceritakan kesalahan orang lain karena ini berkaitan dengan keadilan. Oleh sebab itu, kita harus bijak dan paham kapan kita harus menyembunyikan atau mengungkapkan kesalahan orang lain.
Referensi:
(1) Sunan Ibn Majah 2544

































