(Konsultasi Syariah) – Bermuamalah dengan Orang-orang Non-islam?

0
598

Halo sobat pembaca cahayaislam yang dimuliakan oleh Allah! Sebenarnya artikel kami kali ini adalah lanjutan dari pembahasan kami perihal perintah Rasulullah untuk memiliki sikap ramah tamah pada sesama yang pernah kami ulas sebelumnya (DISINI). Perbedaannya dengan artikel sebelumnya adalah bila sebelumnya kami membahas sikap ramah secara umum, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas lebih detail dalam ber-muamalah. 

Bagi sobat cahayaislam yang belum mengetahui muamalah. Muamalah itu sendiri merupakan istilah untuk suatu tindakan atau perilaku seseorang kepada orang lain dalam aspek hubungan kepentingan. Contoh gampangnya dalam pengertian yang lebih mengerucut adalah semua jenis perjanjian, transaksi, dan hal serupa yang pada intinya mengandung tukar menukar manfaat satu sama lain antar manusia.

Dalam pembahasan ini muncullah pertanyaan: apakah orang islam itu boleh bermuamalah dengan orang yang bukan islam? – Jawabannya akan kami coba ulas dibawah.

Allah maha Adil dan tidak melarang kita berlaku adil

Bila jawaban dari pertanyaan diatas adalah tidak boleh, maka secara tidak langsung kami telah mendustakan ayat Allah dalam surat Al Mumtahanah 8 yang menjelaskan bahwa Allah tidak melarang kita untuk berbuat adil.

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak menahan (melarang) engkau untuk berbuat baik dan berperilaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak (pula) mengusir engkau dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Dalam Surat Al Mumtahinah diatas benar-benar telah jelas dan gamblang tertera bahwasanya Allah tidak secara mutlak melarang kita bermuamalah dengan semua orang (termasuk orang non-muslim) dengan catatan mereka tidak memerangimu dan tidak mengusirmu dari tempatmu. Bahkan Allah mencintai mereka yang berbuat adil. Jadi bila kita mempetak-petakkan bahwa kita saklek hanya boleh bermualamah dengan orang sesama muslim, maka itu bukanlah suatu hal yang bijak.

Bermuamalah dengan orang non-muslim dengan batasan Wala’ 

Sampai pembahasan muamalah dengan landasan Surat Al Mumtahinah diatas. Beberapa alim ulama memperkuat pendapat dengan perilaku muamalah dengan orang non-muslim tanpa adanya unsur wala’. Istilah Wala’ itu sendiri memiliki arti loyalitas dimana sikap itu cenderung kepada sikap kasih sayang dan cinta kasih.

Para alim ulama memberikan batasan-batasan muamalah kita orang islam dengan orang-orang non-islam dengan garis ini. Bahkan sebagian ulama mendukung untuk bermuamalah dengan mereka non-muslim karena bisa memicu mereka untuk segan kepada kita kaum islam atau bahkan membuat mereka tertarik sampai kemudian mau memeluk islam.

Rasulullah juga bermuamalah dengan orang-orang non-muslim

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، أَنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلاً مِنْ بَنِي الدِّيلِ، هَادِيًا خِرِّيتًا وَهْوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ، فَدَفَعَا إِلَيْهِ رَاحِلَتَيْهِمَا، وَوَاعَدَاهُ غَارَ ثَوْرٍ بَعْدَ ثَلاَثِ لَيَالٍ بِرَاحِلَتَيْهِمَا صُبْحَ ثَلاَثٍ‏

Dalam Hadits Sahaih riwayat Bukhari 2264 diatas menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah dan Abu Bakr pernah mempekerjakan seseorang dari Bani Ad-Dil yang merupakan seorang pemandu ahli yang merupakan orang penyembah berhala untuk membawakan dua ekor unta mereka ke Gua Thaur.

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ وَلَقَدْ رَهَنَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم دِرْعَهُ بِشَعِيرٍ، وَمَشَيْتُ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِخُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ، وَلَقَدْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ ‏ “‏ مَا أَصْبَحَ لآلِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم إِلاَّ صَاعٌ، وَلاَ أَمْسَى ‏”‏‏.‏ وَإِنَّهُمْ لَتِسْعَةُ أَبْيَاتٍ

Sedangkan dalam hadits riwayat Bukhari 2508 diatas dikisahkan bahwa Rasulullah pernah menggadaikan baju perangnya untuk membeli gandum.

خْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ أَبِي حَفْصَةَ، قَالَ أَنْبَأَنَا عِكْرِمَةُ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ كَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بُرْدَيْنِ قِطْرِيَّيْنِ وَكَانَ إِذَا جَلَسَ فَعَرِقَ فِيهِمَا ثَقُلاَ عَلَيْهِ وَقَدِمَ لِفُلاَنٍ الْيَهُودِيِّ بَزٌّ مِنَ الشَّأْمِ فَقُلْتُ لَوْ أَرْسَلْتَ إِلَيْهِ فَاشْتَرَيْتَ مِنْهُ ثَوْبَيْنِ إِلَى الْمَيْسَرَةِ ‏.‏ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ عَلِمْتُ مَا يُرِيدُ مُحَمَّدٌ إِنَّمَا يُرِيدُ أَنْ يَذْهَبَ بِمَالِي أَوْ يَذْهَبَ بِهِمَا ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ كَذَبَ قَدْ عَلِمَ أَنِّي مِنْ أَتْقَاهُمْ لِلَّهِ وَآدَاهُمْ لِلأَمَانَةِ

Kisah ketiga diriwayatkan dalam hadits sunan Nasa’i 4628 dimana dikisahkan bahwa Aisyah RA menyuruh seseorang untuk membeli pakaian dari seorang saudagar Yahudi dengan pembayaran belakangan. Namun pada akhirnya dia tidak mau dan menolaknya.

Dari banyaknya ulasan dan kisah-kisah Rasulullah diatas. Kita bisa menyimpulkan bahwa sebagai orang islam kita diperbolehkan untuk bermuamalah dengan orang-orang non-islam. Tentu dalam batas-batasan tertentu seperti Wala’ dan hal yang dimuamalahkan tidak melanggar hukum dan kaidah islam. Semoga bermanfaat!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!