1. Apakah buku pedoman ibadah LDII?

Buku pedoman ibadah LDII adalah Al Qur’an dan Al Hadits. Rasulullah SAW bersabda: “Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang pada keduanya, yaitu Kitabulloh (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya”. Mengenai Al Hadits, LDII menggunakan semua kitab Hadits, utamanya “Kutubus-Sittah” (Kitab yang Enam): Shohih Al-Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasai, dan Sunan Ibnu Majah.

  1. Apakah sumber hukum Islam menurut LDII?

Sumber hukum Islam adalah Al Qur’an, Al Hadits, Ijma’, dan Qiyas. Contoh Ijma’: penerapan adzan ke 3 pada hari jum’at yang diawali pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Contoh Qiyas: zakat fitrah pada zaman Rasulullah antara lain adalah kurma dan gandum. Bagi kita di Indonesia, beras diqiyaskan dengan gandum, karena sama-sama makanan pokok.

  1. Bagaimana metode warga LDII mengkaji Al Qur’an dan Al Hadits?

LDII menggunakan metode pengajian tradisional, yaitu Guru mengajar Murid secara langsung mengenai bacaan, makna, dan keterangan (untuk Al Qur’an, bacaannya mengikuti ketentuan tajwid).

  1. Apakah yang dimaksud dengan “manquul”?

“Manquul” berasal dari bahasa Arab “naqola yanqulu” yang artinya adalah “pindah”. Maka ilmu yang “manquul” adalah ilmu yang dipindahkan dari guru kepada muridnya. Dalam pelajaran tafsir, “tafsir Manquul” berarti mentafsirkan suatu ayat Al Qur’an dengan ayat Al Qur’an yang lainnya, mentafsirkan ayat Al Qur’an dengan Al Hadits, atau mentafsirkan Al Qur’an dengan fatwa shohabat. Dalam ilmu Hadits, “manquul” berarti belajar belajar hadits dari guru yang mempunyai isnad sampai kepada Nabi Muhammad, Shollalloohu’alaihi wasallam.

  1. Bagaimana aktivitas pengajian di LDII?

LDII menyelenggarakan pengajian dengan aktivitas yang cukup tinggi karena Al Qur’an dan Al Hadits itu merupakan bahan kajian yang cukup banyak dan luas. Di tingkat PAC umumnya pengajian diadakan 2-3 kali seminggu, sedangkan di tingkat PC diadakan pengajian seminggu sekali. Inilah yang menyebabkan tempat-tempat pengajian LDII selalu ramai dikunjungi warganya.

  1. Apakah motivasi warga LDII untuk mengikuti pengajian?

Motivasi warga LDII untuk aktif mengaji adalah Pertama, untuk memenuhi kewajiban mencari ilmu, berdasarkan firman Alloh “Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh” dan sabda Rasulullah “mencari ilmu itu wajib bagi orang Islam”. Kedua, sebagai landasan untuk beramal.

  1. Apakah LDII dalam memahami Al Qur’an dan Al Hadits menggunakan ilmu alat?

Ya. Dalam memahami Al Qur’an dan Al Hadits, ulama LDII juga menggunakan ilmu alat seperti ilmu nahwu, shorof, badi’, ma’ani, bayan, mantek, balaghoh, usul fiqih, mustholahul-hadits, dan sebagainya.

  1. Kitab apa yang menjadi rujukan LDII untuk mempelajari Al Qur’an?

Kitab-kitab tafsir yang menjadi rujukan LDII diantaranya adalah tafsir jalalain, tafsir jamal, tafsir Ibnu Katsir, tafsir At Thobari, tafsir Departemen Agama, dll.

  1. Apakah pondok Pesantren LDII mengajarkan selain ilmu agama?

Ya. Pondok-pondok Pesantren LDII tidak hanya mengajarkan ilmu agama kepada santrinya, tetapi juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum seperti ilmu sosial kemasyarakatan, kewirausahaan, dan kursus-kursus keterampilan sebagai bekal mencari ma’isyah (mata pencaharian) untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.

  1. Mengapa Khutbah Jum’at di Masjid LDII menggunakan bahasa Arab?

Khutbah Jum’at di LDII menggunakan bahasa Arab karena tidak ada satupun Ulama yang menyatakan bahwa khutbah Jum’at dengan Bahasa Arab itu tidak sah, walaupun mustami’in tidak seluruhnya bisa memahami isi khutbah. Seperti halnya ketika musim haji dimana Imam Masjidil Harom menyampaikan khutbah berbahasa Arab, sedangkan mustami’in yang datang dari seluruh dunia belum tentu bisa mengerti isi Khutbah tersebut.

  1. Mengapa setelah sholat jum’at ada Nasehat Agama?

Pada dasarnya memberikan nasehat itu bisa dilakukan disetiap ada kesempatan. Karena sesudah sholat Jum’at itu orang-orang masih berkumpul, kesempatan itu digunakan untuk memberikan nasehat (mau’idlotul hasanah), dan itu bukan merupakan rangkaian dari sholat Jum’at.

  1. Mengapa shodaqoh dilakukan dengan cara melempar uang?

Ada beberapa cara untuk mengumpulkan shodaqoh dari warga LDII. Pertama, diserahkan kepada dan dicatat oleh pengurus LDII. Kedua, dimasukkan ke kotak shodaqoh. Ketiga, dimasukkan ke kain (sarung, sajadah, sorban) yang diedarkan. Keempat, melempar uang ke lantai, untuk kemudian dikumpulkan oleh pengurus.

