Pentingnya Muslim Menjadi Kaya, Ini Alasannya!

0
712
Pentingnya Muslim Menjadi Kaya

Pentingnya Muslim Menjadi Kaya – Memang, kita sebagai umat muslim jangan sampai menjadi budak harta. Juga, hendaknya kita tidak menjadikan urusan dunia sebagai prioritas. Akan tetapi, bukan berarti seorang muslim tidak boleh menjadi kaya. Bahkan, menjadi kaya bisa cukup penting bagi umat muslim, terlebih orang-orang yang sholih.

Pentingnya Muslim Menjadi Kaya, Sebaik-baik Harta di Tangan Orang Sholih

Siapapun berhak menjadi kaya. Memang, harta kekayaan bisa menjadi fitnah (ujian) bagi pemiliknya. Jika tidak berhati-hati, justru harta bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kemaksiatan. Namun uniknya, Rasulullah pernah bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta ialah di tangan orang-orang sholih.” (1)

Hadits di atas menjadi rujukan bahwa tidak ada salahnya seorang muslim yang sholih menjadi kaya. Di sini, orang sholih ialah mereka yang memperhatikan serta menunaikan hak-hak Allah maupun hak-hak sesama.

Selain itu, hadits ini juga menjadi alasan seseorang boleh mengumpulkan harta yang halal dan ia tasarufkan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban mereka. Namun, tanggung jawab harta sangatlah besar. Itulah kenapa sebaiknya yang menjadi kaya adalah orang-orang yang sholih, bukan sembarang orang agar mereka tidak menyalah-gunakan harta miliknya.

Kenapa Orang Sholih Sebaiknya Kaya?

Tidak semua umat muslim termasuk orang sholih. Dalam hadits di atas, Rasulullah tidak menyebut umat muslim, tapi lebih spesifik ke orang sholih. Jika ia sholih, ia pun akan menggunakan hartanya untuk kemaslahatan dunia dan akhirat.

Maka, sangat tepat jika Rasulullah mengatakan demikian. Faktanya, sangat bahaya jika orang-orang dzalim menguasai harta yang banyak karena mereka bisa semakin semena-mena. Jika harta ada di tangan orang sholih, pasti akan sangat bermanfaat untuk umat muslim dan Masyarakat banyak.

Begitu juga dengan kita, hendaknya kita memberikan zakat dan sedekah dengan hati-hati. Jika kita memberikannya kepada orang-orang yang suka meninggalkan shalat atau berbuat maksiat, tentu saja sungguh tidak tepat karena mereka jauh dari kesholihan. Lebih lanjut, Rasulullah juga pernah bersabda:

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa.” (2)

Harta yang Tidak Disedekahkan Akan Kehilangan Berkah

Hendaknya kita menggunakan harta di jalan kebaikan. Jika tidak, keberkahan di dalamnya bisa hilang. Sebagaimana sabda Nabi:

 أَنْفِقِي – أَوِ انْضَحِي أَوِ انْفَحِي – وَلاَ تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ ‏

“Infaqkanlah hartamu! Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, Allah akan menghilangkan berkah dari rezeki tersebut.” (3)

Maka, hendaknya kita menyalurkan harta pada hal-hal yang wajib dulu seperti menafkahi keluarga, menunaikan zakat, dll. Kemudian, barulah selebihnya untuk hal lain yang baik dan bermanfaat seperti membantu tetangga, infaq ke masjid, dll.

Rasulullah bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang Islam yang diberi rezeki cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas denga napa yang Dia berikan kepadanya.” (4)

Intinya, menjadi kaya bukanlah hal yang tercela. Tapi, yang tercela adalah jika tidak pernah merasa cukup atau puas dengan pemberian Allah. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang sholih yang Allah beri kecukupan harta dan bisa menggunakannya sesuai ketentuan syariat. Aamiin.


Referensi:

(1) H.R. Ahmad 4/197

(2) H.R. Ibnu Majah 2141

(3) H.R. Muslim 1029

(4) H.R. Muslim 1054

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY