Nasihat Islami: Tawakkal yang Seimbang!

0
645

Sobat pembaca cahayaislam yang dirahmati oleh Allah. Tentu sebagai orang islam yang baik kita sering kali mendengar nasihat islami perihal bersikap tawakkal kepada Allah. Hampir di banyak acara pengajian dan event motivasi islam mengajarkan hal ini. Banyak dari para pengisi pengajian yang kita ikuti menjelaskan sikap tawakkal dengan berusaha semampunya, lalu percaya kepada Allah tentang hasilnya. Terdengar mudah ketika orang membicarakannya. Namun jangan salah, memiliki sikap tawakkal tidaklah mudah lho.

Banyak orang menyalah artikannya dengan bahwa bersikap tawakkal sama artinya untuk berusaha semampunya saja dan kurang semangat dalam usaha dengan alasan “ya kalau Allah mengizinkan ya bisa lah, kalo enggak ya gak bisa” – atau lebih parah lagi adalah mereka yang sama sekali tidak berusaha untuk melakukan usaha terlebih dahulu dan hanya mengharap hasil dari Allah datang dengan sendirinya.

Nah, agar kita tidak salah jalur dalam mempraktikkan sifat tawakkal tersebut. Maka sudah seharusnya sikap itu kita ciptakan dengan SEIMBANG. Maksud dari seimbang dalam tawakkal ini akan tim cahayaislam jelaskan sedikit dibawah:

Bersikap tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha keras

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ سَعِيدٍ الْكِنْدِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ هُبَيْرَةَ، عَنْ أَبِي تَمِيمٍ الْجَيْشَانِيِّ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ ‏.‏ وَأَبُو تَمِيمٍ الْجَيْشَانِيُّ اسْمُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَالِكٍ

Dalam hadits riwayat Tirmidzi (2344) tersebut dijelaskan bahwa jikalau kita manusia bertawakkal pada Allah dengan sungguh, niscaya kita akan dianugerahi rezeki layaknya burung-burung diangkasa. Mereka terbang di pagi hari dengan lapar dan pulang ke sarangnya di sore hari dengan kenyang.

Dalam hadits tersebut Rasulullah memberikan gambaran konotasi tawakkal dengan kehidupan burung. Diutarakan dengan gamblang di dalam hadits tersebut bahwa “burung itu terbang dipagi hari dalam keadaan lapar dan pulang kembali ke sarang dalam keadaan kenyang” sebagai bentuk usaha yang tetap harus ada dalam tawakkal. Jadi kita tidak bisa hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun, lalu kemudian Allah tiba-tiba akan menjatuhkan uang satu gepok dari langit untuk kita.

Tawakkal dengan berusaha keras bukan berarti tidak membutuhkan Allah

Selain orang yang memiliki perspektif salah dimana mereka meninggalkan usaha dalam praktik Tawakkal, ada juga lho jenis orang yang terjebak kepada sikap yang ‘kelewatan’ dalam berusaha. Pikirannya lama kelamaan menjadi keras dan terpenjara dalam rasionalitas bahwa mereka tidak memerlukan Allah, dan yang mereka perlukan hanyalah berusaha keras tanpa henti. Ini juga contoh yang keliru.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu (Allah) telah berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan/ kukabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdoa) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan terhina

Surat Al Mu’min ayat 60 diatas menjadi satu landasan kuat tentang tawakkal bahwasanya dalam usaha keras kita mencapai suatu hal. Perlu pula kita menjadikan Allah sebagai tumpuan harapan. Berdoalah kepada-Nya agar tujuan kita tercapai. Jangan sampai lupa berdoa karena kita akan dihukumi sebagai orang yang sombong. Bukankah sebuah hal buruk bila menggantungkan sesuatu kepada selain Allah? – semoga bermanfaat!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!