Kisah Islami Mencerahkan Tentang Petuah “Walaa tasta’jilu”

0
531

Seorang muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah haruslah bisa menghadapi banyak hal pelik dengan kepala dingin, penuh kesabaran dan tidak tergesa-gesa. Itulah yang sebuah nasihat manfaat yang ingin kami sampaikan pada artikel kali ini. Petuah walaa tasta’jilu dalam satu riwayat hadits yang menceritakan tentang pentingnya sikap sabar dan tidak tergesa-gesa. Yuk mari kita simak!

Kisah tentang sabar dan tidak tergesa-gesa

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبُو هِلاَلٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، أَنَّ رَجُلاً تُوُفِّيَ وَتَرَكَ ابْنًا لَهُ وَمَوْلًى لَهُ، فَأَوْصَى مَوْلاَهُ بِابْنِهِ، فَلَمْ يَأْلُوهُ حَتَّى أَدْرَكَ وَزَوَّجَهُ، فَقَالَ لَهُ‏:‏ جَهَّزْنِي أَطْلُبِ الْعِلْمَ، فَجَهَّزَهُ، فَأَتَى عَالِمًا فَسَأَلَهُ، فَقَالَ‏:‏ إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَنْطَلِقَ فَقُلْ لِي أُعَلِّمْكَ، فَقَالَ‏:‏ حَضَرَ مِنِّي الْخُرُوجُ فَعَلِّمْنِي، فَقَالَ‏:‏ اتَّقِ اللَّهَ وَاصْبِرْ، وَلاَ تَسْتَعْجِلْ‏.‏ قَالَ الْحَسَنُ‏:‏ فِي هَذَا الْخَيْرُ كُلُّهُ، فَجَاءَ وَلاَ يَكَادُ يَنْسَاهُنَّ، إِنَّمَا هُنَّ ثَلاَثٌ، فَلَمَّا جَاءَ أَهْلَهُ نَزَلَ عَنْ رَاحِلَتِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ الدَّارَ إِذَا هُوَ بِرَجُلٍ نَائِمٍ مُتَرَاخٍ عَنِ الْمَرْأَةِ، وَإِذَا امْرَأَتُهُ نَائِمَةٌ، قَالَ‏:‏ وَاللَّهِ مَا أُرِيدُ مَا أَنْتَظِرُ بِهَذَا‏؟‏ فَرَجَعَ إِلَى رَاحِلَتِهِ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَأْخُذَ السَّيْفَ قَالَ‏:‏ اتَّقِ اللَّهَ وَاصْبِرْ، وَلاَ تَسْتَعْجِلْ‏.‏ فَرَجَعَ، فَلَمَّا قَامَ عَلَى رَأْسِهِ قَالَ‏:‏ مَا أَنْتَظِرُ بِهَذَا شَيْئًا، فَرَجَعَ إِلَى رَاحِلَتِهِ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَأْخُذَ سَيْفَهُ ذَكَرَهُ، فَرَجَعَ إِلَيْهِ، فَلَمَّا قَامَ عَلَى رَأْسِهِ اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ، فَلَمَّا رَآهُ وَثَبَ إِلَيْهِ فَعَانَقَهُ وَقَبَّلَهُ، وَسَاءَلَهُ قَالَ‏:‏ مَا أَصَبْتَ بَعْدِي‏؟‏ قَالَ‏:‏ أَصَبْتُ وَاللَّهِ بَعْدَكَ خَيْرًا كَثِيرًا، أَصَبْتُ وَاللَّهِ بَعْدَكَ‏:‏ أَنِّي مَشَيْتُ اللَّيْلَةَ بَيْنَ السَّيْفِ وَبَيْنَ رَأْسِكَ ثَلاَثَ مِرَارٍ، فَحَجَزَنِي مَا أَصَبْتُ مِنَ الْعِلْمِ عَنْ قَتْلِكَ

Dikisahkan dari hadits Bab Al Adab Al Mufrad diatas bahwasanya dulu ada seorang ayah yang meninggal dengan meninggalkan seorang anak dan mawla (budak). Sebelum meninggal sang ayah memberi wasiat dan menitipkan anak laki-lakinya kepada budak itu untuk dirawat. Setelah kepergian sang ayah, budak itu terus merawat anak tersebut hingga dewasa dan beristri. Hingga suatu ketika dia hendak menuntut ilmu bersama seorang alim yang ditemuinya.

Anak lelaki yang sudah dewasa itu sangat bersemangat dan seolah ingin cepat ikut orang alim tersebut untuk belajar. Melihat hal itu, orang alim itu kemudian memberikan nasihat baik (اتَّقِ اللَّهَ وَاصْبِرْ، وَلاَ تَسْتَعْجِلْ) bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, dan jangan tergesa-gesa. Kemudian sang anak lelaki yang sudah dewasa itu berangkat untuk menuntut ilmu. Dan nasihat wala tasta’jilu itu terus melekat hingga mendarah daging pada hati sanubarinya.

Hingga akhirnya hari demi hari berlalu hingga akhirnya dia kembali pulang ke kediamannya. Dia ingin menemui budak yang dulu merawatnya dengan baik. Ketika dia sampai di kediamannya, dia menemuinya sedang tertidur disamping seorang wanita. Melihat kelakuan tersebut dia bergumam pada dirinya sendiri “demi Allah aku tidak bisa menunggu untuk membunuhnya” – hingga dia keluar menuju untanya untuk mengambil sebilah pedang.

Ketika dia sampai untuk mengambil pedang. Dia ingat nasihat dari sang alim agar bertaqwa, sabar dan tidak tergesa-gesa. Lalu dia mengurungkan niyatnya dan kembali masuk. Hal ini terjadi berulang-ulang. Sang anak laki-laki yang sudah dewasa itu mondar-mandir diantara tempat tidur dimana dia melihat budaknya bersama seorang wanita dan pedang yang tergolek disamping untanya. Hingga akhirnya budak tersebut terbangun dan melihatnya.

Begitu bahagia budak yang telah merawat anak itu hingga dewasa ketika melihatnya kembali setelah sekian lama. Dia memeluk dan mengusapnya bagaikan anaknya sendiri. Budak itu kemudian bertanya “apa yang engkau lakukan ketika pergi?” – anak laki-laki itu menjawab “sungguh aku telah mendapatkan banyak kebaikan ketika aku pergi, aku telah berjalan diantara pedang dan kamu sebanyak 3 kali, dan kebaikan itu telah menghalangiku untuk membunuhmu” – Dijelaskan dalam keterangan hadits tersebut bahwa Budak itu ternyata masih Mahrom dengan wanita tersebut.

Apa yang bisa kita ambil dari kisah ini?

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari cerita singkat ini. Yang pasti adalah sebagai orang beriman dan islam. Kita harus senantiasa bertaqwa kepada Allah. Wujud perilaku itu adalah dengan membiasakan sabar dan tidak tergesa-gesa. Termasuk dalam konteks ini adalah tidak tergesa dalam menghukumi orang lain. Menjadi lebih luas pandangannya dalam banyak hal. Kita perlu mendengarkan orang lain dan tidak mengedepankan ego. Kerena apa yang kita percaya benar belum tentu benar. Semoga memberi manfaat!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!