Mematri 5 Perkara Sebelum 5 Perkara di Hati dan Pikiran Kita

0
343

Waktu berputar tanpa menunggu. Dia tiada mengenal toleransi dan rasa kasihan pada mereka yang tidak bisa mengikuti arus pergerakannya. Benar adanya bila kita kebanyakan dari manusia mengalami kerugian yang sangat besar, seperti yang dijelaskan dalam Firman Allah yang tercantum dalam surat Al Ashr  (إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ). Kita sebagai manusia memang merupakan makhluk yang penuh dengan kerugian yang sangat besar karena kita telah banyak menyia-nyiakan waktu kita yang pada dasarnya sangat terbatas di dunia ini. Ada satu hadits riwayat Al Hakim yang cukup terkenal dikalangan orang-orang beriman karena memiliki keindahan dan nasihat bermanfaat di dalamnya.

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Dalam hadits Al Hakim 4:341 diatas kita diberikan nasihat agar kita bisa memanfaatkan 5 perkara yang ada di dunia ini sebelum datang 5 perkara lain.  5 Perkara tersebut adalah waktu muda sebelum datang waktu tua, waktu sehat sebelum tiba waktu kesakitan, waktu ketika dilimpahi kekayaan sebelum datang kefakiran atau kemiskinan, waktu luang sebelum tiba waktu sibuk, dan waktu hidup sebelum datang ajal menjemput.

Meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat untuk kita!

Memanfaatkan waktu muda sebelum datang waktu kita menjadi tua. Masa muda adalah sebuah siklus yang harus kita lalui, begitu juga masa tua. Bukan pepatah “masa muda masa untuk bercinta” yang harus kita ikuti sebagai orang islam yang beriman kepada Allah. Namun ikutilah “Masa muda masa untuk berfaidah” yang mengandung artian dan nasihat supaya kita melalui masa muda kita dengan penuh manfaat.

Daripada kita menghabiskan waktu berkumpul dengan teman-teman sebaya untuk mengobrol ngalor ngidul nggak jelas kemana arahnya di warung kopi. Bukankah lebih baik bila kita mendatangi majelis-majelis ilmu untuk belajar dan memperkaya ilmu. Bukankah lebih baik untuk menggunakan waktu luang dan masa muda ketika kita masih mampu dan kuat tersebut untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial yang memberikan kebaikan kepada orang lain.

Dalam satu hadits riwayat Ibnu Majjah 3976 dijelaskan bahwasanya salah satu bagian dari kebaikan seorang muslim adalah dia yang meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuknya.

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ، حَدَّثَنَا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ قُرَّةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَيْوَئِيلَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏ “‏ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

Ringan tangan dalam bersedekah walau sekecil apapun itu

Bila berbicara tentang kekayaan, kebanyakan manusia bahkan tidak mengetahui secara jelas bagaimana definisi kaya bagi dirinya. Bahkan Rasulullah saja menggambarkan kalau saja manusia diberikan oleh Allah satu bukit emas, maka manusia akan meminta bukit kedua, ketiga dan seterusnya. Manusia selalu diliputi rasa tamak akan harta. Oleh karena itu, bahkan orang terkaya sekalipun masih juga merasa kurang harta.

Maksud memanfaatkan waktu kaya sebelum datang kefakiran atau kemiskinan dalam hadits diatas bukan berarti kita serta merta memi liki pemikiran “ah berarti aku nunggu kaya dulu deh baru bersedekah”. Maksud kaya disini adalah masa dimana kita memiliki harta untuk berbagi kepada orang lain. Masih ada orang-orang yang nasibnya lebih malang dibawah kita. Nah inilah yang dikatakan kaya. Kita lebih kaya dibandingkan dengan mereka yang ada dibawah kita. Maka bergeraklah untuk bersedekah dan berbagi dengan mereka.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!