Konsekuensi yang Harus Ditanggung Oleh Kita yang Bersyahadat

0
695

Sebagai seorang islam yang mengaku beriman dan beramal sholih, kita tentu sangat familiar dengan istilah Syahadat (أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ)yang mana merupakan salah satu pilar islam yang harus kita kokohkan. Syahadat merupakan sebuah ikrar kita dimana kita menyatakan bahwa kita adalah orang-orang yang menyerah kepada Allah sebagai pemeluk islam dengan mengharapkan rahmatNya kelak untuk masuk kedalam surga.

Namun, sangat ironis ketika dizaman yang modern ini setiap orang bisa serta merta melafalkan ikrar syahadat ini tanpa mau mempertanggung-jawabkan konsekuensinya. Banyak orang yang menganggap syahadat hanyalah sebatas kalimat ikrar yang oleh siapapun bisa seenaknya diucapkan. Dahulu kala, ketika Rasulullah berdakwah kepada kaum-kaum kufur dan mengajak mereka untuk bersyahadat, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Orang-orang kafir enggan, dan bahkan tidak mau semena-mena mengatakannya. Hal itu karena mereka tahu betul apa konsekuensi-konsekuensi bila mereka melafalkan ikrar tersebut. Mereka tahu betul apa yang akan dibebankan kepada mereka setelah melafalkan ikrar tersebut. Tidak seperti sekarang, semua orang bisa dengan “enteng” mengucapkannya, tanpa tahu betul sebenarnya kebenaran sejati yang ada dibaliknya.

Untuk itu, marilah sekarang kita koreksi diri kita dengan memahami betul bahwa ada konsekuensi mutlak yang harus kita tanggung dibalik ikrar syahadat kita sebagai orang islam ini. Kami akan mengulasnya dibawah:

Konsekuensi ikrar Tiada Tuhan selain Allah?

Ikrar penyaksian kita dalam kalimat syahadat yang pertama terdapat ikrar yang menyatakan bahwa tiada Tuhan yang pantas untuk disembah kecuali Allah (أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ). Ikrar suci ini mengandung konsekuensi bahwa kita sebagai orang yang mengucapkannya memiliki janji untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Kita memiliki janji untuk memusatkan segala bentuk penyembahan dan ibadah hanya kepada Allah.

Banyak dalam realitas kita mengetahui orang yang mengaku beragama islam masih tetap datang meminta bantuan kepada dukun. Banyak orang yang mengaku islam tetapi masih percaya takhayul dan mempraktikkan ilmu-ilmu sihir yang notabene merupakan bentuk amalan musyrik kepada Allah. Banyak orang yang memeluk islam masih menyediakan sesajen dimalam-malam tertentu dan menaruhnya ditempat-tempat sakral. Masih banyak dari kita orang muslim yang masih berkeluh kesah dan meminta kepada jin dan syetan.

Konsekuensi ikrar Muhammad Adalah Utusan Allah?

Ikrar penyaksian kedua dalam kalimat syahadat adalah persaksian bahwa kita mengakui Nabi Muhammad adalah utusan Allah (وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ). Dalam kalimat ikrar ini kita memiliki konsekuensi besar bahwa kita memiliki suri tauladan baik yakni Rasulullah SAW sebagai pembimbing kita dalam banyak aspek kehidupan. Dengan ikrar tersebut kita wajib mengikuti ajaran dan tuntunan yang telah beliau ajarkan kepada kita melalui sunnah-sunnahnya.

Namun pada kenyataannya, banyak dari kita orang muslim yang masih melakukan pelanggaran pada ketentuan-ketentuan yang telah dibuat oleh Rasulullah. Banyak dari kita hanya mau melakukan dan mematuhi aturan yang hanya kita sukai saja, sedangkan aturan dan kaidah yang tidak berkenan dihati, kita tidak mau mematuhinya. Banyak dari kita masih ada yang meragukan bahkan membenci Rasulullah SAW. Sungguh ironis.

Nah, ikrar syahadat tersebut sebenarnya memiliki konsekuensi ketat yang harus kita tanggung. Pertanyaannya adalah, bila seseorang yang telah berikrar dengan syahadat, namu masih tidak mau menerima konsekuensi dari ikrar tersebut, apakah mereka masih dianggap sebagai orang islam? Mari kita introspeksi diri.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!