Kisah Teladan Sahabat Nabi: Umar Bin Khattab dan Pembagian Kain

0
3777

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat nabi yang paling mulia. Beliau juga merupakan salah satu Khulafaur Rasyidin dan merupakan khalifah yang ke dua setelah Abu Bakar Asy Syddiq. Jadi, tak heran jika sifat mulia Rasulullah menular ke Umar. Sebagai salah satu penerus Rasulullah sebagai pemimpin negara, Umar selain dikenal memiliki sifat pemberani, gagah, dan kuat juga dikenal karena keadilannya dalam memimpin rakyat seperti kisah teladan sahabat nabi di bawah ini. Memang, Allah memerintahkan kita semua berbuat adil kepada siapapun.

Allah berfirman dalah Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 135:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”

Pemberian Kain di Kekhalifahan

Kisah teladan sahabat Rasulullah ini dimulai ketika Umar mengumumkan bawah akan ada pemberian kain untuk seluruh kaum muslimin tanpa kecuali. Umar menekankan bahwa kain yang diberikan semuanya memiliki ukuran yang sama, tidak memandang status sosial apapun.. Namun pada saat hari pemberian kain tersebut, Umar terlihat mendapatkan kain yang lebih besar dari yang lainnya meskipun memang badan Umar juga besar dan jika hanya mendapatkan kain dengan ukuran yang sama dengan yang lain, maka kain tersebut tidak akan cukup untuk Umar. Padahal, semua kaum muslimin berbodnong-bondong ke sana dan menyaksikannya. Inilah awal mula kisah teladan sahabat nabi semakin menarik untuk disimak.

Keheraran Umar saat Khutbah

Pada suatu Jumat, setelah acara pemberian kain tersebut, Umar berkhutbah di hadapan kaum muslimin. Namun, kisah teladan sahabat nabi ini semakin menarik saat kaum muslimin tak antusias menyambut khotbah Umar yang berapi-api seperti biasanya. Umarpun terheran-heran namun tetap melanjutkan khutbahnya hingga selesai. Setelah selesai, barulah Umar bertanya  kepada kaum muslimin tentang sikapnya yang aneh. Salah seorang kaum muslimin kemudian menjelaskan bahwa mereka curiga bahwa Umar mendapat jatah kain yang lebih besar dibanding yang lainnya. Umarpun tersenyum dan menjelaskannya.

Kesaksian dari Anak Umar

Untuk menjelaskan kepada kaum muslimin, Umar kemudian memanggil anaknya yang bernama Abdullah untuk memberi kesaksian. Kemudian, Umar menyuruh anaknya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam kisah teladan sahabat nabi Muhammad ini. Abdullah mengatakan bahwa kain yang menjadi bagiannya diserahkan kepada ayahnya supaya kain yang diterima Umar cukup untuk menutup aurat. Memang, Umar memiliki badan yang besar dan kekar sehingga membutuhkan kain yang besar sebagai pakaiannya. Jadi, tak heran jika anaknya meberikan jatah kainnya untuk sang ayah. Jadi, pada kisah teladan sahabat nabi ini bisa dikatalan bahwa sebenarnya Umar tetap mendapatkan jatah kain yang sama dengan kaum muslimin lainnya.

Setelah mendengar penjelasan dari Umar serta kesaksian dari anaknya, seluruh kaum muslimin tertunduk dan meminta maaf kepada Umar karena mereka telah berprasangka buruk kepadanya. Dari kisah teladan sahabat nabi ini, Umarpun tak sungkan untuk memaafkan semua kaum muslimin yang telah berprasangka buruk padanya. Setelah kejadian ini, kaum muslimin kembali bersemangat saat mendengarkan khutbah Umar. Merekapun selalu percaya dengan kejujuran Umar dalam memimpin mereka secara adil.

Hikmah yang Bisa Diambil

Dari kisah teladan sahabat nabi di atas, kita bisa mengambil 2 pelajaran penting. Pertama, untuk menjadi pemimpin maka haruslah selalu berbuat adil kepada siapapun tanpa pilih kasih, termasuk kepada dirinya sendiri. Kedua, kita sebagai kaum muslimin hendaknya tidak boleh berburuk sangka jika kita tidak tahu yang sebenarnya karena buruk sangka adalah penyakit hati. Jadi, selalu bersikap adil dan berprasangka baiklah setiap saat.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!