Hukum Mempercayai Ramalan Cuaca – Islam melarang keras umatnya percaya pada ramalan-ramalan yang berasal dari manusia. Pasalnya, hanya Allah yang tahu pasti apa yang akan terjadi besok dan kapan waktu spesifik kejadiannya. Masalahnya, saat ini setiap hari beredar berita tentang prediksi atau ramalan cuaca dari BMKG.
Hampir Sebagian besar prediksi BMKG adalah akurat dan banyak juga yang mempercayainya, termasuk umat muslim. Lalu, apakah percaya pada ramalan cuaca seperti itu termasuk kategori syirik dan berdosa?
Larangan Mempercayai Peramal
Dalam Masyarakat, istilah peramal identik dengan dukun. Sebagian orang menyebutnya sebagai “orang pintar”. Mereka menganggap dukun punya kemampuan yang membuatnya bisa meramal apa yang akan terjadi di masa depan atau mengetahui hal-hal ghaib.
Dalam hal ini, Islam jelas melarang kita sebagai umat muslim untuk percaya pada mereka. Sebagaimana hadits Nabi:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ
“Barangsiapa mendatangi dukun (peramal) dan mempercayai ucapannya, sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.” (1)
Salah satu contoh perkara ghaib adalah hari Kiamat. Maka, jika ada orang yang mengatakan bahwa dia mengetahui kapan datangnya hari kiamat, maka sudah pasti ia berdusta. Apalagi jika ada yang mempercayainya, maka dia telah kufur.
Perbedaan Prediksi Cuaca dengan Ramalan Ghaib


Bagaimana dengan ramalan cuaca? Sebenarnya, kata “ramalan” inilah yang membuat banyak orang me-nyalah arti-kannya. Padahal, maksudnya adalah prediksi yang sumbernya berdasarkan penelitian-penelitian ilmiah.
Jadi, prediksi cuaca merupakan hasil analisis ilmiah terhadap data atmosfer seperti pergerakan angin, kelembaban, tekanan udara, suhu, dan citra satelit & radar. Yang melakukan juga adalah ahli meteorologi menggunakan alat-alat modern serta rumus matematika, bukan berdasar keyakinan mistik.
Di sisi lain, ramalan ghaib umumnya merupakan klaim untuk mengetahui masa depan dengan kepastian, Nasib seseorang, hal-hal yang terjadi tanpa dasar ilmiah, atau berkaitan dengan ilmu perdukunan dan zodiak.
Allah menegaskan:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (2)
Hukum Mempercayai Ramalan Cuaca dari BMKG
Kesimpulannya, boleh-boleh saja kita percaya pada ramalan cuaca, selama kita yakin bahwa itu berdasarkan ilmu dan observasi, bukan berkaitan dengan takhayul atau hal-hal ghaib. Pasalnya, ramalan cuaca modern dilakukan dengan teknologi seperti satelit, radar, dan model matematika. Ini merupakan hasil analisis ilmiah terhadap data-data alam seperti tekanan udara, suhu, kelembaban, dan arah angin.
Jadi, mempercayainya dalam batas usaha manusiawi (zanni), bukan keyakinan pasti, tidak bertentangan dengan akidah Islam. Yang tidak boleh adalah kita percaya ramalan cuaca tersebut pasti 100% terjadi karena.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
“Sesungguhnya hanya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan.” (3)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa turunnya hujan adalah bagian dari perkara ghaib yang tidak diketahui secara pasti oleh siapa pun, kecuali setelah Allah menurunkannya. Namun, tanda-tandanya bisa kita kenali, seperti mendung dan angin, dan itulah yang diamati oleh ahli cuaca.
Referensi:
(1) H.R. Ahmad no. 9532
(2) QS. An-Naml: 65
(3) QS. Luqman: 34































