Nasihat Islam: Mari Bertaubat dari Sifat Ketamakan!

0
772

Dunia ini adalah keindahan yang permainan yang melalaikan (أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ). Itu yang difirmankan oleh Allah SWT dalam kutipan kecil awal surat Al Hadid ayat 20. Kebanyakan manusia sama berjuang terus menerus hingga melalaikan banyak hal demi apa yang disebut dengan harta dunia. Bahkan seolah-olah waktu 24 jam dalam sehari tidaklah cukup untuk mereka.

Itulah mereka, orang-orang yang disempitkan hatinya. Orang yang telah dibutakan matanya dari rasa syukur dan diselimuti ketamakan yang sejatinya berbahaya bagi diri mereka. Hal ini karena sikap tersebut bisa menjerumuskan mereka lebih jauh dan lebih dalam menuju pedihnya siksa neraka kelak di akhirat. Keburukan itu terpicu tidak lain dan tidak bukan dari ‘ketamakan’ yang ada dalam diri kita.

Sudah menjadi naluri manusia untuk menjadi tamak, yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ “‏ لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Dalam hadits riwayat Bukhari 6436 dijelaskan bahwa Ibnu Abbas pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Jika seorang anak adam (manusia) memiliki/diberikan dua lembah uang. Niscaya dia akan meminta lembah ketiga, karena tidak ada yang bisa memenuhi perut mereka kecuali debu/ tanah. Dan Allah mengampuni siapapun yang bertaubat kepadanya.

Ada beberapa orang yang kami kenal sangat getol dalam bekerja mencari harta benda. Yang mana dia menjadi lupa untuk mengikuti acara keagamaan dan bahkan dia sangat lalai dalam hal sholat. Ketika kami mencoba untuk bertanya kepadanya dan mencoba saling bertukar nasihat dia berkata “aku bekerja ini supaya aku bisa sedekah yang banyak bro, ini juga untuk agama Allah” – jawaban yang sungguh terdengar baik.

Namun setelah beberapa bulan berlalu dan orang tersebut telah menjadi oran yang kaya. Dia masih tetap terlalu sibuk dalam mencari harta dunia. Bahkan dia lupa pada apa yang dia katakan bahwa ia akan bersedekah lebih banyak ketika sudah kaya nanti. Dia merasa enggan untuk bersedekah. Dia merasa sudah bekerja keras dan sayang kepada hartanya bila dia memberikannya kepada sabilillah. Memang manusia tidak akan mudah puas dengan pencapaiannya, seperti dalam sabda Rasulullah di hadits tersebut.

Bertaubat atas sifat tamak kita dan lebih mendekat lagi kepada Allah

Sikap tamak biasanya identik dengan lalainya kita atas kewajiban-kewajiban kepada Allah. Contohnya seperti pada kasus diatas. Seorang teman im cahayaislam yang dengan getol bekerja mencari dunia, dia banyak lalai atas urusan akhirat. Dia banyak meninggalkan sholat yang merupakan kewajiban seorang islam. Bahkan dia enggan melakukan sedekah di sabilillah.

menurut para alim ulama. Ada satu alasan tersirat kenapa dalam hadits riwayat Bukhari 6436 diatas ada sebaris kalimat (وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ) yang menyatakan bahwa Allah menerima taubat hambanya. Hal ini menunjukkan bahwa sikap tamak adalah sesuatu yang harus di taubati. Sikap ini adalah sikap yang merusak keimanan karena melalaikan banyak kewajiban dan terlebih menjauhkan diri dari Allah. Mari kita lebih mendekat kepada Allah, meminta ampun atas sikap tamak kita hingga lalai pada Allah. Dengan begitu insha Allah pertolongan Allah akan lebih dekat pula,  hati kita pastinya akan dibuka lebar pada manisnya keimanan, serta kita bisa terhindar jauh dari sifat tamak. Semoga bermanfaat!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!