Mitos kesialan dalam islam dipercaya bisa berbentuk berbagai hal. Mulai dari orang, barang, sampai angka tertentu.
Contohnya saja, Sobat Cahaya Islam masih sering melihat banyak lift di pusat perbelanjaan atau hotel tidak mau menggunakan nomor tertentu untuk penanda lantainya.
Mitos Kesialan dalam Islam
Sebagian masyarakat masih percaya ada tanggal baik dan tanggal buruk. Berikut ini beberapa Mitos kesialan dalam islam antara lain:
1. Tanggal yang Baik dan Buruk
Tanggal baik akan dipilih untuk waktu penyelenggaraan pernikahan, khitanan, serta acara besar lainnya.
Namun sebaliknya, tanggal buruk tidak akan terpilih. Hal ini karena khawatir bisa mendatangkan malapetaka bagi acara yang diselenggarakan.
2. Sial Karena Manusia
Bahkan, orang bisa dicap sebagai pembawa sial. Misalnya syahdan, ada seorang wanita yang menikah dengan teman sekerjanya. Setelah ia berkeluarga, mereka seringkali mengalami cobaan, seperti bencana, sakit, kerugian, dan kecelakaan.
Kejadian buruk tersebut sudah terjadi sebelum keduanya menikah. Hanya, suami dan keluarganya berprasangka bahwa istrinyalah yabg pembawa sial. Jiwa sang istri ini tertekan karena adanya prasangka tersebut.
3. Tradisi Kaum Jahiliyah
Sial artinya tidak mujur dan segala usahanya selalu tidak berhasil (seperti sukar mendapat rezeki, sukar mendapat jodoh). Sesuatu yang membawa ketidakmujuran atau pertanda buruk merupakan pembawa sial.
Mufti Agung Al Azhar Mesir Prof Dr Ali Jum’ah Muhammad mengatakan, anggapan adanya pertanda buruk pada sesuatu merupakan salah satu tradisi kaum jahiliyah. Tradisi ini terlarang di dalam Islam.
Tidak kurang, Firaun dan pengikutnya pernah menuding Musa sebagai pembawa sial. Tudingan itu beliau sampaikan saat Allah mencabut kebaikan berupa kesuburan, kelapangan, dan kesehatan.
Saat itu, Mesir mengalami musim kemarau yang panjang. Paceklik terjadi dan tumbuh-tumbuhan tidak mau menghasilkan pangan. Padahal, dahulu mereka telah hidup dalam kemakmuran.
Firaun lantas harus menuduh musibah itu disebabkan Musa. Allah juga berfirman bahwa
“Kesialan yang mereka alami merupakan ketetapan dari Allah. Sedangkan, banyak sekali di antara mereka yang tidak mengetahui” 1
4. Datangnya Burung Malam Pertanda Sial
Pada zaman jahiliyah, masyarakat Mekah menganggap datangnya burung malam atau burung hantu sebagai penanda sial. Sebagian orang berkeyakinan jika rumahnya ada burung tersebut, maka salah seorang dari penghuninya yang akan wafat.


5. Bulan Safar Sial
Pada masa Rasulullah SAW hidup, ada sebagian orang yang berkeyakinan bahwa bulan Safar juga sebagai bulan kedua tahun Hijriyah yaitu bulan sial dan penuh bala. Acara bepergian dan aktivitas sering batal karena mitos ini.
Mitos ini juga terjadi bahwa pada Rabu terakhir dibulan Safar, diturunkan 320 ribu bala. Bahkan, ada yang telah menyebarkan hadits palsu tentang bulan Shafar, yakni,
“Barang siapa yang bergembira dengan keluarnya bulan Shafar maka aku akan berikan kabar gembira dengan surga“.
Rasulullah pernah bersabda tentang adanya kesialan pada tiga hal. Hanya, hadis itu harus ditempatkan pada konteksnya.
“Tidak ada penularan penyakit dan tidak ada ramalan sial, tapi terdapat kesialan pada tiga: kuda, perempuan, dan rumah.” 2
Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa maksud kesialan di sini adalah kesialan yang dapat mendatangkan permusuhan dan bencana. Bukan anggapan sebagian orang yang meyakini bahwa ketiga hal tersebut bisa membawa sial.
Dari penjelasan tersebut, mitos kesialan dalam islam sangat dilarang. Sebab, segala sesuatu berjalan sesuai dengan kekuasaan Allah. Nomor, barang, atau istri seseorang tidak mungkin mendatangkan kebaikan atau keburukan bagi seseorang.
































