Main Hakim Sendiri: Bagaimana Pandangan Islam?

0
1262

Baru-baru ini, sebuah berita tentang pasangan muda mudi yang dituduh telah melakukan perbuatan mesum lagi viral di sosial media. Berita tentang kasus ini begitu cepat menyebar, sehingga cukup menyita perhatian masyarakat. Pasalnya, dalam video yang memperlihatkan pasangan tersebut, mereka diarak oleh warga dalam keadaan yang memalukan yaitu maaf (ditelanjangi). Dari berita yang tersebar, pada mulanya pasangan ini masuk ke kontrakan untuk menyantap makan malam namun tidak lama berselang warga pun datang ke kontrakan tersebut dan kemudian mendobrak pintu, lalu diseretlah kedua pasangan tersebut keluar rumah dengan tuduhan bahwa mereka telah melakukan perbuatan mesum. Mirisnya, warga dengan membabi buta langsung memukul sang laki-laki dan menelanjanginya, begitupun sang perempuan yang juga diperlakukan sama, kemudian mereka diarak keliling kampung sambil dipukuli oleh masyarakat dan dipaksa untuk mengakui perbuatan mereka. Lalu apa hukum dari Main Hakim Sendiri: Bagaimana Pandangan Islam?

Setalah melakukan investigasi, ternyata pasangan itu tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan oleh warga setempat. Para warga yang ikut terlibatpun akhirnya menjadi tersangka atas kasus penganiayaan. Mereka harus bertanggung jawab atas perbuatannya, dan juga bagi orang-orang yang ikut menyebarluaskan video tersebut. Setiap apa yang dilakukan oleh setiap manusia pasti ada pertanggung jawabannya.

Main Hakim Sendiri: Bagaimana Pandangan Islam?

Sahabat cahaya Islam, main hakim sendiri adalah perbuatan yang tidak dibenarkan hukum yang ada di Indonesia, terlebih oleh Islam. Islam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Allah memerintahkan berbuat adil, mengerjakan amal kebaikan, bermurah hati kepada kerabat, dan Ia melarang melakukan perbuatan keji, munkar dan kekejaman. Ia mengajarkan kepadamu supaya menjadi pengertian bagimu.” (Q.S. An-Nahl [16]: 90).

Dalam menghadapi suatu perbuatan mungkar yang didapati terjadi di lingkungan kita, yang akhirnya pelaku tersebut tertangkap oleh masyarakat tapi kita tak seharusnya langsung main hakim sendiri terlebih lagi mengompori orang-orang sekitar untuk melakukan hal yang sama. Jika menghadapi kemungkaran dengan kemungkaran lain yang bahkan dampaknya lebih buruk, maka tidak ada kebaikan di dalamnya. Sudah seharusnya kita bersikap adil, yaitu mencari jalan terbaik berdasarkan agama dan juga hukum yang berlaku di Indonesia dalam menghukum pelaku kejahatan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, sebagai saksi-saksi karena Allah, dan janganlah kebencian orang kepadamu membuat kamu berlaku tidak adil. Berlakulah adil. Itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Allah tahu benar apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. Al-Maidah [5]: 8).

Main hakim sendiri akan fatal akibatnya jika tidak menulusuri suatu kejadian lebih jauh, hanya karena terbakar emosi dan kemudian memukul pelaku dan bahkan belum tahu kebenaran pastinya. Seperti kasus di atas yang dikatakan bahwa kedua pasangan tersebut telah berzina dan kenyataan mereka tidak melakukan hal tersebut tapi warga sekitar telah mendapat hasutan setan yang masuk ke dalam hati mereka dan tanpa pikir panjang mereka pun melakukan kekerasan dan memperlakukan dengan kasar kedua pasangan tersebut. Naudzubillah.

Dan juga bukan hak setiap orang untuk melakukan penghukuman bagi pelaku maksiat, kecuali seorang penguasa atau penggantinya yang telah mendapat tugas tersebut.

Sahabat Cahaya Islam, emosi adalah faktor yang dapat mendorong siapa saja untuk melakukan apa saja. Jika menemukan kemaksiatan, janganlah main hakim sendiri karena itu bukan ajaran Rasulullah, bukankah Rasulullah tidak pernah kasar terhadap orang-orang yang bahkan mendzalimi beliau. Sebagai umat Rasulullah, sudah seharusnya kita mengikuti tauladan beliau. Semoga kita selalu terhindar dari perbuatan dosa. Aamiin.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!