Pandangan Islam Mengenai Perempuan Yang Melamar Laki-Laki Terlebih Dahulu

0
1582

Sobat cahaya islam, Islam merupakan sebuah agama yang agung dan istimewa. Ajaran agama islam ini disebarkan oleh nabi agung dan terakhir yang bernama Muhammmad SAW. Nabi Muhammad merupakan seorang rasul utusan Allah SWT yang memiliki budi pekerti sesuai dengan Al Qur’an. Dalam kajian islam ini, kitab Suci Al Qur’an memuat berbagai hukum dalam setiap sendi kehidupan manusia. Hukum dalam kitab suci ini dibuat secara langsung oleh Allah SWT, Tuhan Penguasa Alam Semesta. salah satu hukum yang terdapat dalam Al Qur’an yang mulia ini adalah tentang hukum pernikahan. lalu, bagaimana Pandangan Islam Mengenai Perempuan Yang Melamar Laki-Laki Terlebih Dahulu?

Pernikahan merupakan suatu peristiwa yang istimewa bagi kehidupan seorang manusia. Dengan menikah, maka seorang anak adam akan mempunyai pendamping dalam sisa hidupnya. Dalam ajaran agama islam pun diatur tentang bagaimana cara seseorang untuk dapat melangsungkan pernikahan. Bahkan dalam kajian islam menganjurkan seluruh umatnya untuk menikah. Akan tetapi, dalam kajian pernikahan ini, terdapat tata cara nikah yang telah diatur oleh Allah SWT didalam kitab suci Al Qur’an.

Cara Melamar dalam Ajaran Islam

Islam merupakan sebuah agama yang sempurna. Dalam kajian islam ini setiap tindakan pasti terdapat sebuah contoh di dalam kitab sucinya, sehingga umat islam tinggal mengikuti arahan dari kitab suci Al Qur’an. Bahkan sang pembawa ajaran ini yaitu nabi Muhammad SAW telah mencontohkan berbagai tingkah laku yang terpuji. Dengan adanya contoh nyata dalam diri rasulullah, maka umat islam pun tinggal mencontoh atau menirunya.

Sobat cahaya islam, salah satu hal yang diatur sedemikian rupa dalam ajaran agama islam adalah mengenai pernikahan. Sebelum seseorang melangsungkan pernikahan, terdapat berbagai tuntunan yang harus dipenuhi. Tuntunan tersebut antara lain melamar. Dalam kajian islam tentang pernikahan, melamar sering disebut atau disamakan dengan khitbah. Khitbah memiliki arti meminang atau mengutarakan maksud untuk menikahkan seorang wanita muslim kepada orang tua atau walinya. Dalam ajaran islam, khitbah merupakan hal yang di syariatkan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 235 berikut ini:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma`ruf. Dan janganlah kamu ber`azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”

Dalam ayat Al qur’an tersebut dijelaskan bahwa seorang laki-laki boleh melakukan kihitbah terhadap perempuan. Menurut kajian islam, khitbah boleh dilakukan melalui sindiran atau diungkapkan secara langsung. Akan tetapi, seorang muslim tidak boleh mengkhitbah wanita yang telah terlebih dahulu dikhitbah saudaranya. Akan tetapi, jika saudaranya mundur dari menkhitbah wanita tersebut, maka boleh bagi seorang muslim untuk mengkhitbah wanita yang di tinggalkan tadi. Hal ini sesuai dengan sabda nabi Muhammad SAW.

عَنِ ابْنَ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا أنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِب

“Dari Ibnu Umar radliallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah seorang laki-laki itu meminang pinangan saudaranya, sehingga peminang sebelumnya meninggalkan pinangannya atau dia diberikan ijin untuk meminangnya”. (HR Bukhari).

Bolehkah Wanita Melamar Seorang Lelaki?

Dalam kajian hadist tentang khitbah diatas bahwa kaum lelaki yang melakukan khitbah. Para lelaki muslim pun dianjurkan mengkhitbah wanita yang masih sendiri. Akan tetapi, juga diperbolehkan untuk mengkitbah wanita yang merupakan mantan istri saudara sesama muslim, asalkan sudah selesai masa iddahnya.

Lalu biasanya akan timbul pertanyaan, apakah hukumnya jika seorang wanita melamar seorang lelaki muslim? Dalam kajian islam mengenai pernikahan, seorang wanita muslim boleh melamar atau menawarkan diri kepada lelaki muslim yang dianggapnya memiliki perilaku yang terpuji. Hal ini pernah terjadi pada zaman rasulullah SAW. Pada saat itu pernah ada perempuan yang menyatakan untuk melamar rasulullah. Kemudian anak perempuan dari Anas bin Malik berkata bahwa betapa hinanya wanita tersebut. Akan tetapi, Anas bin Malik menegur anaknya tersebut dan ia balik mengatakan bahwa perempuan yang menawarkan diri pada rasulullah tadi lebih mulia. Berikut ini hadist yang menyatakan bolehnya perempuan melamar laki-laki yang artinya sebagai berikut ini:

”Dari Tsabit, ia berkata, ”Kami duduk bersama dengan Anas bin Malik yang disebelahnya ada seorang anak perempuannya. Lalu Anas berkata, ”datanglah seorang perempuan kepada Nabi SAW, lalu ia menawarkan dirinya kepada beliau, kemudian perempuan itu berkata, ”Wahai Rasulullah maukah tuan mengambil diriku? Kemudian anak perempuan Anas menyeletuk, ”Betapa tidak malunya perempuan itu!” Lalu Anas menjawab, ”Perempuan itu lebih baik daripada kamu”. Ia menginginkan rasulullah, karena itu ia menawarkan dirinya kepada beliau”. (HR. Ibnu Majah).

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!