Kalau bicara tentang manqul, bagi beberapa orang pastilah langsung mengaitkannya dengan salah satu ormas Islam, yaitu LDII. Terbukti ketika kita mengetikan kata “ilmu manqul adalah” pada kolom pencarian Google”, maka yang ada di halaman pertama adalah berita mengenai LDII. Bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa LDII sesat, salah satunya karena ilmu manqulnya ini.

Lalu, apa sih sebenarnya ilmu manqul? Dari berbagai sumber baik website LDII maupun non-LDII, penulis menyimpulkan bahwa manqul adalah metode mempelajari ilmu agama secara langsung dari guru ke murid atau singkatnya, sebuah proses transfer ilmu. Syarat utama dalam sistem manqul adalah ada guru dan ada murid. Yang mana gurunya haruslah memiliki sanad keilmuan yang bersambung sampai Nabi Muhammad SAW (mutassil).

ilmu-haditsSanad itu sendiri menurut M. Hasbi Ash- Shiddiqy dalam buku Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist adalah jalannya matan (teks hadist) atau dengan kata lain adalah silsilah para perawi yang memindahkan (meriwayatkan) matan secara sambung bersambung hingga ke sumbernya yang pertama, siapa? Nabi Muhammad SAW tentunya.

Sementara statement LDII sesat karena mewajibkan manqul sepertinya timbul akibat keengganan pengikutnya untuk berguru dan mengambil ilmu dari orang-orang selain kalangan mereka. Walaupun sebenarnya pernyataan ini cukup subjektif mengingat banyaknya ulama- ulama LDII yang dikirimkan ke luar negeri demi ‘mengejar’ ilmu dari ulama- ulama yang memang memiliki sanad sampai ke Nabi Muhammad SAW. Bukankah hal ini berlebihan untuk dilakukan jika memang benar LDII sesat?

Mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa LDII hanya menerima ilmu dari ulama yang memilik sanad, baik itu berasal dari LDII maupun non-LDII.

Sejatinya hal ini tidak menunjukan bahwa LDII sesat. Malah menunjukan betapa hati-hatinya LDII dalam memilih guru. Bisa jadi karena menyadari berbahayanya mendalami ilmu agama tanpa guru, terutama di jaman serba teknologi dan serba instan seperti sekarang ini, semakin banyak orang yang merasa sudah menguasai ilmu agama, hanya karena gemar membaca ilmu agama yang didapatkan dari laman demi laman mesin pencari.

pondok-ldii-kediri_1479Padahal, murid yang belajar langsung dari guru saja kadang masih salah dalam memahami ajaran gurunya, apalagi mereka yang belajar agama tanpa guru dan hanya membaca lewat buku dan internet. Lebih banyak kemungkinan keliru dan jauh melenceng dari kebenaran. Walaupun tidak kita pungkiri keberadaan buku dan internet bisa sangat membantu dalam hal dakwah namun fungsinya hanyalah sebagai media alat bantu, tetap tidak bisa menggantikan kedudukan seorang guru dalam memahami Al-Quran dan Al-Hadist.

Karena internet itu bagai hutan belantara bagi para pencari ilmu agama. Sebagaimana di hutan, yang menjadi raja adalah yang paling kuat. Dalam internet, yang menjadi raja adalah yang website-nya paling ramai dan paling mudah ditemui. Sementara ’ulama-ulama’ berilmu sedang sibuk dengan zikir, ibadahnya dan majelis ilmunya, sebagian lain orang yang “mengaku” berilmu sibuk dengan search, copy, paste, modifikasi, dan sibuk berpendapat yang belum jelas kebenarannnya namun kelihatan benar karena tulisannya meyakinkan serta tersebar dimana-mana.

Namun, alhamdulillah saat ini sudah cukup banyak orang yang menyadari betapa pentingnya memiliki guru dalam memahami ilmu agama dan bukannya hanya belajar otodidak dengan membaca dari kitab-kitab terjemahan. Buktiya saat ini semakin banyak majelis-majelis kelimuan yang melakukan manqul dalam proses pembelajarannya walaupun dengan istilah berbeda, yaitu tallaqi (Nahdlatul Ulama), pemaknaan (Muhammadiyah).

Dikutip dari jombang.nu.or.id/pentingnya-belajar-ilmu-agama-secara-talaqqi/ , bahwa talaqqi artinya “belajar ilmu agama secara langsung kepada guru yang mempunyai kompetensi ilmu, tsiqah, dhabit dan mempunyai sanad kelimuan yang muttasil sampai ke Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam melalui para Ulama Alimin Arifin”. Persis sejalan dengan istilah manqul dalam LDII.

Nasihat-dan-klarifikasi-dengan-akal-sehat-jauh-lebih-baikIntinya, baik manqul ataupun tallaqi serta pemaknaan, ketiganya bertujuan untuk menjaga kemurnian agama Islam secara turun temurun. Sebagaimana ucapan Imam as-Syafi’i, “Ilmu yang tidak bersandar pada guru yang bersanad sangat berbahaya karena tidak aman dari kepentingan-kepentingan orang hasut yang ingin merusak Islam.”

Gambar: Foto Masjid Luhur Nurhasan, Gadingmangu, Perak, Jombang.

8 KOMENTAR

  1. sudah dicontohkan malaikat jibril ketika menyampaikan alqur,an,wahyu dari alloh swt..melalui mangqul …sedangkan umumnya sekarang ilmu baca kitab2 referensi2 yg blom tentu kebenaranya..

  2. Berbaiat, tak berimam ke Masjid pada umumnya, dll yg membuat kesan LDII tampil beda dari Islam maistream.

    • Maaf, menurut kami, dalam mengalamatkan sebuah opini, alangkah baiknya kita memberikan bukti-bukti yang valid dan tidak sekedar kabar burung belaka 🙂

  3. Setuju, ilmu manqul itu aman dari “virus/malware” yang merusak esensi ilmu, baik disadari ataupun tidak disadari. Sewajarnya umat muslim paham tentang ilmu manqul. 🙂

Ikut Berkomentar Yuk!