Mengingatkan Tanpa Mempermalukan Orang Lain

0
421
Mengingatkan Tanpa Mempermalukan Orang lain

Mengingatkan Tanpa Mempermalukan – Sobat Cahaya Islam, dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah melihat saudara kita terjatuh dalam kekeliruan. Entah itu melalaikan shalat, berkata kasar, membuka aurat, atau berperilaku di luar batas syariat. Hati yang beriman tentu ingin mengingatkan – namun ingat, jangan sampai niat baik itu berubah menjadi malapetaka karena cara yang menyakitkan.

Mengajak pada kebaikan itu ibadah, tapi mempermalukan orang lain adalah dosa. Maka, Islam mengajarkan seni dalam menasihati: yaitu mengingatkan dengan lembut, dengan hikmah, dan tanpa membuka aib atau menjatuhkan harga diri.

Nasihat Itu Rahasia, Bukan Pertunjukan

Sobat Cahaya Islam, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

مَن وَعَظَ أَخَاهُ سِرًّا، فَقَد زَانَهُ، وَمَن وَعَظَهُ عَلَانِيَةً، فَقَد شَانَهُ

“Barang siapa menasihati saudaranya secara diam-diam, sungguh ia telah menghiasinya. Tapi barang siapa menasihatinya di depan umum, sungguh ia telah mempermalukannya.” (1)

Ini bukan sekadar kata-kata indah, tapi prinsip luhur dalam Islam. Karena orang yang ditegur di hadapan orang lain, biasanya lebih sibuk mempertahankan harga dirinya daripada mendengarkan isi nasihat.

Mari belajar dari teladan agung kita, Rasulullah ﷺ. Beliau sangat peka terhadap kesalahan umatnya, tapi beliau tidak pernah menyindir, meremehkan, atau menyebut nama si pelaku secara langsung.

Jika terjadi kesalahan, beliau akan bersabda dengan halus:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَقُولُونَ كَذَا وَكَذَا؟

“Mengapa ada sebagian orang yang mengatakan begini dan begitu?” (2)

Lihatlah, Sobat Cahaya Islam, Rasulullah ﷺ menegur tanpa menyebut nama pelaku. Tujuannya bukan mempermalukan, tapi memperbaiki. Tujuannya bukan menyakiti, tapi menyadarkan.

Antara Amar Ma’ruf dan Ghibah Terselubung

Seringkali, seseorang berdalih sedang menasihati, padahal ia sedang menyebarkan aib orang lain. Mengingatkan di grup WhatsApp, di media sosial, atau bahkan dalam forum kajian—menyebut ciri-ciri pelaku, hingga semua orang tahu siapa yang dimaksud.

Padahal Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ

“Setiap Muslim atas Muslim yang lain itu haram (untuk dilanggar): darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (3)

Mengumbar kesalahan saudara kita sama saja dengan merusak kehormatannya di hadapan publik. Bukankah lebih baik jika kita sampaikan secara pribadi dan penuh kasih?

Selain itu, Nabi juga bersabda:

مَن سَتَرَ مُسلِمًا، سَتَرَهُ اللَّهُ في الدُّنْيا والآخِرَةِ

“Barang siapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (4)

Adab Mengingatkan Tanpa Mempermalukan

Tujuan nasihat adalah menyadarkan, bukan menyudutkan. Maka kita harus belajar membedakan antara:

  • Menegur karena cinta, atau menghina karena benci
  • Menolong keluar dari kesalahan, atau mendorong makin terpuruk
  • Mengajak kepada kebaikan, atau menghakimi dari ketinggian

Sobat Cahaya Islam, sampaikanlah nasihat seperti obat yang manis. Sebab hati manusia akan lebih terbuka pada kelembutan daripada tekanan.

Mengingatkan adalah ibadah, tapi mempermalukan adalah kebodohan. Jangan sampai niat suci ternoda oleh sikap angkuh. Jangan pula membuat orang menjauh dari agama karena cara kita yang keras dan menyakitkan.

Mari meneladani Rasulullah ﷺ: lembut dalam tutur, dalam cinta menyapa, dan halus dalam menegur. Karena sesungguhnya, nasihat terbaik adalah yang masuk ke hati tanpa melukai.


Referensi:

(1) Ibnul Jauzi, Shifatush Shafwah, 2/342

(2) HR. Bukhari no. 6103

(3) HR. Muslim no. 2564

(4) HR. Muslim no. 2590

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY