Petir Tanda Allah Murka, Benarkah? Jangan Asal Menyimpulkan

0
817
Petir tanda Allah murka

Petir tanda Allah murka, sampai saat ini belum ada pendapat ulama yang membahas kebenarannya. Petir sendiri berfungsi untuk melempar setan yang Allah SAW jatuhkan.

Petir juga tercipta untuk bintang-bintang di langit. Hal ini sebagaimana penjelasan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an.

Penjelasan Petir Tanda Allah Murka

Berdasarkan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (24/263—264) terkait petir tanda Allah murka:

Adapun petir dan kilat, terdapat keterangan pada hadits marfu’ (bersandar sebagai sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam) yang diriwayatkan dalam kitab Sunan at-Tirmidzi dan lainnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang ar-ra’d (petir).” 1

1. Hadits Imam Tirmidzi

Beliau menjawab,

مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ، مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ ناَرٍ يَسُوقُهَا بِهَا حَيْثُ شَاءَ اللهُ

‘Malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang ditugasi mengatur urusan awan, di tangannya ada alat (cambuk)[1] dari api untuk mengarak awan menurut kehendak Allah.’ 2

Pada kitab Makarim al-Akhlaq karya al-Kharaithi, terdapat atsar dari Ali radhiallahu anhu,

أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الرَّعْدِ، فَقَالَ: مَلَكٌ. وَسُئِلَ عَنِ الْبَرْقِ، فَقَالَ: مَخَارِيْقُ بِأَيْدِي الْمَلاَئِكَةِ. وَفِيْ رِوَايَةٍ عَنْهُ: مَخَارِيْقُ مِنْ حَدِيْدٍ بِيَدِهِ.

Beliau mendapatkan pertanyaan tentang petir, maka beliau menjawab, ‘Malaikat.’ Beliau bertanya lagi tentang kilat, beliau menjawab, ‘Cambuk-cambuk di tangan para malaikat.’ 3

Pada riwayat lain beliau berkata, ‘Cambuk-cambuk dari besi di tangan malaikat.’ Telah meriwayatkan pula atsar-atsar yang semakna dengan ini.

Sama halnya, riwayat keterangan lain dari beberapa salaf yang tidak menyelisihi keterangan di atas. Adapun ucapan sebagian mereka, ‘Sesungguhnya petir itu adalah (suara) benturan subtansi-subtansi (zat-zat) awan akibat adanya tekanan udara dalam awan.’

Keterangan ini tidaklah kontradiktif dengan keterangan di atas karena ar-ra’d (petir/guruh) merupakan masdar dari رَعَدَ (ra’ada, artinya telah berguruh). Sedangkan, يَرْعُدُ (yaruddu, artinya sedang/akan berguru), رَعْدًا (ra dan, artinya guruh/petir).

Sama halnya, الرَّاعِدُ (ar-ra’d, artinya berguru) bernama (رَعْدًا) ra dan (petir/guruh). Sedangkan, الْعَادِلُ (al-‘adil, artinya yang adil) bernama عَدْلاً (‘adlan, artinya adil).

2. Penjelasan Mengenai Terjadinya Petir

Petir merupakan gerakan yang ada harusnya mengeluarkan suara, sementara para malaikatlah yang menggerakkan (mengarak) awan. Mereka juga memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya.

Seluruh gerakan yang terjadi di alam atas dan bawah, yang mengaturnya adalah para malaikat.

Suara manusia juga bersumber dari benturan anggota tubuhnya, yakni kedua bibirnya, lidahnya, gigi-giginya, anak lidah (anak tekak), dan tenggorokan. Bersamaan dengan itu, manusia bertasbih kepada Rabbnya, Allah memerintahkan kebaikan dan melarang dari kemungkaran.

Apabila begitu, petir adalah suara menghardik awan. Sama halnya dengan kilat. Ia berkata, ‘(Kilat itu) kilauan air atau kilauan api.’

Hal ini juga tidak menafikan (menampik) bahwa kilat itu adalah cambuk yang ada di tangan malaikat. Sebab, api yang berkilau di tangan malaikat seperti cambuk, dan pengiring hujan.

Malaikat menggiring (mengarak) awan seperti halnya penunggang menggiring binatang tunggangannya.

Jadi, pernyataan petir tanda Allah murka belum dapat terbukti dari hadist manapun.


  1. (Ibnu Taimiyah, no. 263-264) ↩︎
  2. (HR. Imam Tirmidzi, no. 234) ↩︎
  3. (HR. Imam Tirmidzi, no. 3117) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY