Malas ibadah di era disrupsi – Sobat Cahaya Islam, perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang sangat cepat membawa banyak kemudahan dalam kehidupan. Namun, kemajuan tersebut ternyata juga menimbulkan tantangan baru dalam menjaga keistiqamahan beribadah. Salah satu fenomena yang semakin terasa adalah malas ibadah di era disrupsi.
Banyak orang muncul sebagai pemilik gaya hidup sibuk, cepat, dan instan, tetapi kehilangan perhatian terhadap kewajiban spiritual. Karena itu, penting untuk memahami apa saja penyebab malas ibadah di era disrupsi serta bagaimana cara mengatasinya.
Teknologi Mengalihkan Fokus Menjadi Penyebab Malas Ibadah di Era Disrupsi
Kemajuan teknologi menghadirkan berbagai platform digital yang sangat menarik perhatian. Media sosial, game online, streaming hiburan, hingga algoritma yang terus menawarkan konten baru membuat banyak orang lupa waktu. Akibatnya, rasa malas beribadah muncul dan menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Hal ini menunjukkan salah satu bentuk malas ibadah yang sering terjadi tanpa sadar.
Allah SWT mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
Jika harta dan keluarga saja bisa melalaikan, apalagi gawai dan teknologi yang selalu menggoda setiap detik.
Budaya Serba Cepat dan Kurangnya Tadabbur Hati
Transisi berikutnya, masyarakat modern terlatih untuk serba cepat dan instan. Pola pikir ini membuat ibadah terasa “terlalu lama” atau “tidak produktif”. Padahal ibadah merupakan kebutuhan jiwa, bukan aktivitas yang boleh disingkirkan. Inilah salah satu penyebab malas ibadah yang sangat mempengaruhi kualitas keimanan.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ
Artinya: “Sesungguhnya agama ini mudah.” (HR. Bukhari No. 39)
Islam tidak memberatkan, namun manusia yang sering membebani dirinya dengan ambisi dunia hingga lupa pada ketenangan ibadah.
Hedonisme dan Pola Hidup Digital
Sobat Cahaya Islam, gaya hidup konsumtif yang terus didorong oleh media sosial membuat banyak orang mengejar tren dan hiburan tanpa henti. Kegiatan tersebut menguras waktu, energi, dan bahkan hati—yang akhirnya menimbulkan malas ibadah. Ketika kesenangan dunia mendominasi pikiran, ibadah terasa kalah menarik.
Allah berfirman:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (QS. At-Takatsur: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa kesibukan mengejar dunia bisa menjauhkan manusia dari akhirat.
Minimnya Lingkungan yang Menguatkan Iman
Lingkungan digital dan pergaulan modern cenderung tidak mendukung aktivitas ibadah. Banyak komunitas online yang fokus pada hiburan dan hal-hal duniawi, bukan pada penguatan ruhani. Jika seseorang tidak memiliki lingkungan yang mengingatkan pada Allah, maka ia mudah terjerumus ke dalam malas ibadah di era disrupsi.


Rasulullah SAW bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ
Artinya: “Seseorang mengikuti agama (kebiasaan) sahabat dekatnya.” (HR. Abu Dawud No. 4833)
Karena itu, siapa teman kita, termasuk teman digital, akan menentukan arah iman kita.
Kesibukan yang Tidak Seimbang
Transisi lainnya, kesibukan belajar, bekerja, atau mengurus usaha sering dijadikan alasan untuk meninggalkan ibadah. Padahal Islam tidak pernah meminta manusia meninggalkan dunia, tetapi mengatur keseimbangan agar keduanya tidak saling meniadakan. Ketidakseimbangan inilah yang menjadi salah satu bentuk malas ibadah di era disrupsi yang perlu diperbaiki.
Allah SWT berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
Artinya: “Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Ketika seseorang mengingat Allah di tengah kesibukan, maka Allah akan menolong dan memudahkan urusannya.
Cara Mengatasi Malas Ibadah di Era Disrupsi
Untuk melawan malas ibadah di era disrupsi, Sobat Cahaya Islam dapat melakukan beberapa langkah berikut:
- Mengatur waktu ibadah dengan disiplin, terutama sholat lima waktu.
- Mengurangi konsumsi media digital yang tidak bermanfaat.
- Mengikuti kajian online yang kredibel sebagai penyeimbang.
- Mencari teman atau komunitas yang mengajak pada kebaikan.
- Merenungkan kematian dan hakikat kehidupan dunia.
Rasulullah SAW berpesan:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ
Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi No. 2307)
Salah saru cara efektif untuk meningkatkan kesadaran akan kehidupan akhirat adalah dengan menghadirkan kematian dalam ingatan akan menguatkan tekad untuk beribadah.
Sobat Cahaya Islam, malas ibadah di era disrupsi adalah tantangan besar bagi umat Islam. Namun, tantangan ini bisa kita hadapi dengan menguatkan iman, memperbaiki manajemen waktu, dan menjadikan teknologi sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya. Semoga kita semua menjadi hamba yang selalu menjaga ibadah meski di tengah disrupsi zaman.































