Sejarah Islam: Adam dan Hawa, Manusia Pertama yang Diturunkan Allah ke Bumi

0
810

Ketika ditanya siapakah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, pasti kita langsung akan menjawab Adam. Memang benar begitulah adanya. Adam bukan hanya sebagai manusia pertama tetapi juga nabi dan rasul pertama. Adam pada mulanya diciptakan untuk tinggal di surga dengan Hawa sebagai pendampingnya. Dalam sejarah Islam, Adam dan Hawa akhirnya diturunkan Allah ke bumi karena melanggar larangan Allah. Kisah tentangnya cukup menarik untuk kita simak.

Larangan Memakan Buah Khuldi

Dalam sejarah agama Islam, Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama dan berhak hidup di surga. Bahkan Allah menciptakan Hawa sebagai wanita untuk mendampingi hidupnya dan melengkapi kebahagiaannya. Allah mempersilahkan menikmati apa saja di dalam surga karena memang tidak ada kesedihan dan hanya ada kebahagiaan di surga.

Tapi, Allah memberikan satu larangan kepada mereka berdua yaitu memakan satu buah, yang kita kenal dengan nama buah Khuldi. Allah juga memgingatkan agar jangan pernah tertipu daya dengan setan. Namun, apa yang terjadi? Setan yang memang tidak pernah mau tunduk kepada Allah selalu ingin menyesatkan Adan dan Hawa, yang mana kisahnya akan diceritakan dalam sejarah Islam ini.

Adam dan Hawa Termakan Bujuk Rayu Setan

Setan sangat iri dengan Adam yang lebih dimuliakan Allah. Itulah kenapa setan ingin sekali menjungkalkan Adam. Dalam cerita agama Islam, disebutkan kalau setan terus menerus membujuk Adam dan Hawa agar memakan buah Khuldi yang dilarang oleh Allah.

Akan tetapi awalnya Adam menolak. Hingga setan mengatakan kalau siapapun yang memakan buah tersebut akan menjadi malaikat dan hidup di surga selamanya. Setelah bujukan demi bujukan gagal, akhirnya Adam dan Hawa termakan oleh bujuk rayu setan juga. Inilah kenapa dalam sejarah Islam dijelaskan kalau Allah mengusir mereka berdu dari surga.

Adam dan Hawa Bertaubat

Mengetahui kesalahannya, Adam dan Hawa pun akhirnya mesesal. Mereka berdua terus meminta ampunan kepada Allah agar Alla memaafkannya. Tapi, setiap kesalahan pasti ada resikonya, setiap perbuatan pasti ada balasannya. Allah pun memaafkan Adam dan Hawa, tapi dengan syarat mereka diturunkan ke bumi. Inilah kesalahan fatal nabi Adam dan Hawa yang membuat mereka melepaskan kehidupan yang penuh kenikmatan di surga dan harus berjuang hidup di bumi. Dalam sejarah Islam, akhirnya Allah menurunkan mereka berdua di bumi.

Adam dan Hawa Diturunkan ke Bumi

Hidup di bumi tentu saja sangat berbeda dengan hidup di surga. Bahkan, dalam sejarah Islam, Adam dan Hawa pun tidak diturunkan ke bumi di tempat yang sama. Mereka harus saling mencari terlebih dahulu sebelum akhrinya saling bertemu. DI bumi, mereka harus berjuang hidup dan tentu saja godaa setan semakin banyak. Dimulai dengan Adam dan Hawa di dunia ini, hingga kini akhirnya kita manusia hidup semakin banyak. Ada yang beriman kepada Allah, ada pula yang kafir terhadap Allah.

Hikmah yang Bisa Diambil

Sobat Cahayaislam, dari sejarah Islam di atas, ada banyak sekali hikmah yang bisa kita petik. Sebagai umat muslim, kita harus selalu menjaga iman kita agar tidak terpengaruh bujukan setan karena bujukan setan sangatlah kuat, bahkan nabi adam saja pernah terbujuk oleh rayuannya.

Selain itu, kita jug sebagai umat Islam harus selalu berjuang jika ingin hidup bahagia penuh kenikmatan di surga. Untuk itu, kita harus selalu taat kepada Allah dan Rasulnya. Allah berfirman dalam Quran surat An Nisa ayat 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!