3 Hal Buruk Identik dengan Hari Valentine yang Harus Muslim Hindari

0
378

Banyak orang-orang di luar sana yang menunggu-nunggu akan kehadiran tanggal 14 di bulan Februari. Hal itu tidak lain dan tidak bukan berhubungan dengan perayaan valentine. Dan tipikal orang-orang indonesia, banyak yang terpengaruh pada budaya-budaya kebarat-baratan seperti demikian. Sebagai seorang muslim yang baik, kita ditekankan untuk tidak berpartisipasi apapun pada acara perayaan tersebut. Sebagian alim ulama mungkin banyak yang mengatakan boleh bila hanya sekedar memberi ucapan selamat hari valentine sebagai perwujudan toleransi. Namun kebanyakan dari bahkan melarang hal tersebut.

Dalam artikel-artikel yang tersebar membahas perihal asal muasal hari valentine. Banyak sekali versi yang diklaim sebagai cikal bakal perayaan ini. Menurut buku ensiklopedia dunia, tim cahayaislam mendapati bahwa sebenarnya asal muasal perayaan valentine’s day adalah perayaan di zaman Romawi kuno dimana para wanita melakukan persembahan kepada dewi Juno (Dewi cinta). Prosesi acara ritual tersebut dilakukan sekitar tanggal 13 sampai 18 Februari yang disebut dengan ritual Lupercalia.

Baru setelah pemahaman kristiani katolik mulai beredar di Roma, para priest dan penguasa roma kemudian mengadaptasi ritual tersebut sebagai salah satu bentuk kegiatan untuk mendekatkan pada ajaran katolik. Terlebih lagi dengan matinya seorang pastor bernama St. Valentine pada tanggal 14 Februari, di gereja-gereja Roma diadakan acara perayaan penghormatan kepada sosoknya.

Nah, kira-kira itu sedikit cerita asal muasal perayaan hari valentine yang sering dirayakan oleh banyak orang di dunia pada tanggal 14 Februari. Pada artikel tim cahayaislam kali ini, kami akan mencoba untuk memberikan 3 alasan keburukan identik dengan valentine sebagai alasan-alasan agar sobat cahayaislam tidak ikut-ikutan meramaikan perayaan tersebut.

Valentine identik dengan maraknya perbuatan zina

Bila hari valentine pada zaman Romawi kuno merupakan ritual yang berkaitan dengan paganisme yang sesat. Perayaan valentine pada tanggal 14 Februari di era modern telah berubah drastis menjadi sebuah waktu untuk melakukan pergaulan bebas. Banyak acara-acara yang digelar untuk merayakan hari valentine ini seperti party, pertukaran kado, berkencan yang ujung-ujungnya menjerumuskan pada pelanggaran had zina. Padahal Allah sendiri telah melarang perbuatan itu dalam surat Al isro ayat 32.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah engkau dekat-dekati zina; sungguh zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Bisa anda cek di luar sana ketika hari valentine. Penjualan kondom meningkat drastis, losmen-losmen dan hotel banyak yang penuh. Keburukan pertama hari valentine adalah hari tersebut banyak menyelewengkan pemikiran para generasi muda bahwa perzinaan menjadi sesuatu yang diperbolehkan sebagai wujud ungkapan cinta pada hari valentine. Sungguh memprihatinkan.

 

Valentine yang identik dengan pemborosan yang mengedepankan hawa nafsu

Biasanya beberapa minggu sebelum dan sesudah valentine, banyak toko-toko yang mengemas dan memajang produk-produk seperti kado, parcel cokelat, bunga dan masih banyak lagi sebagai bentuk peringatan hari valentine. Banyak orang kemudian kalap dan membeli barang-barang tersebut untuk di hadiahkan kepada pasangannya. Banyak yang menghambur-hamburkan uang dan membeli banyak hal yang sebenarnya tidak dia butuhkan. Padahal sikap boros tersebut dikatan merupakan sikap teman dari shaitan dalam surat Al isra’ ayat 26 dan 27.

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu) secara tidak karuan (boros). Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah kerabat syaitan.”

Menyelisihi perintah Rasulullah agar tidak menyamai orang Yahudi dan Nasrani

Salah satu landasan kuat kenapa kita kaum muslim tidak boleh ikut andil dalam perayaan hari valentine ini adalah bahwa dengan ikut serta di dalamnya, maka kita telah menyelisihi perintah Rasulullah untuk menyelisihi dan berbeda dengan kaum yahudi dan nasrani. Seperti salah satunya yang dijelaskan dalam hadits riwayat Abu Dawud 4031.

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ ثَابِتٍ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي مُنِيبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!