Agama dan Skala Prioritas? (Nasehat Agama Tentang Keseimbangan Dunia dan Akhirat)

1
1261

Beberapa waktu yang lalu tim Cahayaislam kebetulan singgah disalah satu masjid yang ada di satu Kota besar di Jawa Tengah sepulang dari mencari beberapa inspirasi dengan mengikuti beberapa acara pengajian besar untuk mendengarkan nasehat agama dari para ulama yang rutin kami lakukan untuk sekedar ngecharge keimanan kita supaya terisi penuh kembali (tidak hanya smartphone saja yang perlu diisi ulang dayanya, keimanan kitapun perlu).

Kebetulan waktu itu memang sudah masuk jam sholat Isya, dan sebagai Muslim yang selalu berusaha menta’ati peraturan Allah dan Rasul, kita berhenti sejenak untuk melaksanakan kewajiban Sholat. Namun, ada hal yang janggal pada masjid tersebut. Masjid besar yang tampak megah dengan konsep bangunan arsitektur yang kontemporer itu sepi jamaah sholat isya yang (bila anda sering sholat berjamaah di Masjid, anda akan tahu) biasanya merupakan waktu sholat berjamaah yang paling ramai selain waktu sholat Maghrib.

Tentunya hal ini mengundang tanya dibenak kami. Kami bertanya-tanya kenapa masjid yang dibangun semegah ini terlihat sangat sunyi? Bukankah seharusnya semakin megah sebuah rumah ibadah, maka semakin nyaman pula untuk digunakan, dan pastinya akan lebih banyak orang yang lebih betah dimasjid?

Kami tidak terbiasa untuk membiarkan rasa penasaran kami begitu saja. Tim Cahayaislam kemudian bertanya-tanya soal fenomena ini pada pengurus masjid. Benar saja, bahwa memang masjid ini selalu sepi meskipun memiliki bangunan yang begitu indah. Pengurus masjid tersebut mengatakan bahwa masjid ini dibangun disekitar lingkungan muslim elit yang kebanyakan warganya adalah pengusaha sukses. Untuk membangun masjid semegah ini sih gampang! Namun untuk sekedar mengunjunginya mereka tidak punya waktu – ungkap sang pengurus masjid tersebut.

Skala Prioritas dalam Beribadah yang sering dilupakan!

Mungkin hal ini merupakan salah satu hal kecil diantara banyak sekali polemik dalam kehidupan beragama islam. Di zaman yang modern ini, banyak orang yang beranggapan bahwa agama merupakan “benda mati” yang harus digerakkan dengan materi. Hal-hal seperti ikut membantu dalam pembangunan masjid, bersedekah berkwintal sembako pada yayasan anak yatim, berbagi banyak nasi bungkus untuk banyak orang di bulan Ramadhan, dan lain sebagainya yang mirip-mirip dimana kita mengeluarkan sejumlah Dana untuk beramal dengan kepercayaan bahwa semakin banyak kita bershodaqoh, maka semakin banyak pula pahala yang kita dapat. Sekilas mungkin terdengar masuk akal dan baik, namun ada hal-hal menjadi buram disini dan banyak dilupakan oleh muslimin dan muslimah dikehidupan modern ini: skala prioritas dalam beribadah!

Gemar Mengaji dan mendengarkan nasihat Agama sebagai jalan keluarnya

Agar anda tidak termasuk orang-orang yang lalai dalam ibadah anda, anda harus senantiasa terus menimba ilmu dari Al-Quran dan Alhadits serta sering mendengarkan nasihat agama supaya anda senantiasa diingatkan untuk tidak lalai dalam beribadah (karena Agama itu nasihat). Islam memiliki hukum yang secara detail membahas tentang apa saja jenis pengamalan yang bila anda tinggalkan akan memberikan anda dosa, dan jenis pengamalan apa sajakah yang bila anda tinggalkan, anda tidak berdosa.

Apa gunanya membangun masjid megah dengan ornamen emas dan berlian misalnya, bila kita sendiri melupakan sholat 5 waktu kita? Apa gunanya kita bersedekah takjil dibulan Ramadhan, namun disisi lain kita tidak melakukan puasa? Bukankah sudah terpampang jelas dalam surah Saba’ ayat 36 bahwasanya “bukanlah harta-hartamu dan anak-anakmulah yang bisa mendekatkan kepadaKu (Allah), melainkan orang-orang yang mengerjakan Amal-amal sholih, dan mereka akan merasa Aman di Surga Kami yang Tinggi” ? Jadi jalankan skala prioritas anda dalam beribadah sekarang! Semoga nasehat islam tentang kehidupan kali ini bermanfaat untuk kita semua, Amiin.

1 KOMENTAR

  1. […] Kata (وَأَقِيمُو) dalam ayat perintah Allah di Surat Al-Baqarah 43 ini menurut para alim ulama mengandung makna penekanan yang kuat. Anggap saja dari skala 1 sampai 10 (1 paling lemah dan 10 paling kuat penekanannya), maka skala yang ada dalam lafad ini adalah 10. Kita diperintahkan untuk menetapi shalat dan mendatangkan zakat dengan sebenar-benarnya pengamalan. Adapun tolok ukur dari sebenar-benarnya disini bisa diukur dari dua aspek, yakni (1) menetapi waktunya, dan (2) skala prioritasnya. (artikel terkait disini) […]

Ikut Berkomentar Yuk!