Bagaimana Hukum Apabila Memperingati Maulid Nabi?

0
836
memperingati maulid nabi

Memperingati maulid nabi – Banyak daerah di Indonesia yang secara rutin memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Bahkan tidak sedikit orang yang membuat acara tersendiri dalam rangka merayakan maulid Nabi Muhammad. Hal itu karena maulid Nabi Muhammad merupakan momen peringatan hari lahir Rasulullah SAW.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW jatuh pada 12 Rabiul Awal. Kendati demikian, ternyata ada pandangan dan hukum tersendiri dari memperingati ataupun merayakan maulid Nabi. Bagaimana hukumnya? Sobat Cahaya Islam perlu melihat informasi selengkapnya berikut ini.

Hukum Merayakan dan Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Rabiul Awal adalah bulan kelahiran Rasulullah SAW yang penuh dengan berkah. Allah SWT pun mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat untuk alam semesta. Arti dari rahmat itu adalah karunia dari Allah SWT.

Karena itu, Rasulullah SAW merupakan sosok teladan yang membuat banyak umat islam turut berbahagia sekaligus memperingati kelahirannya. Itulah mengapa semua umat islam terutama di Indonesia ramai-ramai memperingati maulid nabi Muhammad SAW.

Sekedar informasi, dalam bahasa Arab, kata maulid mengandung arti tempat kelahiran, kelahiran, ataupun waktu kelahiran. Adapun peringatan maulid nabi sendiri sejatinya perkara ijtihadiyah. Peringatan tersebut pun tak ada kewajiban namun tidak terdapat larangan dalam melaksanakan.

Walaupun begitu, menurut pandangan beberapa ulama, ada sejumlah ketentuan yang harus umat islam pahami saat melaksanakan maulid Nabi Muhammad. Ketentuan tersebut berupa:

1.       Boleh Selama Tidak Bercampur Bid’ah

Maulid Nabi hendaknya tidak tercampur dengan perkara khufarat, bi’dah, atau tahayul. Sebagai contoh, saat melaksanakan maulid Nabi ada anggapan yang menyebut bahwa ruh Nabi Muhammad SAW. Praktik tersebut mengartikan sudah tercampur keyakinan yang tak sesuai dengan ajaran islam.

memperingati maulid nabi

Oleh karena itu, sebaiknya praktik seperti ini tidak umat islam lakukan. Apabila Sobat Cahaya Islam menemukan salah satu unsur tersebut dalam maulid nabi, maka segera tinggalkan hal itu. Nabi Muhammad SAW bersabda:

 مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718).

2.       Tak Memuji Nabi Berlebihan

Dalam memperingati maulid nabi, penting bagi umat islam untuk tidak memuji Rasulullah secara berlebihan, apalagi sampai mengkultuskannya. Pasalnya tidak jarang banyak syair shalawat yang isinya berlebihan dalam memuji Nabi Muhammad. Bahkan ada juga isi shalawat mendekati pengkultusan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Misalnya pembacaan wirid atau bacaan sejenis yang tak jelas sumber maupun dalilnya. Nabi Muhammad pun sudah menyatakan dalam hadits yakni:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ‘‘Abdullah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’”(HR. Al-Bukhari no. 3445) 

3.       Memiliki Nilai Kemaslahatan

Dalam peringatan maulid Nabi, hendaknya terdapat nilai kemaslahatan. Maksudnya, dalam peringatan tersebut harus memahami di dalamnya terdapat kemaslahatan atau tidak. Selain itu, Sobat juga perlu mengusahakan agar peringatan itu membawa dampak positif untuk masyarakat.

memperingati maulid nabi

Hal itu bisa dilakukan seperti dengan menyelenggarakan pengajian atau acara islami bernilai positif lainnya. Kegiatan lain bisa juga berupa pembawaan materi cerita perjuangan dalam dakwah serta akhlak Nabi Muhammad SAW. Besar harapan, kegiatan seperti itu membuat masyarakat tercerahkan sekaligus terinspirasi dengan sosok Nabi Muhammad.

Allah pun menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan sebaik-baiknya suri teladan bagi umat manusia dalam firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [QS. al-Ahzab (33): 21]

Sobat Cahaya Islam, itulah hukum bagi orang yang memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Niatkan peringatan tersebut karena Allah SWT semata untuk mendapat keberkahan dan pahala besar. 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY