Larangan Menghormati Orang Kaya – Sering kali, masyarakat menghormati dan memuliakan seseorang karena harta atau kekayaannya. Semakin seseorang kaya, orang-orang semakin menghormatinya. Di sisi lain, orang miskin semakin tidak dianggap, bahkan dilecehkan. Sebenarnya, tidak ada salahnya kita menghormati orang kaya. Yang jadi masalah adalah mereka alasan penghormatan tersebut karena kekayaan atau hartanya, bukan karena umur atau ilmunya.
Larangan Menghormati Orang Kaya Karena Manusia Lebih Mulia daripada Harta


Jika kekayaan atau harta benda menjadi alasan kita menghormati seseorang, hal itu sungguh tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pasalnya, manusia jauh lebih mulia daripada kekayaan apapun. Sebagaimana firman Allah:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan mengangkut mereka di darat dan laut, dan memberi mereka rezeki yang baik-baik, dan melebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan, dengan kelebihan sempurna.” (1)
Jadi, seseorang yang memuliakan atau menghormati orang kaya karena kekayaannya semata, sungguh ia merugikan keimanannya sendiri. Artinya, yang salah bukan orang kayanya, melainkan dia yang menempatkan harta benda duniawi di atas nilai kemanusiaan. Bahkan, Rasulullah mengatakan bahwa orang yang demikian telah lenyap dua per tiga agamanya.
Harta Benda Bukanlah Kekayaan Sebenarnya
Dalah sebuah hadits dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Tidaklah disebut kaya karena banyaknya harta, tapi kaya yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa (hati).” (2)
Memang, hal-hal spiritual seperti keimanan, kesabaran, ketakwaan, kesalehan, sikap tawakal, kedermawanan, keramahan, dll. jauh lebih berharga daripada apapun yang bersifat duniawi seperti kekayaan atau harta benda. Di sisi Allah, harta benda tidak berarti apa-apa sampai pemiliknya mengkonversikan harta tersebut menjadi hal spiritual berupa kebaikan-kebaikan.
Menghormati Kekayaan Berarti Melecehkan Orang Miskin
Jika kita menempatkan kekayaan sebagai tolok ukur seseorang untuk dihormati, maka hal itu bisa menyakiti orang-orang miskin. Sayangnya, inilah yang sering terjadi di masyarakat saat ini. Tentu saja, ini menjadi masalah besar.
Padahal, yang harus kita hormati adalah orangtua kandung, orang-orang yang umurnya lebih tua dari kita, dan orang-orang yang lebih berilmu dari kita seperti para kyai, ustadz, dan guru. Dan memuliakan orang kaya karena hartanya bukan-lah termasuk akhlak terpuji yang Islam ajarkan.
Mudah-mudahan kita bisa memposisikan orang lain sebagaimana mestinya. Orang miskin pun berhak mendapatkan tempat yang terhormat dan mulia selama ia berilmu tinggi, berakhlak terpuji, dan beramal sholih.
Referensi:
(1) Q.S. Al-Isra 70
(2) Sahih al-Bukhari 6446

































ingat semua itu hanya titipan dari Allah