Penjelasan Perintah Allah di Surat Al-Baqarah 43

0
2359

Dalam Al-qur’an dan Al-hadits, bila kita mengkajinya dengan sungguh-sungguh, maka sebenarnya kita memiliki banyak sekali kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai orang islam. Kewajiban-kewajiban tersebut tersurat dalam banyak perintah Allah dan sunnah Rasulullah dalam berbagai tipe, baik itu yang mutlak ataupun yang bersifat sunnah. Salah satunya yang akan kita bahas kali ini adalah perintah Allah di Surat Al-Baqarah 43. Firman Allah tentang apa yang harus dikerjakan oleh orang beriman.

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan menetapilah shalat serta mendatangkanlah zakat kalian semua! Dan ruku’lah kalian beserta orang-orang yang ruku’ (Al Baqarah 43)

Sekilas mungkin kita melihat ayat ini sebagai ayat tipikal biasa yang memerintahkan orang islam yang beriman untuk melaksanakan kewajiban mereka untuk shalat dan zakat. Namun keterangan yang diberikan oleh beberapa alim ulama lebih detail dari itu.

Menetapi dan mendatangkan dengan sebenar-benarnya

Kata (وَأَقِيمُو) dalam ayat perintah Allah di Surat Al-Baqarah 43 ini menurut para alim ulama mengandung makna penekanan yang kuat. Anggap saja dari skala 1 sampai 10 (1 paling lemah dan 10 paling kuat penekanannya), maka skala yang ada dalam lafad ini adalah 10. Kita diperintahkan untuk menetapi shalat dan mendatangkan zakat dengan sebenar-benarnya pengamalan. Adapun tolok ukur dari sebenar-benarnya disini bisa diukur dari dua aspek, yakni (1) menetapi waktunya, dan (2) skala prioritasnya. (artikel terkait disini)

Dua aspek tersebut haruslah sejalan dengan baik. Shalat misalnya, dalam shalat 5 waktu masing masing shalat baik itu shalat subuh, dzuhur, ashar, maghrib maupun isya memiliki waktu dan batas waktu yang berbeda. Nah, menetapi waktu shalat dengan melaksanakan shalat ditepat waktu adalah kuncinya. Anda belum dikatakan menetapi shalat dengan sebenar-benarnya shalat seperti yang dimaksud dalam ayat ini, bila anda masih shalat diakhir waktu atau malah merapel dua waktu shalat bersamaan. Tentu dalam skala prioritas masih berhubungan. Anda tidak dikatakan sebenar-benarnya shalat bila anda lebih mementingkan hal duniawi daripada shalat anda.

Dalam zakat, kita mengenal nishof. Yaitu perhitungan perlu dizakatinya sebuah materi. Tolok ukur dua aspek diatas juga harus diaplikasikan disini. Anda belum bisa disebut orang yang sebenar-benarnya mendatangkan zakat bila anda masih mempertimbangkan antara kewajiban zakat anda dengan kebutuhan anda yang lain. Dan anda belum dikatakan mendatangkan zakat dengan sebenar-benarnya bila anda ingkar dan tidak mendatangkan zakat anda ketika waktu nishof.

Kedudukan yang sama antara shalat dan zakat

Beberapa alim ulama juga menambahkan bahwa kalimat (وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ) dalam ayat perintah Allah di Surat Al-Baqarah 43 ini menunjukkan bahwasanya kedudukan dua hal ini setara. Yakni memiliki konsekuensi hukum yang sama, yaitu bila ditinggalkan keduanya (shalat dan zakat) merupakan dosa yang besar, bahkan dalam suatu hadits diterangkan bahwasanya mereka orang-orang yang meninggalkan shalat dihukumi sebagai orang kufur. Tentu sobat Cahayaislam tidak mau dong disamakan dengan orang yang kufur kepada Allah.

Shalat berjamaah dan perintah untuk kompak sesama orang iman

Kalimat terakhir dalam ayat ini (وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ) memiliki penjelasan yang sama dari para ulama, yaitu perintah untuk lebih mengutamakan shalat berjamaah. Shalat berjamaah memiliki pahala yang lebih mulia daripada shalat sendirian tentunya, namun tidak hanya itu saja, shalat berjamaah lebih bisa membuat kita tuma’ninah dan khusyu. Selain definisi ini, para alim ulama juga menyatakan bahwa statemen ini juga berarti perintah Allah untuk sesama orang islam dan beriman agar kompak dan bersatu.

Nah, kira-kira itulah penjelasan singkat tentang perintah Allah di surat Al-Baqarah 43 yang bisa kita jabarkan disini. Semoga kita bisa sama-sama mengambil hikmah dan mempraktekkannya ya sobat Cahayaislam.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!