Bahaya Menjadikan Islam Simbol Belaka, Ini Cara Menghindarinya

0
285
bahaya menjadikan Islam simbol belaka

Bahaya menjadikan Islam simbol belaka – Salah satu bahaya menjadikan Islam simbol belaka yaitu memahami dan mempraktikkan Islam hanya sebatas lahiriah saja. Hanya menjadikan Islam sebagai simbol menyebabkan Sobat tidak menghayati nilai-nilai spiritual atau ajaran moral yang ada di dalamnya. Padahal, esensi ajaran Islam tidak hanya berfokus pada ritual saja.

Ini Bahaya Menjadikan Islam Simbol Belaka

Saat perang Uhud terjadi, Rasulullah diserang dan pasukan pengaman khusus tidak menuruti perintah untuk tidak turun dari posisi mereka. Akibatnya, pasukan dari arah belakang menyerang balik pasukan pemanah yang turun dari bukit. Pasukan musuh berhasil menyerang Rasulullah. 

Muncul kabar bohong jika Rasulullah terbunuh. Perlu Sobat cermati bagaimana kondisi umat Islam pada saat mendengar kabar Rasulullah wafat. Alih-alih luntur nilai-nilai keislaman, pada saat itu justru keimanan para sahabat semakin kuat untuk tidak kembali pada kekufuran.

Hal ini menjadi contoh bahwa Islam bukanlah agama simbol, melainkan agama berdasarkan keyakinan dan keimanan. Justru, kabar tidak benar tentang wafatnya Rasulullah merupakan ujian keimanan muslimin sebagaimana ayat:

“Tidaklah Muhammad itu kecuali seorang rasul yang telah yang telah didahului oleh rasul-rasul terdahulu, jika ia mati atau terbunuh apakah kalian akan membalikkan punggung kalian (kembali dalam kekafiran)? Tidaklah hal itu membahayakan Allah sedikitpun, dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur” 1

Bahaya menjadikan Islam simbol belaka tak perlu Sobat risaukan karena Islam lebih mendahulukan nilai-nilai keyakinan. Simbol-simbol agama tidak akan mempengaruhi keimanan. 

Cara Menghindari Menjadikan Islam hanya Simbol

Jika Sobat hanya memahami Islam sebagai simbol, maka terjadi potensi penyimpangan dari ajaran Islam. Islam simbolik mengarah pada politisasi agama, sehingga hanya simbol-simbol yang digunakan untuk kepentingan tertentu. Akhlak merupakan karakter batin yang sudah menjadi tabiat seseorang. 

Islam merupakan rahmatan lil alamin yang menegaskan bahwa jika dilakukan secara benar, maka akan mendatangkan rahmat. Rahmat merupakan karunia dalam ajaran Islam terbagi menjadi dua, yaitu rahman dalam artian amma kulla syak. Sedangkan rahim merupakan rahmat dari Allah kepada orang-orang Islam. 

Cara terbaik menghindari pemikiran bahwa Islam hanyalah simbol yaitu dengan menganggap agama merupakan penuntun moral. Sebab, nilai-nilai dan ajaran Islam memberikan pedoman tentang baik dan buruk. Landasan ini juga bisa Sobat gunakan untuk menangkal bahaya islam sebagai simbol belaka. 

Agama menawarkan kerangka moral yang bersumber dari kitab suci Al Qur’an. Akhlak baik bersumber pada ajaran-ajaran yang ada dalam Al Qur’an. Banyak dalil menyebutkan keutamaan orang memiliki akhlak mulia sebagaimana hadits:

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya di antara mereka.2

Berikut ini beberapa cara agar tidak memandang agama hanya sebagai simbol:

1.  Memperdalam Pemahaman Agama

Untuk menghindari bahaya Islam sebagai simbol belaka, maka Sobat harus memperdalam pemahaman agama. Berinteraksi dengan ulama yang kredibel sangat membantu Sobat memahami ajaran Islam lebih komprehensif. Tidak hanya menjadikan ibadah sebagai ritual, namun ada banyak nilai Islam yang harus Sobat amalkan.

Islam mengajarkan toleransi dan menghindari sikap fanatik berlebihan terhadap kelompok tertentu. 

bahaya menjadikan Islam simbol belaka

2.     Menolak Politisasi Agama

Sobat harus berhati-hati terhadap politisasi agama, sebab sering menyalahgunakan simbol-simbol agama demi kepentingan politik. Politisasi agama juga memunculkan konflik dan perpecahan karena isu-isu agama. Meningkatkan kesadaran pentingnya mengamalkan nilai-nilai Islam akan menjadi solusi terbaik.

Mampu berpikir kritis terhadap informasi dan ajaran yang beredar juga sebagai salah satu cara menangkal bahaya menjadikan Islam simbol belaka. Melalui berpikir kritis, Sobat tidak mudah terpancing narasi-narasi tak berdasar.


  1. [Qs: Ali Imron 144] ↩︎
  2. HR. Abu Daud no. 4682, At Tirmidzi no. 1162, 2612, Ad Darimi no. 2792, Ahmad (2/527) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY