Renungan 17 Agustus: Kemerdekaan Bangsa dalam Perspektif Islam

0
666

Renungan 17 Agustus – Euphoria kemerdekaan di Indonesia pada bulan Agustus selalu memiliki kekhasannya masing-masing di setiap daerah. Ada dari beberapa daerah di Indonesia melakukan perkumpulan malam dalam satu forum setiap kampung. Di beberapa kota besar di Indonesia bahkan berpesta pora dan menggelar beberapa festival kemerdekaan. Tak lupa kultur lomba 17an yang selalu memadati setiap perkampungan dan hiruk pikuk 17 Agustus, hari kemerdekaan Indonesia. Namun, yang selalu menjadi pertanyaan adalah: benarkan kita sudah benar-benar merdeka?

Dalam artikel ini Renungan 17 Agustus, tim Cahayaislam akan mencoba mengajak sobat Cahayaislam untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu. Tentunya dalam ranah cara pandang islam, yang merupakan agama mayoritas di Indonesia kita ini.

Kontras kemiskinan bangsa dan tingkat kesadaran kita dalam bersedekah

Mereka yang kaya semakin menumpuk kekayaan mereka tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya. Itulah yang terjadi di Indonesia kita yang sudah merdeka ini. Masih banyak keadaan-keadaan memprihatinkan yang sebenarnya akan teratasi bila kita memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dalam bersedekah. Kontras kemiskinan bangsa semakin menjadi-jadi di Negeri ini.

Hal ini sungguh bertolak belakang dengan ajaran islam. Islam selalu mengajarkan untuk berderma. Menyisihkan sebagian harta yang kita miliki untuk diberikan kepada mereka saudara kita yang membutuhkan. Wejangan-wejangan Rasulullah tentang berbagi dan saling mengasihi, terutama kepada mereka orang-orang miskin sudah terabaikan di negeri ini. Kita memang telah merdeka, namun kita belum benar-benar merdeka.

Sepinya masjid ada disetiap sudut kota dan ramainya tempat maksiyat

Memang sih Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang mayoritas islam. Kita tidak menemui kesulitan dalam mencari masjid di Indonesia ini. Namun, dalam kemudahan itu, masjid masih lebih sepi dibanding tempat-tempat maksiyat seperti diskotek, cafe, tempat prostitusi dan masih banyak lagi. Kita memang sudah merdeka, namun kita yang notabene mayoritas islam masih terkurung dalam penjara rusaknya dunia.

Banyak generasi-generasi muda Indonesia mulai menganggap bahwa mereka yang menghabiskan waktunya untuk mengunjungi masjid adalah orang-orang yang kurang pergaulan dan cupu. Sedangkan mereka yang menghabiskan waktu ngobrol sesuatu yang tidak bermanfaat dan berfoya-foya merupakan sesuatu yang keren. Bangsa kita masih terjajah dalam hal moralnya. Moral yang semakin jauh dari rahmat Allah.

Konsesi politik dan pemimpin-pemimpin yang menjajah rakyatnya

Renungan 17 Agustus selanjutnya haruslah jatuh pada keadaan pemerintahan negeri ini. Politik negeri ini (sudah menjadi rahasia umum) sebagai tempat untuk menyalah gunakan kekuasaan. Pemimpin yang seharusnya sebagai sebuah amanah dan jabatan sakral sudah menjadi sebuah takhta emas dengan label penguasa yang bisa melakukan apa saja. Bukan sebagai beban yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat nanti. Berkebalikan dengan zaman Rasulullah dan khalifah-khalifah islam terdahulu. Rasulullah sebagai pimpinan orang islam selalu dekat dengan kaumnya, berjuang bersama dalam suka maupun duka.

Tak ayalnya juga pemimpin islam lainnya. Sebut saja Said bin Amir yang telah kami kisahkan dalam artikel cerita mencerahkan diwaktu yang lain, merupakan pemimpin islam yang selalu mengedepankan rakyatnya diatas kepentingan-kepantingannya. Indonesia memang sudah merdeka, namun kemerdekaan itu ternyata merupakan kemerdekaan semu, karena masih banyak konsesi politik yang menyebabkan pemimpin-pemimpin negeri ini malah menjajah rakyatnya sendiri.

Hal-hal diatas hanya secarik kecil dari banyak sekali polemik kemerdekaan di Indonesia yang haruslah menjadi Renungan 17 Agustus untuk kita warga muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah. Semoga dengan ini, kita bisa menjadi lebih tercerahkan dan memulai perubahan sedikit demi sedikit, walaupun dari hal yang terkecil sekalipun.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!