Mengenai metode mana yang dipilih, merupakan keputusan pengurus setempat. Namun sebagian warga LDII menyukai cara melempar tersebut. Selain praktis, melempar uang juga dapat menumbuhkan suasana “fastabiqul khoirot” (berlomba-lomba dalam kebaikan) tetapi niat Karena Alloh tetap dapat terjaga karena tidak ada yang tahu “siapa sodaqoh berapa”.

  1. Berapa banyak dan siapa saja ulama dan mubaligh LDII?

Ulama LDII ada banyak. Sebagian kecil diantaranya adalah KH Kasmudi AS-Shidiqi, KH R Iskandar Tondodiningrat, KH Achmad Tamam, KH Zubaidi Umar SH, Drs. KH Thoyyibun, dan DR. Ir. KH Abdullah Syam, MSc., APU (Ketua Umum LDII), KH A. Karimullah BE, SE, dll. Adapun ulama yang sudah meninggal dunia antara lain adalah KH Nur Hasan, KH Syu’udi Al Hafidz, KH Mudzakkir, KH M Nur Ali, KH Thoyyib Abdulloh, dll. Beberapa diantara ulama LDII tersebut, bukan lulusan pondok pesantren LDII saja, tetapi juga lulusan pondok pesantren besar lainnya yang kemudian menjadi Ulama LDII. Adapun Mubalegh dan Mubaleghot di LDII juga amat sangat banyak jumlahnya. Para mubalegh LDII tersebut bertugas menyampaikan dakwah di tingkat PAC. Banyak diantara PAC yang memiliki mubalegh lebih dari seorang, sedangkan jumlah PAC di Indonesia ada 10.000 lebih.

  1. Siapakah KH. Nurhasan Al-Ubaidah yang fotonya terpampang di rumah warga LDII?

Almarhum KH. Nurhasan Al-Ubaidah adalah pendiri pondok pesantren LDII, Banjaran, Burengan, Kediri. Seorang ulama besar yang selama 11 tahun belajar ilmu Agama Islam di Makkah dan Madinah. Beliau menguasai Al Qur’an dan ilmu-ilmu Al Qur’an. Beliau menguasai Qiro’ah Sab’ah, yaitu bacaan Nafi’ Al Madani, Ibnu Katsir Al Makki, Abu Amr Al Bashri, Ibnu Amir As Syami, Ashim Al Kufi, Hamzah Al Kufi, dan Ali Al Kisa’i. Masing-masing guru tersebut memiliki 2 (dua) murid yang sangat terkenal, sehingga bacaannya diistilahkan 21 bacaan. Beliau juga menguasai 49 kitab-kitab hadits lengkap dengan ilmu alatnya. Diantara guru-guru beliau adalah Imam Abu Samah, Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Yusuf, dll. Oleh sebab itu warga LDII menempatkan beliau sebagai ulama besar.

  1. Bagaimana sikap LDII terhadap golongan Islam lain?

Semua golongan Islam adalah bersaudara, sebagaimana sabda Rasulullah: “Orang Islam adalah saudaranya orang Islam”. Sesama golongan Islam tidak dibenarkan untuk saling merendahkan, sesuai firman Allah: “Dan janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, barangkali keadaan kaum yang direndahkan itu lebih baik dari kaum yang merendahkan”.

  1. Apakah LDII menerima masukan dari pihak lain?

Ya. LDII terbuka terhadap masukan-masukan, baik masukan mengenai masalah organisasi maupun masalah agama. LDII bahkan secara proaktif mencari masukan-masukan dari berbagai kalangan. Dalam rangka mencari masukan dalam masalah-masalah kenegaraan, LDII mengadakan audiensi dengan instansi terkait a.l. DPR RI, Mabes TNI, kemudian mengadakan silaturohim dan meminta masukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). LDII juga bekerjasama dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dalam rangka memberi pelatihan dakwah kepada para mubaligh-mubalighot LDII. LDII di daerah-daerah sering mengundang ulama-ulama di luar LDII untuk memberikan ceramah agama. Bagi LDII, segala bentuk masukan adalah merupakan nasihat yang tidak ternilai harganya.

  1. Mengapa warga LDII menghindari berjabat tangan ketika laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya bertemu?

Laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom tidak boleh bersalaman, berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Niscaya jika kepada salah satu kalian ditusuk dengan jarum besi itu lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”, dan hadits-hadits lain yang lebih shohih.

  1. Mengapa warga LDII dalam melaksanakan aktivitasnya terkesan eksklusif?

Kesan eksklusif itu sebetulnya tidak benar. Buktinya banyak warga LDII yang menjadi tokoh masyarakat, ketua RT, ketua RW, dll. Hanya karena aktivitas pengajian di LDII sangat tinggi, menyebabkan kesempatan pergaulan di masyarakat menjadi berkurang. Dalam hal ini DPP LDII sudah memberikan pedoman kepada seluruh warganya agar tetap menjaga tali silaturohim dengan masyarakat sekitarnya, termasuk keharusan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh RT dan RW setempat.

  1. Bagaimana sikap LDII terhadap pihak yang tidak senang terhadap LDII?

Siapa saja yang mengamalkan Al Qur’an dan Al Hadits dengan seutuhnya (kaffah serta konsisten istiqomah) akan selalu saja ada pihak-pihak yang tidak senang. Hal tersebut semata-mata karena pihak yang tidak senang tadi kemungkinan belum mengetahui secara benar mengenai LDII. LDII menganggap pihak yang tidak senang dengan LDII tersebut karena masih adanya kesalah-pahaman. Oleh sebab itu LDII berusaha untuk menjelaskan kesalah-pahaman tersebut melalui pengajian-pengajian di setiap tingkat organisasi di daerah-daerah.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!