Memberi dengan Ikhlas: Kisah Pemuda yang Menyembelih 10 kambingnya untuk Tamu

0
1150

Sadar nggak sih banyak dari kita orang muslim yang kekinian mulai mudah memposting suatu hal yang berbentuk pengamalan. Misalnya memajang foto yang sedang mengaji di Masjid dengan status “waktunya mengaji nih” atau yang lainnya. Contoh lain lagi yang paling banyak adalah ketika kita bersedekah atau berderma kepada sesama. Kami banyak memperhatikan ornag-orang memajang foto di sosial media bersama orang-orang fakir miskin ketika mereka memberikan sodaqohnya, atau berfoto selfie di panti asuhan dengan background anak-anak panti dan beberapa kotak sembako yang diberikan. Bila itu terjadi maka anda perlu menanyakan diri anda: Apakah anda telah memberi dengan ikhlas (ikhlas kepada yang diberi dan ikhlas murni mengharapkan ridho Allah)?.

Perilaku-perilaku tersebut dekat sekali dengan apa yang disebut Rasulullah dengan istilah riya’ yang takrifnya adalah beramal dengan tujuan yang lain. Dan tahukah anda? Perilaku seperti ini merupakan dosa yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah dan diperintahkan untuk dijeuhi sejauh-jauhnya karena merupakan Syirik khafi. Anda mungkin perlu membaca artikel kami tentang niyat karena Allah. Dalam kesempatan kali ini kami akan menceritakan kisah yang insha Allah bisa membukakan pintu hati anda untuk bisa selalu memberi dengan ikhlas.

Cerita saudagar kambing yang kaya tentang perjalanannya

Pada zaman dahulu hiduplah seorang saudagar kambing yang kaya raya. Dia memiliki ribuan kambing dipeternakannya hingga dia disebut-sebut sebagai orang terkaya didaerahnya tersebut. Tak hanya dikenal kaya, orang tersebut dikenal pula sebagai orang yang dermawan dan sering membuat acara perjamuan yang mengundang orang-orang miskin di daerahnya tersebut. Dalam satu acara perjamuannya, seseorang dari tamunya bertanya “Wahai saudagar! Bagaimana engkau bisa menjadi orang yang sangat dermawan seperti ini?” – Mendengar pertanyaan tersebut, Saudagar kaya itupun kemudian bercerita tentang perjalanannya.

Suatu ketika dia sedang melakukan perjalanan jauh untuk menjual kambing-kambingnya disuatu kota. Setelah semua kambingnya terjual, dia kemudian hendak pulang kekediamannya. Namun karena hari sudah mulai gelap, bertamulah dia disebuah rumah sederhana miliki seorang pemuda yang sederhana pula. Sebelum dipersilakan masuk, melihatlah dia disamping rumah tersebut ada kandang dengan 10 ekor kambing. Setelah Masuk berbincanglah saudagar itu dengan pemuda pemilik rumah. Karena dia sempat melihat kandang dengan kambing didalamnya dia kemudian berbincang tentang kambing, karena pikirnya pemuda tersebut juga memiliki pekerjaan yang sama dengannya.

Dalam perbincangan tersebut, saudagar itu nyeletuk “menurut saya, kambing itu yang paling enak untuk dihidangkan adalah otaknya” – mendengar hal itu, pemuda pemilik rumah tersebut kemudian meminta izin dan bertandang kekandang kambingnya dibelakang rumah. Singkat cerita disembelihlah 10 kambing tersebut dan dimasaklah kesepuluh otak kambing itu untuk dihidangkan kepada saudagar tersebut.

Setelah masak, disajikanlah 10 hidangan otak kambing dihadapan saudagar itu, dan terheran-heranlah dia. “Darimana kau mendapatkan hidangan otak-otak kambing ini wahai pemuda?” tanya saudagar tersebut. Pemuda itupun menjawab “aku telah menyembelih semua kesepuluh kambingku untuk memuliakan tamu, dan itu tidak masalah”. Berkaca-kacalah mata saudagar itu dipenuhi rasa Syukur kepada Allah dan pemuda itu. Saudagar itupun kemudian mengganti 10 kambing pemuda itu dengan 500 kambing miliknya.

Setelah menceritakan kisah tersebut, orang pada acara perjamuan yang diawal tadi bertanya lagi kepada saudagar itu “lalu bukankah itu berarti anda merupakan orang yang lebih dermawan dibandingkan pemuda tadi? Karena pemuda itu hanya memberikan 10 ekor kambing, namun anda memberikan 500 ekor kepadanya?” – Saudagar kambing itu menjawab “Tentu tidak! Pemuda itulah yang lebih dermawan daripada aku, dia memberi dengan ikhlas semua kesepuluh kambing yang dimilikinya hanya untuk memuliakan tamunya. Sedangkan aku, tidak hanya memberikan 500 kepadanya, yang mana merupakan sebagian kecil dari ribuan kambing-kambingku.

Apa yang bisa dipetik dari kisah diatas?

Tentu dari cerita diatas kita bisa memetik bahwa kita harus selalu berusaha memberi dengan ikhlas. Dan pemberian itu tidak dilihat oleh Allah dari seberapa banyak yang diberikan, namun seberapa ikhlas hati kita dalam memberikannya. Begitu pula yang terjadi di banyak fenomena pamer di sosial media sekarang. Allah tidak memandang seberapa eksis kita disosial media dalam berbagi pada sesama, namun kepada ikhlas tidaknya kita memberikan hal tersebut. Semoga bermanfaat ya.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!