Nasihat Islami: Prinsip Banyak Hutang Tidak Apa, Yang Penting Gaya!

0
521

Miris nggak sih kalau sobat cahayaislam pada fenomena sekarang ini? Banyak dari orang-orang disekitar kita yang saling berlomba-lomba memamerkan harta benda yang dimiliki mereka. Seolah-olah mereka yang memiliki barang mewah daripada yang lain adalah dia yang mulia dan terpandang sebagai sosok yang hebat. Padahal bagi kita manusia, sebenarnya tolok ukur kemuliaan seseorang bukan dari harta benda yang dimilikinya, namun dari ketaqwaannya kepada Allah yang maha agung.

Bahkan ada beberapa kasus dimana mereka yang tampak kaya raya, ternyata sebenarnya adalah orang yang menderita dan tidak tenang hidupnya. Lho bagaimana ceritanya? – Ada mereka orang-orang yang mengedepankan gaya dan ingin Show off kepada orang-orang sekitarnya dengan banyak barang-barang mewah. Padahal dibelakangnya, dia melakukan hutang kesana kemari untuk mewujudkannya. Hutang yang semakin lama semakin menumpuk tanpa ada pertimbangan untuk dipenuhi kewajibannya untuk dikembalikan kepada pemiliknya.

Banyak lho tipe-tipe orang yang memiliki prinsip hidup seperti ini di zaman sekarang ini. Sebuah prinsip yang dikenal dengan sebutan: hutang nggak apa apa, yang penting gaya! – prinsip hidup seperti ini bukanlah prinsip hidup yang dicontohkan oleh Rasulullah maupun yang diperintahkan oleh Allah untuk diikuti orang-orang islam yang beriman. Berikut alasan-alasannya.

Menjadi kaya bukan berarti memiliki harta berharga, namun hati yang merasa cukup dan bersyukur

Apa gunanya memiliki miliaran uang dalam akun bank kita, bila selalu merasa rupek dan sempit karena tidak pernah ada rasa syukur dan penerimaan ikhlas dalam diri kita? Apa gunanya menjadi kaya raya, bila hal itu menghalangi kita untuk mengeluarkan sebagian darinya untuk berbagi kepada orang lain di sekitar kita?

Kekayaan yang hakiki sebenarnya ada dalam hati. Itulah yang dijelaskan Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Sahih Bukhari dalam haditsnya yang bernomor 6446 yang tertera dalam kitab Ar-Riqaq. 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو حَصِينٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: sungguh tidak ada kekayaan seseorang (yang diukur) dari banyaknya harta yang dimilikinya, tetapi kekayaan adalah hati yang dicukupkan. Jadi sebenarnya kita tidak perlu mengumpulkan terlalu banyak harta yang mengakibatkan kita lalai dalam kewajiban kita kepada Allah. Yang terpenting adalah kita memusatkan kekayaan itu kepada hati kita terlebih dahulu.

Mereka yang kaya hatinya pastilah tidak akan berkhianat dalam memberikan sebagian hartanya dalam zakat. Dia yang kaya hatinya akan ringan tangan dalam berbagi kepada orang-orang disekitarnya tanpa banyak pertimbangan yang rumit. Dia yang kaya hatinya akan selalu berusaha berada dalam barisan pertama ketika dituntut untuk membela agama Allah dan mengasihi sesama dengan apa yang dia punya.

Prinsip hutang gak apa asal gaya tidak sesuai wejangan Rasulullah SAW 

Dalam hadits riwayat Ibnu Majjah 4142, Rasulullah memberikan wejangan kepada kita untuk selalu melayangkan pandangan kita ke bawah. Kearah mereka yang lebih rendah dari posisi kita. Dan tidak memandang keatas kepada orang-orang yang lebih hebat daripada kita. Hal ini karena Rasulullah ingin mengarahkan kita agar menjadi orang-orang yang bersyukur dan kaya hati.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏”‏ انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

memiliki prinsip hidup dengan banyak hutang tidak apa asal gaya merupakan prinsip hidup yang sama sekali tidak mengindahkan wejangan Rasulullah SAW ini. Hal ini dikarenakan bahwa mereka yang terus mengedepankan gaya karena tidak ingin kalah dengan orang lain yang lebih kaya akan cenderung tidak bersyukur dan selalu menuntut lebih, bahkan pada sesuatu yang sebenarnya dia  sendiri tidak mampu. Terlebih, hutang merupakan hal yang cukup krusial dan berbahaya dalam hal pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Semoga kita diberi taufik oleh Allah. Amiin

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!