Memahami Perjalanan Hidup Manusia dari Tembang Mocopat (Bagian 3)

0
408

Enak sekali ya! di zaman modern sekarang dimana berdakwah menjadi sangat mudah karena banyak sekali sarana-sarana yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi jembatan dakwah yang cukup powerful. Contoh konkretnya adalah sosial media dan website video database seperti youtube dan lain sebagainya. Kita bisa menggunakannya sebagai media dakwah yang baik.

Lain cerita bila anda hidup di zaman ketika kerajaan-kerajaan besar di Indonesia masih berdiri. Kerajaan dimana kebanyakan dipengaruhi oleh kebudayaan hindu dan Buddha yang sarat dengan ritual-ritual yang diiringi dengan musik tradisional dan tarian adat setempat yang banyak dilakukan dalam prosesi ibadah atau pemujaan. Nah, hal itulah yang konon kemudian membuat para wali melakukan siasat untuk menggunakan pendekatan yang sama yakni dengan menggunakan tembang-tembang dan gerakan adat tradisional yang sudah disusupi dengan ajaran islam. Salah satunya adalah tembang mocopat yang terkenal.

Tembang mocopat ini banyak dipercaya sebagai salah satu bentuk media dakwah di zaman dahulu. Tentu tembang ini bukanlah sebuah pedoman. Namun hanya sebatas “pembuka pintu” pada masyarakat kala itu untuk membuka diri pada islam dengan ajaran-ajarannya yang berdasarkan Al Quran dan Al Hadits. Tim cahayaislam telah mengulas dua judul tembang macapat di kesempatan sebelumnya. Kami akan melanjutkan pembahasan kami pada tembang selanjutnya yang berjudul Sinom.

Darah muda dan siklusnya dalam tembang Sinom Macapat

Setelah penjelasan tentang kelahiran bayi di dunia ini. Dalam kumpulan tembang Macapat kemudian dilanjutkan dengan tembang ketiga yang berjudul Sinom. Sinom ini sendiri banyak diintrepretasikan berasal dari kata “Si Enom” yang berarti masa muda. Perikembangan dari balita hingga masa muda ini digambarkan dalam tembang tersebut dengan penuh harapan dan angan-angan kedepan dalam kehidupan. Sosok orang-orang muda dijelaskan sebagai sosok yang penuh semangat dan tanpa keraguan.

Dalam islam, masa muda merupakan momentum penting. Dimana Rasulullah sendiri menasihatkan bahwa seseorang yang menghabiskan waktu mudanya untuk membuat dirinya dipenuhi dengan ilmu dan pengetahuan agama. Maka dirinya merupakan pribadi-pribadi yang mulia. Sebagai kawula muda, alangkah baik kita memanfaatkannya untuk memperoleh sebanyak-banyaknya pahala fii sabilillah. Agar kelak di masa tua, kita tidak menjadi orang-orang yang merasa menyesal.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلاَمٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ فِي خَلاَءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسْجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إِلَى نَفْسِهَا قَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ‏.‏ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا، حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا صَنَعَتْ يَمِينُهُ

Dalam satu hadits riwayat bukhari 6806 diatas. Bahkan orang-orang yang menghabiskan masa mudanya untuk ibadah kepada Allah adalah mereka yang termasuk dari 7 golongan orang yang akan dinaungi oleh Allah kelak di hari akhir. Ketika hari itu tidak ada naungan apapun yang lebih mulia dibandingkan naungan dari Allah.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!