Inilah Contoh Nasikh dan Mansukh dalam Kajian Mengenai Al Qur’an dan Hadits

0
3580
Contoh Nasikh dan Mansukh

Contoh nasikh dan Mansukh – Contoh Nasikh dan Mansukh sering dibahas ketika berbincang mengenai hadits maupun ayat dalam Al Quran. Mengapa ada istilah ini dalam pembahasan mengenai dalil atau landasan hukum?

Ada berbagai dalil yang menjadi landasan hukum di dalam Al Qur’an dan hadits. Namun beberapa dalil tersebut ada yang sudah dihapus dan digantikan dengan dalil yang baru. Ini lah yang dimaksud dengan Nasikh dan Mansukh dalam kajian mengenai Al Qur’an dan hadits.

Pengertian Nasikh dan Mansukh

Nasikh dan Nansukh merupakan salah satu cabang dari ilmu kajian Quran atau Ulumul-Qur’an. Ilmu ini membahas tentang dalil yang dihapus dari Al Qur’an dan hadits serta apa saja dalil yang menggantikannya.

Dari segi bahasa, Nasikh dan Mansukh merupakan dua kosakata yang memiliki ciri sebagai subyek dan obyek. Dua istilah ini berasal dari kata “nasakha-yansakhu-naskhan” yang memiliki arti menghapus dan memindahkan.

Nasikh adalah istilah yang masuk dalam kategori subyek (ism fa’il) yang artinya menghapus. Sebaliknya, Mansukh masuk dalam kategori objek (ism maf’ul bih) atau yang di hapus. Dalam hal ini yang dihapus adalah dalil dalam Al Quran dan hadits.

Contoh Nasikh dan Mansukh dalam dalil yang syar’i yaitu ketika ada sebuah dalil yang dihapus dan digantikan dengan dalil baru, sehingga dalil yang sebelumnya tidak berlaku lagi. Dengan kata lain makna Nasikh dan Mansukh yaitu,

Contoh Nasikh dan Mansukh dalam Dalil Al Quran dan Hadits

Contoh Nasikh dan Mansukh

Ada banyak dalil yang pernah tertulis dalam Al Quran dan mengalami pembaharuan, dihapus menggunakan dalil yang baru. Salah satunya mengenai masalah wasiat dan waris. Simak dalil pertama dalam surah Al Baqarah ayat 180 berikut,

كُتِبَ عَلَيْكُمْ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرًا ۖ ۨالْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ ۗ

“Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al Baqarah:180)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa orangtua berhak mendapatkan wasiat. Dalil tentang wasiat ini kemudian dihapus, atau dilakukan tindakan Nasikh. Sebagai gantinya, Allah menurunkan aturan tentang warisan dalam surah An Nisa ayat 11,

يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْٓ اَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِ ۚ فَاِنْ كُنَّ نِسَاۤءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۚ وَاِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۗ وَلِاَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ اِنْ كَانَ لَهٗ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلَدٌ وَّوَرِثَهٗٓ اَبَوٰهُ فَلِاُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَاِنْ كَانَ لَهٗٓ اِخْوَةٌ فَلِاُمِّهِ السُّدُسُ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

“Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. An Nisa:11)

Dalil tentang wasiat yang dihapus dalam QS Al Baqarah ayat 180 merupakan dalil syar’i yang dihapus atau disebut juga sebagai Mansukh.  

Dalam hal dalil tentang hukum warisan dan wasiat ini terdapat perbedaan pengertian di dalamnya yaitu:

  • Jumlah harta wasiat jumlahnya ditentukan oleh si pembuat wasiat sebagai pemilik harta.
  • Besaran jumlah harta warisan ditentukan oleh Allah SWT.

Dengan demikian, setelah turun QS An Nisa ayat 11, maka orangtua tidak lagi berhak atas harta wasiat anaknya, kecuali atas seizin ahli waris lainnya.

Penghapusan dalil atau hukum ini memiliki beberapa jenis yaitu,

1. Dihapus Bacaannya Saja

Dalil ini hanya dihapus bacaannya saja namun hukumnya tetap berlaku. Contoh Nasikh dan Mansukh dalam kasus ini yaitu pada ayat tentang hukuman hadd yang dijatuhkan kepada pelaku zina yang telah menikah. Walaupun ayat yang mengatur tentang hukuman hadd telah dihapus, namun hukumnya tetap berlaku.

Contoh Nasikh dan Mansukh

2. Bacaannya Masih Ada Namun Hukumnya Dihapuskan

Kondisi ini berlaku seperti pada ayat tentang wasiat untuk orang tua pada QS AL Baqarah ayat 180 dimana ayatnya tetap ada namun hukumnya sudah tidak berlaku.

3. Dihapus Baik Bacaan Maupun Hukumnya

Contoh Nasikh dan Mansukh untuk kondisi ini terjadi pada ayat yang memuat dalil tentang hubungan persusuan (radha’ah) yaitu sepuluh kali susuan. Baik ayat maupun hukumnya telah dihapus dan diubah menjadi lima belas kali susuan.

Sobat Cahaya Islam, memahami dalil dalam Al Quran dan hadits membutuhkan telaahbyang mendalam. Ketahui apa saja contoh Nasikh dan Mansukh agar kita mengetahui hukum mana saja yang sudah dihapus dan tidak diberlakukan lagi dalam Islam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY