Memaknai Manisnya Hidup dalam Islam!

0
931

Pernahkah Sahabat Cahayaislam berpikir, sebenarnya seperti apa sih hidup yang ‘manis’ itu? Banyak dari kita yang mengartikan bahwa hidup yang manis adalah merasakan hidup tanpa beban, bebas melakukan hal-hal yang menyenangkan, harta cukup, segala urusan berjalan lancar, dan tidak ada pula yang membenci kita. Tentu saja siapapun berharap memiliki kehidupan yang semacam ini, namun pernahkah terlintas di pikiran Sahabat Cahayaislam, bahwa sebenarnya hidup yang ‘manis’ sebenarnya tidaklah sesederhana itu? Lalu bagaimanakah hidup yang ‘manis’ ini, sebenarnya?

Dari berbagai cerita dan pengalaman dari teman seperjuangan, tim Cahayaislam dengan salah satu ukhti cantik tim Cahayaislam, Putri Aulia berhasil merangkum beberapa hal yang memaniskan hidup kita dari beberapa sumber dan nasihat dari banyak alim ulama. Simak yuk beberapa hal yang membuat manisnya hidup dalam islam dibawah!

Sederhana dalam keinginan, tidak mudah silau oleh dunia

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk mempunyai keinginan memiliki ini dan itu. Namun Sahabat Cahayaislam, kita harus hati-hati dengan keinginan-keinginan yang terkadang muncul tiba-tiba ini. Apakah benar yang kita inginkan adalah apa yang kita butuhkan? Ataukah hanya sekedar ingin karena bagus, menarik, dan karena banyak yang memiliki? Atau bisa juga, ingin hanya agar terlihat lebih daripada yang lainnya?

Sederhana dalam keinginan berarti bahwa Allah memberikan kemampuan pada kita untuk menentukan skala prioritas dalam memenuhi “ingin-ingin” yang kita punya tadi. Contohnya, bagi Sahabat Cahayaislam yang masih muda, ketika melihat seorang teman membeli gadget yang terbaru, bisa jalan-jalan ke sana dan sini, bisa membeli pakaian baru setiap bulannya, dan sebagainya, kita jangan sampai terlalu silau melihatnya. Kita tidak perlu lantas memiliki keinginan untuk bisa sama persis dengan teman tersebut. Karena pada dasarnya, kita perlu mengingat lagi, bahwa hidup kita tidak hanya untuk bersenang-senang saja, apalagi untuk kesenangan yang sesaat. Bolehlah kita membeli ini itu, jalan-jalan ke sana dan kemari, namun tentunya harus disesuaikan dengan kemampuan kita. Cukuplah sederhana, yang penting bahagia. Nah, itulah manisnya hidup dalam islam yang pertama.

Dikelilingi oleh orang-orang yang sholih

Dalam zaman yang seperti sekarang ini, berada di kalangan orang-orang yang sholih adalah hal yang sangat patut untuk kita syukuri. Mengapa begitu?

Dengan dikelilingi oleh orang-orang yang sholih, secara tidak langsung kita menjaga diri kita sendiri. Kita bisa termotivasi untuk berbuat kebaikan dan tidak terpikirkan untuk melakukan hal-hal yang tidak perlu, apalagi yang melanggar aturan Allah dan Rosul. Dengan dikelilingi oleh orang-orang yang sholih pula, Allah menunjukkan keridhoan-Nya dengan memberikan rasa aman, menguatkan tali persaudaraan dengan teman seperjuangan, dan dari situlah manisnya hidup dapat terasa.

Merasakan pahitnya berjuang, namun tetap bertahan karena Allah

Sahabat Cahayaislam tentunya pernah merasakan pahitnya memperjuangkan sesuatu, baik itu sekolah, kuliah, pekerjaan, maupun hal-hal yang lain. Namun tahukah, Sahabat Cahayaislam? Jika kita menjalani aktivitas apapun dan kita niatkan untuk perjuangan ibadah, maka semua itu akan mendatangkan pahala, dan dibalik itu semua, ada manisnya hidup dalam islam yang hakiki.

Kita ambil satu rangkaian contoh. Saat sekolah, kita menghabiskan berjam-jam untuk memeras otak, mengikuti bimbingan belajar, sampai rumah belajar lagi; semua itu untuk mendapatkan nilai yang maksimal. Ketika kuliah, kita berjuang dari semester demi semester untuk mencapai satu titik bernama: lulus dengan predikat cumlaude, misalkan. Kemudian setelah menjadi sarjana, kita travelling dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mencari pekerjaan, atau memulai usaha, dan sebagainya, yang mana kesemuanya itu terasa pahit, berat, dan melelahkan. Tetapi jika semua yang kita lakukan dalam keseharian itu kita niatkan untuk ibadah, untuk dapat membantu kita melancarkan kegiatan sabilillah, maka Allah pun tidak akan mengabaikannya, sebagaimana yang tertulis dalam hadits yang artinya:

Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuannya maka Allah akan mengumpulkan (menyatukan kembali) urusan yang bercerai-berai dan menjadikan kekayaan ada dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina (mudah). (HR Ahmad)

Jadi Sahabat Cahayaislam, pada intinya, jika kita mampu bertahan dalam pahitnya perjuangan dengan niat murni karena Allah, dan kita mau mengutamakan urusan ibadah, maka Allah pun akan mempermudah urusan kita pula. Dengan begitu, perjuangan yang pahit pun akan terasa manis.

Merasa terjaga dalam syariat

Secara sekilas, terkadang syariat dalam agama Islam terkesan begitu mengekang pemeluknya. Namun, apakah benar begitu?

Dapat kita ambil satu contoh: Islam mengajarkan bagi para perempuan untuk menutup auratnya dengan mengenakan pakaian yang longgar dan juga tidak tipis. Syariat ini bukanlah mengekang, tetapi justru menunjukkan bahwa, menurut Islam, seorang perempuan itu sangat berharga, seperti mutiara yang disimpan, yang tidak sembarang orang dapat melihat apalagi menyentuhnya. Karena itulah seorang muslimah perlu dijaga, dan pakaian syar’i merupakan salah satu penjaganya, penjaga dari syahwat laki-laki yang memandangnya, dan menghindarkannya dari dosa. Jika Sahabat Cahayaislam merasa terjaga dalam syariat, maka manisnya hidup dalam islam akan Sahabat Cahayaislam rasakan.

Setiap orang didunia ini memiliki tujuan dan arti hidup sesuai versi mereka. Kita sebagai orang beriman yang patuh dan taat kepada Allah, hendaklah sudah seyogyanya memiliki tujuan hidup dalam islam dan makna hidup dalam islam yang sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul bukan? Nah, Sahabat Cahayaislam. Itulah ulasan pendek mengenai beberapa hal yang memaniskan hidup kita. Tidak muluk-muluk, sederhana saja. Semoga Allah selalu menjaga kita di manapun kita berada. Aamiin.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!