Mengajari Anak-anak Untuk Berbakti Kepada Orang Tua Itu Penting!

0
747

Di dalam kebudayaan jawa ada satu istilah anak polah bopo kepradah yang berarti apapun tingkah laku yang dilakukan anak (baik yang baik atau buruk), orang tua yang akan menanggungnya. Bila anak dikenal orang banyak sebagai orang yang begundal dan suka membuat onar, maka orang tua pastinya yang akan menanggung rasa malu pada kelakuan anaknya. Bila seorang anak dikenal sebagai orang baik dan berakhlak mulia oleh banyak orang, maka orang tua pula-lah yang akan merasa bangga.

Dari penjelasan istilah jawa tersebut, kita bisa mendapati satu kesimpulan mutlak bahwa baik-buruknya kelakuan anak tergantung dari seberapa baik orang tua-nya mengasuh dan mendidiknya. Kelakuan seorang anak tercermin pada bagaimana cara orang tuanya mendidiknya. Itulah kenapa menjadi orang tua bukanlah hal yang simpel dan remeh. Menjadi orang tua adalah perjalanan panjang yang penuh lika-liku yang cukup rumit untuk dilaksanakan.

Nah, permasalahannya adalah banyak orang tua yang mengeluh dan beralasan seperti ini. “Anak saya sudah dibilangin, dia selalu membantah dan melawan kata-kata saya” atau sejenisnya. Bila itu terjadi anda jangan sekonyong-konyong langsung menjustifikasi anak sebagai pribadi yang pemberontak. Anda harus introspeksi diri terlebih dahulu apakah anda sudah benar dalam memberinya pengertian tentang pentingnya berbakti kepada orang tua.

Dalam suatu hadits riwayat muslim 2549 dijelaskan bahwasanya berbakti kepada orang tua adalah hal yang penting dan haruslah menjadi prioritas. Bahkan dalam hadits tersebut Rasulullah menolak semangat seorang pemuda yang ingin ikut serta berhijrah dan ikut berjuang dalam agama Allah, dan memerintahkannya untuk kembali pulang untuk menjaga orang tuanya.

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، أَنَّ نَاعِمًا، مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ أَقْبَلَ رَجُلٌ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ أُبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ أَبْتَغِي الأَجْرَ مِنَ اللَّهِ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ فَهَلْ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ حَىٌّ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ نَعَمْ بَلْ كِلاَهُمَا ‏.‏ قَالَ ‏”‏ فَتَبْتَغِي الأَجْرَ مِنَ اللَّهِ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ نَعَمْ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا ‏”‏

Lalu apa yang harus dilakukan sebagai orang tua, bila anda masih menemui hambatan dimana anak-anak anda bandel dan tidak mau mendengarkan nasihat anda sebagai orang tua. Yang pasti adalah introspeksi diri. Tanyakan beberapa pertanyaan ini pada diri sendiri:

Apakah anda cukup meluangkan waktu yang berkualitas dengan anak anda?

Satu kunci berhasilnya sebuah hubungan antar dua orang baik itu dengan pasangan, anak, ataupun partner dalam berbagai aspek adalah komunikasi. Hal ini banyak disetujui oleh para pakar di dunia. Bila anak anda masih suka melawan perkataan anda, maka anda perlu koreksi diri tentang seberapa banyak waktu yang anda luangkan kepada mereka.

Waktu disini haruslah berkualitas. Waktu berkualitas dimana anda saling bercanda. Waktu dimana anda mengajarkan beberapa hal kepada mereka. Waktu yang anda luangkan demi untuk kesenangan mereka. Terkadang anak-anak melawan orang tuanya karena mereka mencoba untuk berontak. Terkadang mereka hanya ingin anda meluangkan waktu anda bersama mereka.

Bahkan dalam sebuah penelitian dalam studi riset BMJ Open yang dilakukan oleh beberapa peneliti menjelaskan bahwa anak-anak yang banyak menggunakan atau menghabiskan waktu dengan orang tua untuk hal-hal yang menyenangkan memberikan sekitar 29 % kemungkinan lebih kecil untuk berperilaku buruk saat berusia diatas 10 tahun.

Apakah anda kurang atau malah enggan mendengarkan opini anak? 

Mendengar adalah salah satu aspek penting dalam komunikasi. Bila anak anda sering membantah dan melawan anda, maka koreksi diri anda, apakah anda adalah orang egois yang hanya bisa memerintah ini itu tanpa mau mendengarkan bagaimana pendapat mereka. Kadang orang tua menilai diri mereka dengan tinggi dan menganggap mereka tahu segala hal. Yang kemudian mengabaikan penilaian-penilaian anak.

Nah, dengan meluangkan banyak waktu berkualitas dan memperbaiki komunikasi dua arah antar orang tua dan anak, anda bisa mengajarkan dan memupuk tentang pentingnya seorang anak untuk berbakti kepada orang tua. Sikap dan perspektif anak dalam baktinya pada orang tua itu layaknya pohon. Perlu dipupuk terus menerus. Hingga dia menjadi kokoh dan kuat. Semoga bermanfaat ya!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!