Sedang Mencari Kerja? Perhatikan 3 Syarat dari Rasulullah ini ya!

0
1284

Sobat Cahayaislam ada yang sedang mencari pekerjaan? Kalau jawabannya iya, maka perlulah memperhatikan beberapa hal penting yang merupakan wejangan dari baginda Rasulullah SAW dalam hal mencari maisyah. Ini tidak hanya berlaku untuk sobat Cahayaislam yang sedang mencari pekerjaan saja lho. Isi artikel ini bisa juga penting untuk tetap mengingatkan kepada semua umat muslim yang ingin selalu berusaha mendapatkan ridho dan Rahmat dari Allah dalam bekerja. Apa saja wejangan Rasulullah itu? Langsung cek aja deh!

Mencari sumber Rejeki yang Halal jauh dari keharaman

Tentu saja! Tim Cahayaislam tidak jenuh menasihatkan hal ini kepada sobat Cahayaislam semua. Dalam kehidupan yang serba praktis dan modern ini sangatlah mudah bagi kita kaum muslim yang beriman kepada Allah untuk terjebak dalam hal-hal yang haram, bahkan tanpa menyadarinya. Hal ini selalu kami coba wanti-wanti kepada sobat Cahayaislam, mengingat betapa pentingnya memilah-milah pekerjaan yang halal dan menjauhi yang haram (seperti yang diperintahkan dalam salah satu hadits riwayat Ibn. Majah dibawah ini)

  وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ …

Mencari maisyah dari sumber yang haram sangat tidak dianjurkan dalam islam. Selain karena bisa menjadi tersangka utama dalam tidak mustajabnya do’a yang kita panjatkan kepada Allah (seperti yang bisa dinukil dalam hadits Muslim 1015), rejeki yang haram bahkan bisa menjauhkan kita dari surga Allah.

Pekerjaan yang mabrur dan dipenuhi Barokah dari Allah

Berbicara tentang pekerjaan yang diberkahi oleh Allah, hal ini tidak bisa dipisahkan dari hukum halal haram yang telah tim Cahayislam ulas diatas. Rasulullah, dalam salah satu hadits riwayat Ahmad yang merupakan hadits hasan, pernah ditanya oleh salah satu sahabat tentang apa itu pekerjaan yang paling baik. Ini dia jawaban Rasulullah:

قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ …

Rasulullah menjawab bahwasanya pekerjaan yang terbaik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangan sendiri dan jual beli yang mabrur. Beberapa alim ulama menyatakan bahwa rejeki yang penuh berkah tidak melulu dilihat dari seberapa banyak jumlah yang didapatkan, namun berkah dan tidaknya rejeki tersebut bisa ditinjau dari dua hal (1) bagaimana cara dia mendapatkannya (jenis pekerjaannya), dan (2) Bagaimana orang tersebut membelanjakan rejeki tersebut. Jadi sebagai muslim yang beriman, akankah lebih baik bila kita lebih memprioritaskan keberkahan dalam pekerjaan kita daripada besarnya yang kita dapat dari pekerjaan tersebut.

Menjauhi pekerjaan yang membuat orang lain dirugikan

Ada satu hadits yang diriwayatkan muslim yang menceritakan tentang larangan keras menimbun barang karena itu adalah perbuatan dosa. Dalam beberapa definisi para ahli hadits yang tim Cahayaislam temui, berkata bahwasanya hadits ini bisa diartikan pada pekerjaan yang membuat sengsara atau membawa mudharat kepada orang lain.

Dizaman modern sekarang ada banyak sekali pekerjaan yang sekilas terlihat membantu, namun pada dasarnya memberikan kesengsaraan kepada orang yang ikut serta didalamnya. Contohnya dalam praktik kredit berbunga. Jika dilihat sekilas praktik transaksi ini terlihat meringankan mereka yang sedang membutuhkan suatu barang yang ditransaksikan. Namun pada kenyataannya, ada tujuan meraup keuntungan dibalik hal itu, dan banyak sekali orang-orang yang terjerat didalamnya mendapatkan kesengsaraan, bahkan banyak yang bunuh diri karena terlilit hal itu (naudzubillahi mindzalik). Selain menyengsarakan, praktik tersebut juga mengandung unsur riba yang dalam ajaran islam telah disepakati haram hukumnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!