Memiliki Sifat Zuhud Dalam Diri

0
532

Didunia ini ada perkara-perkara yang seharusnya kita lakukan bahkan wajib untuk dilakukan, tapi ada juga perkara-perkara yang seharusnya kita tinggalkan bahkan wajib untuk ditinggalkan. Manusia adalah makhluk yang memiliki nafsu yang mengendalikan dirinya. Sebagai seorang Muslim, kita wajib tahu perkara-perkara apa yang diperbolehkan dan apa-apa yang dilarang. Sahabat cahaya Islam, kali ini kami akan sedikit menjelaskan tentang zuhud yang mana perlu untuk diketahui agar kita dapat memahami dengan baik apa itu zuhud yang sebenarnya. Zuhud secara bahasa adalah lawan kata dari gemar. Gemar adalah keingingan terhadap sesuatu, sedangkan zuhud adalah hilangnya keinginan terhadap sesuatu. Memiliki sifat zuhud dalam diri yang paling tepat adalah meninggalkan perkara dunia yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat, bukan berarti kita benar-benar meninggalkan kehidupan dunia, dan menyendiri di tempat yang jauh agar bisa beribadah kepada Allah SWT dengan total. Zuhud yang disyariatkan tidaklah seperti itu.

Memiliki Sifat Zuhud dalam Diri

Allah berfirman,

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang tidak kamu dapatkan, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)

Memahami ayat di atas, Imam al-Junaid mengatakan,

Orang yang zuhud tidak menjadi bangga karena memiliki dunia dan tidak menjadi sedih karena kehilangan dunia. (Madarij as-Salikin, 2/10).

Orang yang zuhud adalah orang yang tidak serta merta menjadi bangga atas rezki yang diberikan oleh Allah, dan juga tidak menjadi sedih karena belum mendapatkan rezki dari Allah. Dia percaya bahwa Allah lah Maha tahu atas segala sesuatu, dan apapun tentang rezki seorang hamba.

Abu Hazim Az Zahid pernah ditanya,

“Apa hartamu”,

beliau menjawab,

“Saya memiliki dua harta dan dengan keduanya saya tidak takut miskin. Keduanya adalah ats tsiqqatu billah (yakin kepada Allah) dan tidak mengharapkan harta yang dimiliki oleh orang lain [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (963); Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 3/231-232].

Pernah juga beliau ditanya,

“Tidakkah anda khawatir akan kefakiran?” Beliau menjawab, “Bagaimana bisa saya takut fakir sementara Pemelihara-ku memiliki segala yang ada di langit, bumi, apa yang ada diantara keduanya, dan di bawah tanah.”

Zuhud Tidak Harus Miskin

Zuhud adalah amalan hati, bukan amalan tubuh. Hanya Allah yang dapat menilainya, karena isi hati manusia Allah lah yang paling tahu, sehingga kita tidak bisa semata-mata hanya melihat penampilang luar seseorang saja. Kita melihatnya sebagai orang yang mampu bukan berarti dia tidak mampu hidup zuhud. Misalnya, seseorang dengan kecukupan harta tidak membelanjakan hartanya pada hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan dapat menimbulkan maksiat. Dia memikirkan kehidupan akhirat sehingga dia tidak gemar dalam hal-hal yang hanya bersifat duniawi saja. Harta bukanlah penghalang bagi manusia yang zuhud akan kehidupan dunia, bahkan harta adalah salah satu jalan untuk beramal shaleh yaitu dengan memperbanyak sedekah. Kaya atau miskin, keduanya adalah ujian dari Allah. Sebagai Muslim yang beriman kepada Allah, kita harus berusaha sebaik mungkin agar tidak lalai karena ujian tersebut.

Cara Agar Bisa Zuhud

Hasan al-Bashri – ulama senior masa tabii’in – pernah ditanya,

“Apa rahasia zuhud anda terhadap dunia?”

Jawab beliau,

Aku yakin bahwa rizkikku tidak akan diambil orang lain, sehingga hatiku tenang dalam mencarinya.

Saya yakin bahwa amalku tidak akan diwakilkan kepada orang lain, sehingga aku sendiri yang sibuk menjalankannya.

Aku yakin bahwa Allah selalu mengawasi diriku, hingga aku malu merespon pengawasannya dengan melakukan maksiat.

Aku yakin bahwa kematian menantiku. Sehingga aku siapkan bekal untuk bertemu Allah SWT.

Sahabat cahaya Islam, zuhud adalah salah satu perbuatan yang baik bagi seorang Muslim dalam menjalani kehidupan dunia, selama dilakukannya sesuai syariat yang telah ditetapkan. Setiap Muslim ingin menjadi hamba yang baik, mencintai dan dicintai Rabbnya, lapang dalam menjalani hidup karena sesungguhnya akar zuhud adalah ridho atas apa yang ditetapkan Allah Azza wa Jalla. Semoga kita termasuk orang yang zuhud akan hal-hal duniawi yang tidak membawa manfaat untuk kehidupan akhirat. Aamiin.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!