Hadits Arbain Nawawi 5: Ingin Diterima Amalannya? Kaji dulu Ilmunya!

0
538

“Eh bro, itu orang sholat apaan yak? kok berdirinya lama, trus sujudnya juga lama gitu” celetuk seorang lelaki kepada teman disampingnya yang merupakan hadirin shalat jumat pada siang hari itu.

“Emm, aku nggak tahu tuh, mungkin dia sedang mencoba sholat dengan khusyuk tuh, jadi di lama-lamain gitu” jawab temannya yang ternyata tidak mengetahui hal itu juga.

“Aku juga mau sholat kayak gitu deh bro” teman yang bertanya tadi kemudian berdiri untuk melakukan sholat dengan meniru orang yang dilihatnya tersebut, tanpa mengetahui bahwa orang tersebut sedang melaksanakan sholat Tasbih menjelang adzan sholat jumat dikumandangkan.

Nah, sobat cahayaislam yang di rahmati oleh Allah. Penggalan cerita unik yang tim cahayaislam temui minggu lalu ketika menghadiri sholat jumat di sebuah masjid lebih awal dari biasanya menunjukkan bahwa betapa pentingnya sebuah ilmu untuk di miliki. Tanpa ilmu seorang akan membabi buta melakukan sesuatu tanpa ada arah yang jelas. Tanpa ilmu, seseorang akan bertindak ngawur (iya kalau benar, kalau salah?). Peristiwa tersebut membawa tim cahayaislam untuk membahas salah satu hadits arbain nawawi nomor 5 sebagai berikut ini:

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أُمِّ عَبْدِ اللَّهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ: رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم “مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa “berinovasi” (menciptakan sesuatu yang baru) dalam islam yang tidak ada hal di dalamnya (dalam ajaran islam yang berasal dari Al Quran dan sunnah Rasulullah), maka itu akan ditolak oleh Allah.

HARUS Mengkaji ilmu-nya terlebih dahulu agar yang di amalkan diterima Allah

Hadits arbain nawawi 5 tersebut menjadi sebuah landasan pentingnya mengkaji ilmu sebelum mengamalkannya. Hal ini menjadi syarat mutlak diterimanya sebuah amalan seorang hamba. Anda harus berlajar ilmu dari al Quran dan Al Hadits terlebih dahulu tentang sholat agar sholat anda sesuai dengan ajaran Rasulullah. Anda perlu belajar terlebih dahulu hukum-hukum puasa dan ketentuannya agar anda bisa melaksanakan dengan benar. Anda perlu mengkaji tata-cara haji sebelum melaksanakannya. Dan lain sebagainya. Hadits Arbain nawawi ini juga di dukung oleh salah satu hadits riwayat muslim 1718 yang memiliki penjelasan yang sama:

وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، جَمِيعًا عَنْ أَبِي عَامِرٍ، قَالَ عَبْدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الزُّهْرِيُّ، عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ سَأَلْتُ الْقَاسِمَ بْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ رَجُلٍ، لَهُ ثَلاَثَةُ مَسَاكِنَ فَأَوْصَى بِثُلُثِ كُلِّ مَسْكَنٍ مِنْهَا قَالَ يُجْمَعُ ذَلِكَ كُلُّهُ فِي مَسْكَنٍ وَاحِدٍ ثُمَّ قَالَ أَخْبَرَتْنِي عَائِشَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Larangan menciptakan hal baru dalam islam dengan alasan apapun! 

Innovasi baru dalam islam ini sangatlah berbahaya, karena dekat dengan bid’ah. Rasulullah sendiri pernah dalam suatu khotbah dengan marah-marah seraya memberi peringatan kepada umatnya tentang hal ini. Kisah tersebut dijelaskan dalam riwayat Nasa’i 1578.

أَخْبَرَنَا عُتْبَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ أَنْبَأَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ ‏”‏ مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ ‏”‏ ‏.‏ ثُمَّ يَقُولُ ‏”‏ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ ‏”‏ ‏.‏ وَكَانَ إِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وَجْنَتَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ نَذِيرُ جَيْشٍ يَقُولُ ‏”‏ صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ ‏”‏ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ ‏”‏ مَنْ تَرَكَ مَالاً فَلأَهْلِهِ وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضِيَاعًا فَإِلَىَّ أَوْ عَلَىَّ وَأَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ

Tidak tanggung-tanggung, dalam khotbah tersebut (yang kami tebalkan), Rasulullah bahkan mengungkapkan bahwa sejelek-jeleknya perkara adalah perkara baru yang diciptakan (tanpa ada landasan ajaran dari Allah dan Rasul), dan perkara itu adalah bid’ah, serta semua hal bid’ah tempatnya adalah neraka. Seram bukan? Semoga kita bisa terhindar dari hal tersebut. Maka dari itu, marilah kita perbanyak mengaji ya, sobat cahayaislam!

 

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!