Setan Dibelenggu, Kok Umat Masih Maksiat?

0
33
setan dibelenggu

Setan Dibelenggu – Di bulan puasa Ramadhan, narasi yang sangat fenomenal yakni topik setan dibelenggu. Ya, terbelenggunya setan di bulan puasa seharusnya menjadikan kaum muslimin menjadi totalitas dalam bertaqwa dan tidak terjerumus ke dalam jurang kemaksiatan. Bagaimana faktanya? Justru, terkadang bulan puasa malah menjadi momen untuk melakukan perbuatan yang nista.

Sobat Cahaya Islam, sebab setan dibelenggu di bulan puasa , lantas dorongan apa yang menyebabkan kaum muslimin sanggup melakukan perbuatan yang dinista? Sebelum menyalahkan faktor eksternal ada baiknya umat memahami kondisi pertahanan aqidah dalam dirinya. Kuat atau lemahnya aqidah akan mempengaruhi keimanan umat muslim.

Bagaimana Bisa Umat Bermaksiat, Padahal Setan Dibelenggu?

setan dibelenggu

Ketika keimanannya lemah, maka sudah bisa dipastikan umat manusia akan sangat mungkin menjadi setan itu sendiri walaupun setan sedang dalam masa pengurungan di bulan puasa. Fakta inilah yang tak banyak disadari kaum muslimin.

Frasa terbelenggunya setan mendominasi dalam pola pikir umat sehingga umat sering merasa aktivitas yang mereka lakukan di bulan Ramadhan adalah aktivitas kebaikan. Padahal semua itu hanyalah asumsi semata dari umat muslim.

Memang, seharusnya bulan Ramadhan diresapi sebagai bulan perjuangan untuk menahan segala keinginan duniawi yang melanggar syariat. Bukan sebagai masa istirahat berhenti bermaksiat. Sebab itulah, maka tak heran hari ini masih banyak didapati umat yang tetap dzalim dan bermaksiat kepada Allah SWT padahal juga mengetahui kemuliaan dari Bulan Ramadhan.

Saking sudah masuk dalam godaan setan sebelum bulan puasa, tak heran manusia menyetankan diri pada saat Bulan Ramadhan. Bila hal tersebut dibiarkan berlalu saja, esensi Ramadhan pastilah tak bisa dirasakan bahkan merasuk ke dalam jiwa. Maka dari itu umat muslim harus siap dengan strategi supaya tak menggantikan tugas setan untuk menyesatkan manusia. Beberapa diantaranya adalah :

1.      Ngaji Islam

Bagi kaum muslimin, mengaji adalah hal dasar yang harus dilakukan. Aktivitas ini tidak boleh dipersempit dalam ranah bacaan quran saja, namun juga mengaji hakikat Allah SWT menciptakan manusia serta makna penugasan sebagai pemimpin di muka bumi. Tentu hal tersebut bukan sebuah kebetulan bukan?

Selain itu, ngaji Islam tak boleh hanya sendirian sebab ditakutkan akan ada pemahaman yang salah dan sulit dibenarkan di masa depan. Maka dari itu, belajarlah dari para ulama’ yang sanadnya terpercaya layaknya para perawi hadits yang dikategorikan sebagai hadits shohih.

2.      Carilah Sang Pengingat Diri

setan dibelenggu

Mencari teman seperjuangan dalam memahami Islam dan menjalankan puasa dengan kemaksimalan sempurna adalah sebuah kewajiban. Jangan batasi diri hanay berteman dengan teman masa kecil saja, tapi juga mencari temn untuk sama – sama bervisi misi surga. Selain itu, buatlah kesepakatan dengan teman untuk selalu mengingatkan dalam hal kebaikan.

Hal ini sesuai dengan apa yang Allah sampaikan melalui lisan Rasulullah dalam haditsnya yakni :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat. (HR. Abu Dâwud, no.4833; Tirmidzi, no.2378. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah ash-Shahîhah no. 927)

Nah Sobat Cahaya itulah penjelasan sederhana mengenai kondisi umat yang selalu bermaksiat padahal setan dibelenggu di bulan puasa. Semoga setelah banyak umat muslim yang memahami akan hal ini, mereka berbondong – bondong menjadi penerang bagi umat muslimin lainnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY