Puasa Mutih dalam Islam untuk Mengabulkan Hajat, Tradisi atau Musyrik?

0
1205
puasa mutih dalam Islam

Puasa Mutih dalam Islam – Masyarakat memiliki banyak cara untuk mengabulkan hajat tertentu, seperti dengan puasa mutih. Puasa ini erat kaitannya dengan masyarakat Jawa yang bertujuan membersihkan jiwa, hawa nafsu dan agar hajatnya terkabul. Lalu bagaimana puasa mutih dalam Islam apakah hanya tradisi atau menjurus pada tindakan musyrik?

Mengenal Puasa Mutih

Tradisi puasa mutih untuk hajat kental akan nuansa spiritual. Umumnya calon pengantin yang akan menggelar acara pernikahan akan melaksanakan puasa mutih. Masyarakat akan berpuasa selama tiga hari berturut-turut menjelang acara.

Selama melaksanakan puasa ini, Sobat Cahaya Islam hanya boleh makan sesuatu yang berwarna putih dan minum air putih saat berbuka. Selain aspek spiritual, puasa mutih juga menghadirkan banyak manfaat untuk tubuh. Seseorang yang membaca niat puasa mutih, maka akan membantu membersihkan racun dalam tubuh.

Selain itu, puasa mutih akan membantu menurunkan kadar gula dan garam dalam tubuh. Warna putih pada puasa ini melambangkan kemurnian dan kebersihan jiwa raga. Melalui puasa mutih, orang yang menjalaninya akan membersihkan diri dari hal-hal buruk.

Bolehkan Menjalankan Puasa Mutih dalam Islam?

Puasa dari segi bahasa memiliki makna menahan diri dengan makan atau minuman secara jimak dari fajar hingga terbenamnya matahari. Untuk menjawab bolehkah puasa mutih dalam Islam harus memperhatikan penjelasan berikut ini:

1.     Puasa dalam Islam

Perintah berpuasa dalam agama Islam termaktub dalam Surah Al Baqarah ayat 183 berikut ini:

Kepada orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan (juga) kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”1

Puasa dalam Islam tidak hanya menahan lapar dan haus, melainkan juga harus memenuhi syarat-syarat. Ibadah puasa merupakan amalan untuk menyucikan tubuh dan mempersempit jalannya setan.

puasa mutih dalam Islam

2.     Hukum Puasa Mutih

Tidak ada larangan khusus yang menyebutkan bahwa puasa mutih haram, sehingga pelaksanaannya boleh dilakukan. Hal tersebut berlandaskan bahwa seseorang boleh memilih jenis makanan dan minuman untuk berbuka puasa, selama memenuhi syarat. Namun, puasa mutih mutih tidak sesuai dengan aturan atau syariat.

Tidak sedikit orang puasa mutih untuk tujuan spiritual. Keajaiban puasa mutih menjadi salah satu daya tarik, sehingga banyak orang masih melakukannya. Selain menahan lapar, orang yang menjalani puasa mutih juga mengiringinya dengan amalan tawasul.

Surat Al-Fatihah akan dibaca selama 40 hari berturut-turut. Selain itu, orang yang melakukan puasa mutih juga berdzikir, bersholawat, dan mengasingkan diri dari keramaian. Pelaku tarekat puasa mutih dalam Islam menggunakan firman Allah berikut ini untuk melakukannya:

“Sejatinya aku (Maryam) telah bernazar berpuasa untuk Robb Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini” 2

Padahal tidak ada satupun ahli tafsir menggunakan ayat tersebut untuk puasa mutih. Terlebih lagi tidak berbicara kepada orang lain dan berdiam di ruangan tidak bercahaya. Dalam puasa mutih tidak ada larangan untuk berhubungan badan, padahal saat berpuasa dalam Islam melarang hal tersebut.

Jelas-jelas berhubungan suami istri saat berpuasa, maka puasanya akan batal. Hal ini yang membuat puasa mutih jauh dari syariat Islam dan termasuk bid’ah yang nyata.

Penyimpangan dalam Puasa Mutih

Landasan bahwa puasa mutih tidak sesuai syariat juga bisa Sobat Cahaya Islam temukan pada hadis berikut:

Barangsiapa membuat suatu hal baru dalam urusan kami ini (perkara agama) yang tidak ada asalnya, maka hal tersebut tertolak3

Setidaknya ada dua penyimpangan dalam puasa mutih. Pertama, puasa tidak diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebab, banyak orang berpuasa mutih untuk hajat tertentu agar lebih cepat terkabul. Kedua, puasa mutih menyalahi tata cara berpuasa Rasulullah SAW.

puasa mutih dalam Islam

Puasa mutih dalam Islam merupakan kejahilan besar, sebab niatnya bukan karena Allah SWT. Puasa tersebut menyalahi syariat dan tidak sesuai tata cara berpuasa Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, umat muslim wajib menghindarinya.


  1. Surah Al Baqarah ayat 183 ↩︎
  2. (QS Maryam 26) ↩︎
  3. [HR Bukhari 2697] ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY