Membahas poligami tentu tak lepas dari berbagai kontroversi yang ada di dalamnya. Bahkan diantara para penganut Islam sendiri pun, poligami menjadi hal yang kerap dianggap ‘haram’ bagi sebagian perempuan. Dan membuat orang meragukan bahwa Islam itu menghormati wanita sebagaimana yang sering digemborkan selama ini.

Membaca judul diatas mungkin terasa aneh bagi sebagian orang, di saat kebanyakan pihak terutama non-muslim menganggap bahwa poligami justru merupakan bentuk pelecehan terhadap wanita. Sebelum menelaah lebih lanjut, perlu kita ingat bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang mengatur segala hal hingga bagian yang terkecil-kecilnya. Apalagi kalau membahas tentang wanita, ada ratusan ayat dalam Al-Quran dan Al-Hadist yang membahas tentang wanita, mulai dari cara berpakaian, cara berdandan dan bersikap. Yang kesemuanya dimaksudkan untuk melindungi kehormatan wanita. Bahkan di dalam Al-Quran pun Allah menurunkan satu surat khusus yang diberi judul ‘Wanita’ (An-Nisa).

Sebegitu besarnya Islam itu menghormati wanita sehingga mungkinkah ada satu aturan yang dibuat malah untuk fungsi yang sebaliknya, dalam hal ini poligami?

Poligami adalah Syariat Islam.

Ya, mau tidak mau, suka tidak suka, ssebagai penganut agama Islam kita harus mengakui bahwa poligami itu adalah syariat dan merupakan sunah Rasulullah SAW. Sebagaimana yang tertulis dalam surah An-Nisa: ,

{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ}

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat” (QS an-Nisaa’:3).

Walau begitu, perintah Allah dalam ayat ini tidak menunjukkan wajibnya poligami, dengan adanya kelanjutan ayat ini, yaitu firman-Nya,

{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}

Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS an-Nisaa’:3).

Lalu, apa hikmah poligami? Tidak mungkin Allah menurunkan suatu aturan jika tidak ada manfaat apapun yang terkandung di dalamnya.

Berikut ini beberapa hal yang menunjukan bahwa poligami adalah bukti bahwa Islam itu menghormati wanita:

Pertama, kita setuju kan bahwa pernikahan itu jauh lebih terhormat daripada melakukan zina atau seks bebas? Tidak dapat di pungkiri bahwa pria, memiliki syahwat yang lebih besar dibanding wanita. Terbukti dengan banyaknya tempat prostitusi dimana- mana dan jauh lebih banyak kasus pelecehan dan pemerkosaan terhadap wanita, dan bukan sebaliknya. Dalam hal ini, poligami dapat menjadi solusi ntuk memberi perlindungan dan penghormatan kepada kaum wanita dari para kaum lelaki yang tidak dapat menahan syahwatnya.

Kedua, jumlah wanita terbukti lebih banyak daripada jumlah lelaki, salah satunya karena kebanyakan lelaki bertugas di peperangan sehingga banyak yang gugur. Disini terdapat kemaslahatan sosial dan kemaslahatan bagi kaum wanita itu sendiri, terutama bagi para janda, yaitu untuk bernaung dalam sebuah rumah tangga di bawah kepemimpinan seorang suami.

Ketiga, Allah menjanjikan pahala yang besar untuk para wanita yang bersuami dan memiliki anak. Walaupun tidak disebutkan secara spesifik tentang poligami, sangat jelas bahwa wanita yang menikah (sekali pun dengan jalan poligami), Allah memberi jalan masuk surga yang lebih mudah untuk mereka yang ta`at pada suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

yang mana kemudahan ini hanya didapatkan oleh mereka yang bersuami.

Bagaimana menyikapi poligami?

Jika kita adalah seorang wanita yang belum bisa ridho suami kita melakukan poligami, maka janganlah berlebihan dalam menyikapinya apalagi sampai membenci syariat ini. Sebagaimana dalil:

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ، وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا}

Dan tidakkah patut bagi laki-laki dan perempuan yang (benar-benar) beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS al-Ahzaab:36).

Kita harus yakin bahwa Islam itu menghormati wanita, sehingga hukum apa pun yang dibuat sekali pun tampak membatasi seorang wanita pada dasarnya pastilah dimaksudkan untuk melindungi wanita dari kemudharatan. Karena Allah adalah zat yang maha mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!