Membayar Kafarat dengan Nasi Bungkus Apa Boleh?

0
395
membayar kafarat dengan nasi bungkus

Membayar kafarat dengan nasi bungkus – Berdasarkan penjelasan para ulama, salah satu bentuk kafarat adalah memberi makanan pokok kepada orang miskin sebanyak satu mud. Pertanyaannya, apakah boleh membayar kafarat dengan nasi bungkus?.

Menghukumi suatu hal terutama yang berkaitan dengan ibadah tertentu tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Bagi Sahabat Cahaya Islam yang memiliki pertanyaan seperti di atas, sangat disarankan menyimak pembahasan di sini sampai selesai.

Mengenal Apa Itu Kafarat

Secara bahasa, kafarat diambil dari bahasa Arab yaitu kaffarah yang berarti menutupi. Maksud menutupi di sini adalah menutupi dosa agar hukuman di dunia dan akhirat yang ditanggung oleh seseorang tidak begitu berat.

Selain alasan tersebut, adanya kafarat juga menjadi bukti bahwa seseorang pelanggar larangan Allah SWT benar-benar menyesali perbuatannya.

Kafarat dalam Islam terbagi menjadi 6 macam, yaitu pembunuhan, zihar (menyamakan punggung ibu dengan punggung sang istri), jima’ di bulan Ramadhan, melanggar sumpah atas nama Allah SWT, ila’, dan Membunuh binatang saat ihram.

membayar kafarat dengan nasi bungkus

Masing-masing pelanggaran yang disebutkan memiliki kafarat tersendiri. Misalnya saja kafarat pembunuhan yaitu memerdekakan hamba sahaya. Dalilnya ada dalam surah An-Nisa ayat 92 yang berbunyi sebagai berikut:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ اَنْ يَّقْتُلَ مُؤْمِنًا اِلَّا خَطَـًٔاۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَـًٔا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَّدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖٓ اِلَّآ اَنْ يَّصَّدَّقُوْاۗ فَاِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍۗ وَاِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ ۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖ وَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍۚ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِۖ تَوْبَةً مِّنَ اللّٰهِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا ۝٩٢

Lafadz latin: wa mâ kâna limu’minin ay yaqtula mu’minan illâ khatha’â, wa man qatala mu’minan khatha’an fa taḫrîru raqabatim mu’minatiw wa diyatum musallamatun ilâ ahlihî illâ ay yashshaddaqû, fa ing kâna ming qaumin ‘aduwwil lakum wa huwa mu’minun fa taḫrîru raqabatin mu’minah, wa in kâna ming qaumim bainakum wa bainahum mîtsâqun fa diyatum musallamatun ilâ ahlihî wa taḫrîru raqabatin mu’minah, fa mal lam yajid fa shiyâmu syahraini mutatâbi‘aini taubatan minallâh, wa kânallâhu ‘alîman ḫakîmâ

Terjemah: “Tidak patut bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin, kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Siapa yang membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) memerdekakan seorang hamba sahaya mukmin dan (membayar) tebusan yang diserahkan kepada keluarganya (terbunuh), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) membebaskan pembayaran. Jika dia (terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal dia orang beriman, (hendaklah pembunuh) memerdekakan hamba sahaya mukminat. Jika dia (terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, (hendaklah pembunuh) membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya serta memerdekakan hamba sahaya mukminah. Siapa yang tidak mendapatkan (hamba sahaya) hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai (ketetapan) cara bertobat dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Penjelasan Mengenai Hukum Membayar Kafarat dengan Nasi Bungkus

Selain kafarat pembunuhan, dalam Al-Quran juga dijelaskan kafarat melanggar sumpah atas nama Allah SWT. Dalilnya termuat dalam surah Al-Maidah ayat 89 yang berbunyi sebagai berikut:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُّمُ الْاَيْمَانَۚ فَكَفَّارَتُهٗٓ اِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسٰكِيْنَ مِنْ اَوْسَطِ مَا تُطْعِمُوْنَ اَهْلِيْكُمْ اَوْ كِسْوَتُهُمْ اَوْ تَحْرِيْرُ رَقَبَةٍۗ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍۗ ذٰلِكَ كَفَّارَةُ اَيْمَانِكُمْ اِذَا حَلَفْتُمْۗ وَاحْفَظُوْٓا اَيْمَانَكُمْۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝٨٩

Lafadz latin: lâ yu’âkhidzukumullâhu bil-laghwi fî aimânikum wa lâkiy yu’âkhidzukum bimâ ‘aqqattumul-aimân, fa kaffâratuhû ith‘âmu ‘asyarati masâkîna min ausathi mâ tuth‘imûna ahlîkum au kiswatuhum au taḫrîru raqabah, faman lam yajid fa shiyâmu tsalâtsati ayyâm, dzâlika kaffâratu aimânikum idzâ ḫalaftum, waḫfadhû aimânakum, kadzâlika yubayyinullâhu lakum âyâtihî la‘allakum tasykurûn

Terjemah: “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja. Maka, kafaratnya (denda akibat melanggar sumpah) ialah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang (biasa) kamu berikan kepada keluargamu, memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang hamba sahaya. Siapa yang tidak mampu melakukannya, maka (kafaratnya) berpuasa tiga hari. Itulah kafarat sumpah-sumpahmu apabila kamu bersumpah (dan kamu melanggarnya). Jagalah sumpah-sumpahmu! Demikianlah Allah menjelaskan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”

Berdasarkan dalil tersebut dijelaskan bahwa kafarat melanggar sumpah atas nama Allah SWT salah satunya adalah memberi makan 10 orang miskin dengan makanan pokok sebesar 1 mud. Lantas bagaimana jika makanan yang diberikan dalam bentuk nasi bungkus?.

Menjawab pertanyaan tersebut, ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa makanan yang diberikan kepada 10 orang miskin sebagai kifarat harus berupa makanan pokok mentah. Bisa diartikan bahwa ulama Syafi’iyah tidak memperbolehkan membayar kafarat dengan nasi bungkus.

Sebenarnya, ulama berbeda pendapat terkait membayar kafarat dengan nasi bungkus. Namun, saat akan menggunakan suatu hukum, pastikan mencari sumber rujukan terpercaya agar ibadah yang dilakukan sah.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY