Kenali Karakteristik Ilmu yang Ikhlas agar Belajar Lebih Berkah

0
1009
Ilmu yang ikhlas

Ilmu yang Ikhlas – Sebagai seorang muslim, maka sangat penting untuk dapat menemukan karakteristik dari adanya ilmu yang ikhlas. Sebab berilmu tanpa keikhlasan tidaklah menjadikan seorang hamba berkah di sisi Nya.

Sobat Cahaya Islam, ilmu yang ikhlas tentu membutuhkan waktu yang tak singkat dan perlu diupayakan. Sebab keikhlasan sendiri sifatnya berada di dalam hati, sehingga tidak bia ditentukan oleh orang lain.

Sebanyak apapun motivasi dari lingkungan eksternalnya, namun bila hati belum beranjak pada fase yang ikhlas, maka keilmuan yang dimiliki seorang generasi bisa jadi tidak menjadi berkah.

Mengapa Penting Mengenali karakteristik ilmu yang ikhlas?

Sobat cahaya Islam, memiliki ilmu yang ikhlas adalah satu hal yang diperlukan manakala ingin membuktikan diri menjadi seorang hamba Allah yang shalih.

Sebab banyak yang generasi memiliki keilmuan namun nyatanya tidak membentuk mereka menjadi pribadi yang shalih.

Fenomena tersebut terjadi lantaran tidak adanya keikhlasan dalam mencari ilmu. Bisa jadi hanya sekedar pamer, gengsi maupun arogansi semata.

Oleh sebab itu, generasi sangat diwajibkan menata diri dan menyiapkan diri sebagai seseorang yang ikhlas dalam menggapai keilmuan.

Dengan keikhlasan, ilmu yang sejatinya terlihat susah akan menjadi mudah untuk dilalui. Sikap meningkatkan diri sebagai seorang pembelajar merupakan hal yang penting bagi generasi islam yang perannya sebagai umat terbaik di muka bumi.

1.    Tidak Bersikap Sombong

Hal pertama yang perlu dikenali dari kepemilikan ilmu yakni menghilangkan rasa sombong.

Jika ada rasa tersebut, walau hanya sebesar biji dzarrah pun, maka Allah Ta’ala bisa saja menghilangkan bahkan menjadikan keilmuan yang dimiliki sia – sia dan tak lagi bermanfaat.

Jika sudah demikian, lantas untuk apa memiliki ilmu? Selain itu, kesombongan yang dipertontonkan umat terkait keilmuan yang dimiliki tentu tidak layak sebab apa yang ada dalam dirinya adalah anugrah.

Sehingga bukan kepemilikan pribadi dan merasa paling arogan bahkan sok benar. Jika benar terjadi, maka generasi seperti ini akan mengacaukan peradabaan dan menghancurkan dirinya sendiri.

Seyogyanya juga umat bersikap lebih sabar dibandingkan arogan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Ali Imran ayat 160 :

لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Artinya : Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.

2.    Memilih Kebenaran

Karakteristik lain yang perlu dimiliki yakni generasi harus berani dalam menegakkan kebenaran. Kebenaran ditentukan oleh berbagai sumber yang sesuai yakni Alquran, Hadits, Ijma dan Qiyas.

Selain itu, ada beberapa pernyataan para sahabat terdahulu di zaman Rasulullah SAW, dapat dijadikan sebagai patokan untuk memilih kebenaran, bukan hanya sekedar berdasar perasaan saja. Hal ini pun sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Asy Syura ayat 52 yakni:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗوَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ

Artinya : Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus

Faktanya, sebagian umat lebih sering menggunakan perasaan mereka dalam memutuskan sebuah solusi. Misal, terkait keputusan untuk berhijab bukan ditentukan lantaran bagus tidaknya memakai hijab, namun berdasar bahwa tersebut adalah ketentuan dari aturan yang Allah Ta’ala berikan.

Pun juga terkait dengan sholat. Bukan berdasar seseorang capek atau tidaknya dalam menjalankan, namun melihat kebenaran dari sholat adalah bagian dari aturan yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

3.    Tidak Bergantung pada Perasaan Manusia

Nah sobat cahaya islam, demikianlah ulasan yang berkaitan dengan urgensitas memahami karakteristik ilmu yang ikhlas.

Semoga dengan ulasan ini akan meningkatkan kemampuan generasi menjadi seorang pendobrak peradaban sehingga terwujud bangsa yang gemilang. Aamiin.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY