Renungan Tentang Berbagi: Kisah Tetangga Miskin dan Sebuah Lilin

0
1693

Sudahkah anda berbagi dan bershodaqoh hari ini? Itulah satu dari banyaknya pertanyaan yang merupakan sekaligus pengingat untuk kita agar selalu memiliki keinginan (willing) dan kebiasaan untuk menyisihkan apa yang kita punya untuk diberikan kepada sesama kita yang membutuhkan. Dalam artikel lain tentang amalan yang mendekatkan rejeki (disini), kami juga telah membahas bahwa beshodaqoh atau berderma tidak berarti anda kehilangan harta anda, namun Allah telah berjanji bahwa akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan satu kisah renungan tentang berbagi yang kami dapatkan dari seorang sahabat Cahayaislam yang beberapa waktu yang lalu menceritakan kepada kami. Simak deh.

Kisah tetangga miskin dan sebuah lilin yang menginspirasi

Dalam kisah Renungan Tentang Berbagi yang kami dengar tersebut diceritakan ada seorang wanita yang pindah kerumah baru mereka. Wanita itu memiliki rumah besar yang bagus dan megah dengan konstruksi yang modern dan berlantai marmer. Pemilik rumah itu adalah seorang pengusaha kain yang kaya raya di daerah tersebut. Namun kontras dengan rumah megah mereka, disamping rumah indah tersebut hiduplah sebuah keluarga miskin tetangga mereka di rumah kayu yang reyot dan sederhana.

Dihari pertama setelah wanita kaya itu pindah dirumahnya yang megah tersebut, kebetulan ada pemadaman listrik bergilir yang dilakukan. Pada malam hari matilah listrik di daerah tersebut. Pemilik rumah dengan tanggap mencari lilin dan menyalakannya untuk memberikan penerangan dibeberapa tempat dirumah megah tersebut. Karena rumah mereka besar, maka banyaklah lilin yang mereka gunakan pada malam itu. Ketika sedang menyalakan beberapa lilin, terdengarlah sayup-sayup suara pintu depan yang diketuk.

Wanita (pemilik rumah) tersebut kemudian membukakan pintu dan terlihatlah sosok anak kecil di depan pintu depan rumah mereka. Ternyata anak kecil itu merupakan anak dari keluarga miskin yang tinggal dirumah reyot disebelah rumah megah miliknya. Anak kecil tersebut kemudian berkata “Apakah kakak punya lilin?”

Wanita pemilik rumah megah tersebut memiliki pemikiran dalam hatinya untuk tidak memberikan lilin karena khawatir kalau dia gampang memberikan sesuatu untuk orang miskin, maka mereka akan punya kebiasaan meminta kepadanya. Sembari mamasang muka datar kepada anak kecil tersebut (padahal wanita tersebut memiliki banyak lilin yang dipasang dirumahnya, karena rumahnya besar dan megah), wanita tersebut kemudian menjawab “Aku tidak punya lilin dik”.

Jawaban yang kemudian dilontarkan anak kecil tersebut sangat tak terduga. Anak kecil tersebut dengan wajah riang menjawab “aku sudah menduganya kalau kakak tidak memiliki lilin kerena ini hari pertama kakak pindah kesini, kami kuatir kakak tidak ada lilin yang bisa digunakan. Jadi saya diperintahkan ayah dan ibu untuk membawakan 3 buah lilin untuk kakak pakai” dengan nada gembira. Mendengar jawaban anak kecil tersebut, meneteslah air mata wanita pemiliki rumah megah tersebut, lalu memeluk anak kecil tetangganya tersebut.

Apa yang bisa dipetik dari kisah tersebut?

Banyak hal yang bisa kita petik dari kisah Renungan Tentang Berbagi tersebut. Bisa saja kita mendapatkan pelajaran untuk berbuat baik kepada tetangga kita. Dan dalam konteks artikel ini, kami menekankan untuk membiasakan berbagi kepada sesama dengan ikhlas dan jangan pelit-pelit untuk berderma.

Ingat, Allah tidak menilai kita dari seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, melainkan dari bagaimana kita menggunakan harta tersebut. Bukankah banyak orang mengatakan bahwa kekayaan bukan tentang seberapa megah rumah kita dan uang yang kita punya, namun dari seberapa usaha kita untuk bisa dan mampu untuk berbagi? Kita tidak bisa memberikan label bahwa mereka yang kaya adalah orang yang memiliki segalanya atau mereka yang miskin tidak memiliki apa-apa. Namun, mereka yang berani dengan ikhlas berbagi adalah orang-orang yang tidak khawatir tentang apa yang mereka punya, karena mereka telah punya segalanya di dalam hati mereka. Mari berbagi!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!